"Kami tidak ingin pasukan asing akan mengulangi kembali kegagalan mereka di Afghanistan," ujar Naeem.
Lebih dari 60 negara telah mengeluarkan pernyataan bersama, mendesak semua pihak di Afghanistan untuk menghormati dan memfasilitasi kepergian warga asing dan warga setempat yang ingin ke negara lain.
Pernyataan bersama ini meminta jalan raya, bandara dan perbatasan negara harus tetap dibuka dan ketenangan tetap dijaga.
'Taliban Baik' dan 'Taliban Jahat'
Bagi Presiden AS Joe Biden, permasalahan Afghanistan sekarang harus diselesaikan oleh orang Afghanistan sendiri.
Menurut analisis Stan Grant, ini merupakan strategi keluar yang didasarkan atas tujuan untuk memisahkan "Taliban yang baik" dari "Taliban yang buruk".
"Saya pertama kali mendengar ungkapan ini beberapa tahun lalu ketika mewawancarai Menteri Luar Negeri Pakistan, Shah Mahmood Qureshi, di Islamabad," jelas Stan.
Menlu Pakistan menyebut "Taliban yang baik" berada di Afghanistan dan berkomitmen untuk berbagi kekuasaan
Sedangkan "Taliban jahat" adalah para preman pembunuh yang kemudian mengamuk di seluruh Pakistan, membunuh warga sipil dan mengancam akan menggulingkan pemerintah Pakistan.
Amerika Serikat sendiri percaya "Taliban yang baik" dapat diyakinkan untuk melakukan perjanjian pembagian kekuasaan dengan Pemerintah Afghanistan.
Baca Juga: Penemuan Beberapa Mayat Dalam Ruang Roda Pesawat AS yang Terbang dari Kabul
Namun, pembicaraan tersebut terhenti. Taliban tidak menerima legitimasi Presiden Afghanistan Ashraf Ghani.
Politik dengan pertumpahan darah
Petinggi militer Pakistan, Mayjen Ehsan Mahmood Khan beberapa tahun lalu mendefinisikan apa yang disebutnya "perang Taliban". Yaitu, politik dengan pertumpahan darah.
Ia menjelaskan bahwa Taliban mengobarkan perang gagasan, "ideologi versus ideologi - ideologi Islam versus ideologi pemikiran Barat".
Yaitu tentang menjungkirbalikkan konsep "negara bangsa". Ini tidak ada hubungannya dengan demokrasi atau pembagian kekuasaan.
Seperti yang dikatakan Mayjen Ehsan, Taliban memiliki "pandangan strategis besar yang bertujuan merebut legitimasi, kredibilitas, dan kekuasaan politik dan moral, baik dengan cara kekerasan maupun tanpa kekerasan".
Taliban mengeksploitasi pemerintahan sipil yang lemah, korup, tidak kompeten, yang mengecewakan rakyatnya.
Tentu saja, dengan cepat menjadi kekuatan penguasa yang brutal, kejam, membunuh lawan, memerintahkan wanita tinggal di rumah, melarang musik dan melakukan hukuman publik.
Kelompok ini memberi perlindungan bagi kelompok-kelompok Islam seperti Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden yang kemudian merencanakan serangan teror 11 September di Amerika Serikat.
Setelah digulingkan oleh pasukan AS melalui invasi pada tahun 2001, Taliban tetap bertahan, bahkan menjadi "pemerintah bayangan", dan memainkan permainan panjang perang yang berlarut-larut.
Ada unsur etno-nasionalisme di kalangan Taliban. Itu muncul dari mayoritas etnis Pashtun yang dominan.
Identitas etnis dan keyakinan agama membentuk inti identitas Taliban. Kode sosial Pashtun, kata Mayjen Ehsan, dikombinasikan dengan jihad membentuk "ideologi perang yang tangguh".
Ketika Taliban mengambil alih kekuasaan, mereka mengeksekusi ratusan etnis minoritas lainnya. Hal yang sama harus ditakuti sekarang.
