Da Nang menjalani lockdown ketat di bulan Juli 2020, ketika menjadi pusat penularan gelombang kedua. Namun, tes besar-besaran dan pemberlakukan pengetatan pergerakan warga telah membuat keadaan bisa dikendalikan.
Tú Anh mengatakan, kota tersebut relatif normal selama enam bulan mulai akhir tahun lalu sampai sekitar bulan April 2021.
Dia bahkan bisa berlibur di beberapa tempat di Vietnam.
Tetapi Tú Anh mengatakan, lockdown yang diberlakukan di Da Nang saat ini 'sangat ketat" dan situasi di Ho Chi Minh City menunjukkan kepada warga betapa berbahayanya situasi saat ini.
"Daripada protes dan mengeluh, warga tampaknya mengikuti saja apa yang diputuskan pemerintah," katanya.
Tú Anh mengatakan selama lockdown tahun lalu dia masih bisa keluar rumah untuk beberapa alasan, termasuk mengunjungi orang tuanya.
Tetapi sekarang warga tidak bisa meninggalkan rumah sama sekali, bahkan untuk belanja kebutuhan pokok.
Pemerintah sudah mengerahkan relawan untuk mengantar bahan makanan dan ke rumah-rumah warga.
"Makanan pada awalnya tidak cukup, tapi setelah seminggu, semuanya mulai membaik sesuai dengan harapan banyak orang," kata Tu Anh.
Baca Juga: Anggaran Pakaian Dinas Bima Arya dan Dedie Jadi Sorotan, Nilainya Mencapai Rp 322 Juta
Pemerintahan setempat memberi bantuan biaya hidup kepada warga lokal yang mengalami lockdown di Da Nang sebesar Rp25 ribu sehari.
Statistik resmi menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen angkatan kerja Vietnam bekerja di sektor informal, sehingga bekerja dari rumah adalah hal yang tidak mungkin dilakukan.
Thang*, yang tinggal sekitar 60 km dari Ho Chi Minh City mengatakan sistem tunjangan sosial di negaranya 'sangatlah lemah".
"Jadi kalau Anda bekerja di sektor informal, Anda tidak mendapat banyak dukungan dari pemerintah," kata Thang.
"Bagi mereka yang hidup di lapisan paling bawah dalam masyarakat, seperti buruh pabrik atau mereka yang bekerja di sektor informal, keadaan ini sangatlah buruk."
Tú Anh mengatakan akan ada banyak orang yang tidak memiliki bahan makanan cukup untuk bertahan hidup.
Berita Terkait
-
Anggaran Pakaian Dinas Bima Arya dan Dedie Jadi Sorotan, Nilainya Mencapai Rp 322 Juta
-
Formappi: DPR Gagal Hadir Bantu Rakyat Hadapi Pandemi Covid-19
-
Suster, Bolehkah Aku Bunuh Diri? Pandemi Ancam Kesehatan Jiwa Warga
-
CEK FAKTA: Rakyat Australia Demo Melawan Rencana New World Order?
-
Satgas Akui Data Pandemi Covid-19 di Indonesia Masih Bermasalah
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 5 HP Murah RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan di Akhir Maret 2026
- Harga Mobil BYD per Maret 2026: Mulai Rp199 Jutaan, Ini Daftar Lengkapnya
Pilihan
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
Terkini
-
Polemik Status Tahanan Rumah Gus Yaqut, Tersangka Korupsi Dapat Perlakuan Istimewa dari KPK?
-
Seskab Ungkap Detik-detik Prabowo Ingin Lihat Warga di Bantaran Rel: Dadakan Ingin Menyamar
-
Tanpa Lencana Presiden, Prabowo Santai Sapa Warga di Bantaran Rel Senen, Janjikan Hunian Layak
-
Eks Pejabat Keamanan AS: Eropa Hati-hati, Rudal Iran Bisa Capai Paris
-
Serangan Iran ke Israel Berlanjut: Puluhan Warga Jadi Korban, Sirene Terus Meraung
-
Iran: Ada Negara Arab yang Mau Bantu AS Kuasai Pulau Kharg
-
Belajar dari Perang ASIsrael vs Iran, Indonesia Harus Perkuat 'Character Building' dan Perang Siber
-
Remaja 20 Tahun Gugat Meta dan Youtube Gegara Kecanduan Sosmed, Dapat Ganti Rugi Rp90 M
-
Senator AS Curigai Trump di Kasus Trader Misterius yang Raup Rp800 M dalam 15 Menit
-
Geger! Niat Cari Kepiting, Nelayan di Jambi Malah Temukan Kerangka Manusia Setinggi 155 Sentimeter