Suara.com - Minggu (15/8/2021) menjadi hari bersejarah bagi warga Afghanistan, khususnya para pejuang Taliban. Hari itu, mereka berhasil merebut ibu kota Kabul dan menjadi tanda berakhirnya perang dengan Amerika Serikat selama 20 tahun.
Pemerintah Presiden Ashraf Ghani yang didukung AS dan sekutu barat bahkan memilih kabur ke luar negeri setelah para pejuang Taliban menguasai ibu kota dan istana presiden. Ribuan warga yang ketakutan membanjiri jalanan dan bandara Kabul, mencoba berusaha keluar dari negara itu.
Pesatnya kekuasan Taliban tak lepas dari keputusan AS menarik seluruh pasukannya di Afghanistan. Kondisi itu menjadikan, pemerintah Afghanistan menjadi 'lemah' dalam menangkal kekuatan Taliban.
Melansir laman VOA Indonesia, Rabu (18/8/2021), setelah AS cabut dari Afghanistan, China menyatakan siap untuk memajukan hubungannya dengan Taliban, namun sejumlah pakar kebijakan luar negeri menilai Beijing tetap khawatir atas hal yang dapat terjadi selanjutnya.
Mereka juga berpandangan negara di Asia Timur itu kemungkinan tidak mencurahkan komitmen terkait keamanan dan ekonomi yang luas ke Afghanistan dalam waktu dekat.
Menteri Luar Negeri Antony Blinken pada Senin (17/8) berbicara dengan Penasihat Negara dan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi mengenai perkembangan di Afghanistan. Departemen Luar Negeri menyatakan keduanya membahas situasi keamanan dan upaya masing-masing negara untuk membawa warganya ke tempat yang aman.
“China tetap berhubungan dan berkomunikasi dengan Taliban Afghanistan atas dasar menghormati sepenuhnya kedaulatan Afghanistan dan kehendak semua pihak di negara itu dan memainkan peran konstruktif dalam mencari solusi politik untuk masalah Afghanistan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying hari Senin dalam jumpa pers.
Pernyataan Hua itu dinilai sebagai indikasi terbaru bahwa China meletakkan dasar untuk mendukung Taliban sebagai pemerintah yang sah di Afghanistan.
Pada 28 Juli 2021, Wang Yi bertemu dengan kepala politik Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar di Tianjin. China berharap Taliban Afghanistan akan “bersatu dengan berbagai partai politik dan kelompok etnis untuk membentuk struktur politik yang luas dan inklusif.”
Baca Juga: Mantan Narapidana Abdul Ghani Baradar Bakal Pimpin Emirat Islam Afganistan
Taliban mengungkapkan harapannya untuk mengembangkan hubungan baik dengan China dalam pembangunan kembali Afghanistan dan tidak akan pernah membiarkan pasukan mana pun menggunakan wilayah Afghanistan untuk menyakiti China, menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying, Senin (17/8).
Meski menyambut baik sikap Taliban, Beijing juga khawatir tentang potensi dampak negatif pada keamanan dan ekonomi setelah penarikan pasukan AS, menurut Andrew Small, peneliti senior dari German Marshall Fund of the United States.
AS, China, Rusia dan Pakistan, bersama-sama menyatakan tidak mendukung pembentukan pemerintahan Afghanistan dari mana pun yang “dilakukan secara paksa.”
Keempat negara itu merupakan anggota dari kelompok yang disebut Extended Troika on Peaceful Settlement di Afghanistan.
Sebagian pengamat regional menguraikan Washington dan Beijing berkepentingan bagi penyelesaian politik secara damai di Afghanistan. Namun, Small menjelaskan AS dan China secara relatif, jarang "bekerja sama denga erat selama dekade terakhir" karenakedua negara terus mengarah pada hubungan persaingan.
Analis lainnya termasuk Seth Jones, direktur Program Keamanan Internasional di Pusat Studi Strategis dan Internasional yang berbasis di Washington DC skeptis tentang kerjasama substansial AS-China di Afghanistan karena "tepat berada di tengah-tengah" Belt and Road Initiative (Inisiatif Sabuk dan Jalan) Beijing. (Sumber: VOA Indonesia)
Berita Terkait
-
Mantan Narapidana Abdul Ghani Baradar Bakal Pimpin Emirat Islam Afganistan
-
Konflik Afghanistan, WHO Ingatkan Layanan Kesehatan Harus Tetap Berjalan
-
Mantan Presiden Uni Soviet: Invasi Militer AS dan NATO Sudah Gagal Sejak Awal
-
Viral Video Taliban Bermain Komidi Putar hingga Bom-bom Car Sambil Bawa Senjata
-
Terjebak di Kabul, Atlet Afghanistan Minta Bantuan agar Bisa ke Paralimpiade Tokyo
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 HP Redmi Memori 256 GB dan Kamera Jernih Harga Rp1 Jutaan, Cocok untuk Multitasking
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Jalan Santai Cocoknya Pakai Sepatu Apa? Ini 6 Produk Lokal yang Nyaman Buat 17 Agustusan
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Bukan Sekadar Teknologi, Generative AI Mulai Mengubah Cara Orang Indonesia Membuat Film
-
Bukan Cuma Kerja di Kapal, Ini Luasnya Peluang Karier di Industri Maritim
-
Trump Nyinyir, Prabowo Optimis: Masa Depan Kendaraan Listrik Jadi Ajang Tarik Ulur
-
Maut di Balik Secangkir Kopi di Pasuruan: Motif Nenek Nurami Dibunuh Saudara Jauh
-
Sisi Gelap Sound Horeg Agustusan: Antara Cuan Gacor dan Panci yang Ikut Bergetar
-
Makna dan Sejarah Hari Pramuka di Indonesia, Siapa Penggagasnya?
-
Kepala Lapas Gobah Pekanbaru Dicopot Imbas Napi Kasus Narkoba Kabur
-
Di Daerah Ini Kemiskinan Menyusut ke 6,54 Persen, Namun Ketimpangan Kian Melebar
-
Kebakaran Hebat Gunung Bromo Diduga karena Api Unggun
-
7 Tips Akuarium Pembawa Hoki dan Kemakmuran Menurut Feng Shui, Perhatikan Jumlah Ikan