Kembalinya Taliban tidak mengejutkan
Taliban bukan organisasi teror transnasional seperti Al Qaeda atau ISIS. Mereka berusaha untuk memerintah di Afghanistan.
Namun mereka memisahkan diri dari kelompok nasionalis Pashtun sekuler lainnya.
Taliban bersekutu dengan kelompok-kelompok Islamis global lainnya yang berusaha untuk mendirikan kesatuan kolektif umat Islam yang terikat oleh iman bukan oleh bendera nasional.
Dikhawatirkan kembalinya kekuatan Taliban akan kembali memberikan perlindungan kepada kelompok lain termasuk Al Qaeda dan ISIS.
Tidak ada hal yang mengejutkan dalam kembalinya Taliban berkuasa di Afghanistan sekarang.
Kepergian pasukan asing selalu menjadi pintu terbuka. Pemerintah dan militer Afganistan, meski pun telah mendapatkan pelatihan dan dana puluhan miliar dolar – hanya menjadi hambatan kecil bagi Taliban.
Taliban telah bertahan, membangun kembali kekuatan, tetap eksis meski tokoh-tokoh utamanya terbunuh.
Mereka mempertahankan basis di Pakistan dan mendapatkan dukungan dari dalam militer dan intelijen Pakistan - meski pun hal ini dibantah.
Lalu apa batas antara "Taliban yang baik" dan "Taliban yang buruk" sekarang?
Yang kita saksikan hanyalah pasukan bersenjata Taliban dan bergerak cepat ke ibukota Afghanistan, Kabul. Ini telah memicu setengah juta orang untuk mengungsi.
Mereka sedang menuju perbatasan dengan negara lain. Sebagian besar perbatasan itu sekarang berada di bawah kekuasaan Taliban.
Bahkan wilayah utara — yang secara tradisional merupakan daerah perlawanan anti-Taliban — telah jatuh dengan cepat.
Dua puluh tahun Koalisi Barat berperang di Afghanistan, hanya untuk menyaksikan kembalinya Pemerintahan Taliban sekarang.
Seperti pepatah yang mereka katakan: "Anda punya jam arloji, kami punya waktu".
Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News dan berbagai sumber
Berita Terkait
-
Penemuan Beberapa Mayat Dalam Ruang Roda Pesawat AS yang Terbang dari Kabul
-
Ogah Bahas dan Analisa Pergerakan Taliban, Tokoh NU Gus Umar: Mending Dangdutan Saja
-
4 Janji Manis Taliban, Mulai Hak Perempuan hingga Kebebasan Pers
-
Setelah Dikuasai Taliban, Begini Kondisi Perekonomian Afghanistan
-
Pemerintah RI Matangkan Rencana Evakuasi WNI dari Afghanistan
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- PJJ Jakarta 18 Agustus 2026 Besok: Berlaku untuk Sekolah Negeri-Swasta, ASN Boleh WFH 50 Persen
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Lulus S2 di Semarang, WN Afghanistan Malah Dideportasi Gara-Gara Bikin Restoran
-
Tolic Wanti-wanti Rival: Ketika Semua Menyatu, Persib Bakal Jadi Tim Luar Biasa
-
Cari Bibit Unggul, Ratu Tisha Puji Festival Sepak Bola Rakyat di 5 Kota
-
Investor Asing Bawa Kabur Dana Rp488,49 Miliar, ISAT dan ANTM Banyak Dijual
-
Masa TNI Disuruh Masak?: Gatot Nurmantyo Kritik Masifnya Militer di Program MBG dan Kopdes
-
Lahir di Tengah Cuaca Panas Ekstrem, Bayi Gajah Sumatera di Padang Sugihan Dapat Perawatan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Bukan Modifikasi Cuaca, BMKG Jelaskan Penyebab Hujan yang Guyur Jakarta Hari Ini
-
Ulasan Novel Halaman Terakhir, Ketika Kekuasaan Dapat Membungkam Keadilan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan