Suara.com - Herbert Nababan, 16 tahun menjadi penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi hingga masa bhaktinya berakhir pada Kamis (30/92021) Kemarin. Herbert telah dipecat bersama 57 pegawai lainnya yang tak lulus dalam Tes Wawasan kebangsaan/TWK.
Herbert mengaku masih sangat sakit hati atas sebutan tidak dapat dibina lagi karena mendapat rapor merah. Pernyataan itu disampaikan oleh Wakil Pimpinan KPK Alexander Marwata saat mengumumkan pegawai KPK yang lulus dan tidak lulus menjadi ASN di Badan Kepegawaian Negara (BKN).
"Masih sakit hati sampai sekarang, hati saya belum sembuh karena di stigma, dikatakan salah satu komisioner Alexander Marwata di BKN bahwa ada yang masih bisa dibina (pegawai KPK) dan ada yang tidak bisa dibina," ucap Herbert dalam wawancara eksklusif Suara.com yang terdokumentasikan dalam video G30S/TWK Operasi 'Membunuh' KPK.
Menurut Herbert, pernyataan yang disampaikan oleh Alex saat itu dihadapan publik cukup serius dan harus dipertanggungjawabkan sebagai pejabat negara. Dimana, telah menstigma pegawai KPK yang benar-benar memiliki integritas dalam pemberantasan korupsi.
"Saya tidak tahu apa dasarnya karena hal itu adalah hal yang serius. Itu bukan main-main, bukan perkataan candaan, itu sebuah perkataan yang serius," ujar Herbert.
Apalagi, Herbert bersama eks 57 pegawai KPK hingga kini pun belum mengetahui dasar pimpinan KPK maupun BKN melabelkan pegawai tak lulus TWK tidak bisa dibina dan mendapat rapor merah.
"Apa dasarnya kami tidak tahu. Karena sampai detik ini juga tidak hukuman yang kami terima. Bahwa kami tidak bisa dibina, apalagi kami di cap Merah tidak tahu apa dasarnya atau basis penilaiannya sehingga mengeluarkan perkataan seperti itu," tuturnya.
Herbert menyebut pengabdiannya selama 16 tahun sebagai penyidik KPK melakukan penangkapan sejumlah koruptor hingga mampu mengembalikan kerugian keuangan negara, ternyata pupus hanya duduk selama dua jam menjadi korban TWK dengan label tidak mencintai NKRI.
"Sudah banyak pelaku koruptor yang kami tangkap. Kemudian dengan dua jam saya dikatakan atau dilabel tidak pancasila, tidak bisa dibina, cap merah," imbuhnya.
Baca Juga: Pasca Pecat 58 Pegawai KPK, Novel Pastikan Firli Bahuri Tak Serius Ganyang Korupsi
Selain Herbert, dalam video dokumenter G30S/TWK Operasi 'Membunuh' KPK, terdapat pengakuan eks pegawai KPK lain seperti Ita Khoiriyah, Tri Artining Putri, Harun Al Rasyid, Yudi Purnomo, Herbert Nababan dan Novel Baswedan.
Dalam wawancara itu, mereka banyak mengungkap kejanggalan-kejanggalan seputar TWK, dan bagaimana sikap mereka setelah dipecat oleh Firli Cs. Tak hanya itu, mereka juga menilai pemilihan tanggal pemecatan, yakni 30 September 2021, adalah untuk menstigmatisasi mereka sebagai komunis.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Bintang-bintang Legendaris Liga Inggris akan Saling Berhadapan di GBK, Catat Waktunya
-
Yenti Garnasih Bongkar Indikasi TPPU Febrie dan Luruskan Istilah Kriminalisasi
-
Polisi Temukan Bukti Permulaan, Kasus Kematian Sutrimo Naik ke Tahap Penyidikan Pidana
-
Kita Cari! Bahar bin Smith Geruduk The Sounds Project Buru Pelaku Hafalan Quran Hadiah Miras
-
Konvoi Usai Menang Futsal Berujung Petaka, 9 Pelajar Diamankan Polisi di Solo
-
Polresta Cirebon Sita 6.964 Butir Obat Keras Ilegal, Tiga Pengedar Ditangkap
-
Kolaborasi Kampus dan Industri Dinilai Penting untuk Bangun Kota Berkelanjutan
-
Mahasiswa Tersangka Tabrak Lari di Bandung Mengemudi dalam Kondisi Mabuk
-
Kasus Hafalan Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Sound Project Dilimpahkan ke Polda Metro Jaya
-
Pelaku Pemerkosaan dan Pembunuhan di Tangerang Beraksi Saat Mabuk, Pintu Rumah Korban Tak Terkunci