Suara.com - Garuda Pancasila merupakan salah satu lagu wajib nasional yang hampir seluruh masyarakat Indonesia hafal atau paling tidak, pernah mendengarkan.
Beberapa sumber menyebut, lagu Garuda Pancasila digubah pada tahun 1956 oleh seorang seniman bernama Sudharnoto.
Sudharnoto yang lahir di Kendal pada 24 Oktober 1925 tersebut pernah menjadi anggota pimpinan pusat dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).
Lekra sendiri sering disebut sebagai sebuah organisasi kebudayaan yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Begitu PKI ditumpas pada masa itu, beberapa anggota atau pengurus Lekra pun ikut diciduk. Sudharnoto salah satunya. Ia ditangkap dan berstatus tahanan politik di rutan khusus Salemba.
Karena statusnya yang terkait dengan Lekra, Sudharnoto juga harus kehilangan pekerjaan. Ia dipecat dari RRI pada tahun 1965.
Seniman Lekra lain ciptakan lagu Genjer-Genjer
M Arif, seniman Banyuwangi yang kemudian bergabung dengan Lekra, selama ini disebut sebagai pencipta lagu Genjer-Genjer.
Genjer-genjer yang diciptakan pada 1943 merupakan bentuk sindiran pada kemiskinan yang dialami rakyat Indonesia di masa penjajahan Jepang.
Baca Juga: Viral Pria Sebut Polisi 'PKI' di Pos Penyekatan, Kartu Identitasnya Berjibun
Lagu tersebut kemudian dianggap terlarang karena dicurigai terkait dengan peristiwa Lubang Buaya. Begitu juga dengan sang penggubah yang tak diketahui secara pasti nasib dan keberadaannya pasca G30S.
Beda nasib Garuda Pancasila dan Genjer-Genjer
Meskipun sama-sama digubah oleh seniman yang bernaung di Lekra, ternyata nasib lagu Garuda Pancasila lebih baik daripada Genjer-Genjer.
Hal yang membuat Genjer-Genjer terlarang dinyanyikan bukan hanya karena diciptakan seniman Lekra. Lebih-lebih lagu tersebut jadi terlarang karena dikaitkan dengan PKI.
Hingga saat ini lagu Genjer-Genjer tetap tak boleh dinyanyikan karena stigma PKI yang telah melekat erat.
Meskipun diciptakan oleh seniman Lekra juga, lagu Garuda Pancasila bernasib baik. Dinyanyikan sebagai lagu wajib nasional hingga saat ini.
Berita Terkait
-
Sering Diucapkan, Begini Sejarah Bhinneka Tunggal Ika
-
Arti Lambang Pancasila dan Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-Hari
-
Parto Mabuk Rusak Belasan Mobil dan 4 Berita Viral Lainnya
-
Viral! Lelaki di Malaysia Maki-maki Jokowi, Kaitkan Covid-19 di Aceh dan PKI
-
Viral Pria Sebut Polisi 'PKI' di Pos Penyekatan, Kartu Identitasnya Berjibun
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Kronologi Begal Kertapati: 2 Pelaku Bawa Parang, Kejar Korban hingga Berujung Maut
-
Sering Dianggap Cuma Kelelahan, Katup Jantung Bocor Bisa Ditangani Tanpa Operasi Terbuka
-
Korupsi KUR BSI Rp9,5 Miliar di OKI, Uang Pengganti 3 Terdakwa Tembus Rp9 Miliar
-
Buaya Muara 3 Meter Mendadak Muncul di Pantai Pasir Putih Cihara
-
Tenis Meja Indonesia Bidik 8 Besar di Asian Games 2026
-
Gempa NTT, PDIP Kirim Bantuan Khusus untuk Ibu Hamil dan Anak
-
Diisukan Ada OTT KPK, Begini Kondisi Kompleks Pemkab Bogor Malam Ini
-
Yasonna Laoly Dukung Kewarganegaraan Ganda Terbatas Usulan Prabowo: Demi Kepentingan Nasional
-
Purbaya: Pembatasan Subsidi BBM Hemat Anggaran 10 Persen
-
Sudah Beroperasi Tanpa Tarif, Tol Betung-Tempino-Jambi Seksi Bayung Lencir-Pijoan Segera Bertarif