Suara.com - Mantan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan membantah perjuangannya bersama 57 pegawai melawan pemecatan oleh Firli Bahuri Cs semata-mata karena mempertahankan gaji.
Novel menegaskan, satu-satunya tujuan perlawanan para pegawai KPK yang dipecat agar lembaga tersebut mampu menunjukkan 'taring' memberantas korupsi.
"Gaji di KPK lumayanlah ya. Kalau dibilang besar, ya ada beberapa lembaga lain yang lebih besar. Saya kira kalau dibandingkan pejabat pajak, ya masih besaran mereka. Dengan anggota DPR juga lebih besar mereka. Pejabat BUMN? ya kami sangat jauh," kata Novel dalam wawancara ekslusif yang terdokumentasikan dalam video G30S/TWK Operasi 'Membunuh' KPK.
Dalam video dokumenter yang dirilis Suara.com, Kamis (30/9/2021) itu, Novel mengatakan, jumlah praktik korupsi di Indonesia itu sangat tinggi.
Secara tidak langsung, budaya korupsi itu berpengaruh ke banyak sektor, mulai dari demokratisasi, pembangunan, serta persepsi internasional.
Pada 2020 misalnya, kata dia, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia menurun hingga ke skor 37 dalam skala 0-100. Adapun 0 digunakan untuk level sangat korup dan skor 100 sangat bersih.
Praktik korupsi juga bakal berpengaruh pada investasi dan hal lainnya. Karena itu, Novel terus berjuang di KPK dengan segala teror yang diterimanya.
"Jadi, memperjuangkan yang ada di KPK bukan bicara soal gaji, ya," kata Novel
Dia mengungkapkan, banyak pegawai KPK yang dipecat Firli sebenarnya sudah memunyai gaji besar sebelum masuk ke lembaga antirasuah.
Baca Juga: Eks Pegawai KPK: Perekayasa TWK Memecat Kami 30 September agar Identik dengan Komunis
Dirinya sendiri, kata Novel, mengakui memiliki posisi yang bagus sebelum masuk KPK, yakni saat masih menjadi anggota di Bareskrim Polri.
Tetapi karena memiliki tekad memberantas korupsi, Novel serta pegawai lainnya lebih memilih untuk menjadi pegawai KPK.
Isu Novel Cs hanya bertujuan mempertahankan gaji gaji itu sempat tersiar saat 57 pegawai KPK melawan keputusan Firli yang memecat mereka dengan alasan tidak lulus tes wawasan kebangsaan atau TWK sebagai syarat dalam peralihan status pegawai menjadi aparatur sipil negara (ASN).
Pada kenyataanya, Novel serta 57 pegawai KPK malah disingkirkan di bawah kepimpinan Firli Bahuri.
"Sekarang yang terjadi, justru orang-orang yang mau disingkirkan dan kami meyakini bahwa ke depan berantas korupsinya juga akan semakin enggak jelas, semakin kurang, semakin lemah atau bahkan sekadarnya saja," kata dia.
Selain Novel, dalam video dokumenter G30S/TWK Operasi 'Membunuh' KPK, terdapat pengakuan eks pegawai KPK lain seperti Ita Khoiriyah, Tri Artining Putri, Harun Al Rasyid, Yudi Purnomo, dan Herbert Nababan.
Tag
Berita Terkait
-
Eks Pegawai KPK: Perekayasa TWK Memecat Kami 30 September agar Identik dengan Komunis
-
Novel Pertanyakan Komitmen Jokowi: Kita Mau Negara Maju atau Bikin Nyaman Koruptor?
-
Novel Baswedan: Pimpinan KPK Kok Malah Takut Sama Orang Berantas Korupsi, Lucu Kan?
-
Surat Pemecatan Penyidik KPK Lakso Anindito Baru Diteken Sehari Sebelum 30 September
-
Misi Indonesia Memanggil 57 Institute, Bentukan Novel Baswedan dkk usai Dipecat
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
-
Rambah Cempaka: Perempuan yang Bersemayam di Batu Lumpang
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
Terkini
-
NASA Siapkan ' Buruh Robot' Masa Depan: Kecerdasan Buatan dan Drone Bakal Bangun Pangkalan di Bulan
-
Jokowi 'Dilupakan' Tanpa Undangan, Hari Lahir Pancasila Jadi Panggung Keakraban Prabowo-Megawati
-
PDIP: Sikap Kritis adalah Cermin Cinta Tanah Air, Tak Bisa Dihadapi dengan Represi
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Hasto Soroti Pelemahan Rupiah dan Defisit Fiskal: Utang Dibayar dengan Utang
-
Khianati Gencatan Senjata AS, Penjajah Israel Minta Restu Bom Ibu Kota Lebanon
-
Kritik Keras Hasto PDIP di Hari Lahir Pancasila: APBN Mengkawatirkan, Utang Dibayar Pakai Utang!
-
Pasutri Pemilik WO di Jaktim Tipu Calon Pengantin, Modus Promo Murah di Instagram Terbongkar
-
Hari Lahir Pancasila, Bobby Nasution Tegaskan Pancasila Jadi Jawaban Tantangan Global
-
Prabowo dan Megawati Akrab di Gedung Pancasila: Saling Persilakan Jalan Berujung Gandengan dan Tawa