News / Metropolitan
Rabu, 06 Oktober 2021 | 18:34 WIB
Dikepung Massa Gara-gara Protes Berisik, Toni: Istri Saya Ketakutan sampai Gemetar. Kediaman Hartono Prasetya alias Toni, terduga korban persekusi karena protes rumahnya kebisingan di Taman Permata Buana, Kembangan, Jakarta Barat. (Suara.com/Yaumal)

Emosi hingga Badan Gemetar

Karena menilai keadaan yang sudah tidak kondusif,  Toni  hanya berpikir bagaimana orang-orang tersebut meninggalkan rumahnya. Hingga akhirnya terjadi negosiasi, memutuskan melakukan pertemuan di Kantor Kelurahan keesokan harinya. 

“Saya terus terang gemetaran tahan marah, gemetaran kesal, emosi sekali,” imbuh Toni. 

Kediaman Hartono Prasetya alias Toni, terduga korban persekusi karena protes rumahnya kebisingan di Taman Permata Buana, Kembangan, Jakarta Barat. (Suara.com/Yaumal)

Namun setelah membubarkan diri, Toni mengaku mendapati informasi ada sejumlah tulisan di kardus yang berbunyi pesan memintanya untuk pergi dari tempat tinggalnya. 

“Usir Toni Dari Permata Buana,” bunyi tulisan itu.  Dan juga pesan, “Tinggal di Hutan Kalau Mau Sepi dan Tidak Mau Bersosialisasi dengan Tetangga dan Warga.” 

Atas peristiwa yang dialaminya Toni pun telah melapor ke Polres Metro Jakarta Barat,  dengan nomor laporan TBL/188/III/2021/PMJ/Restro Jakbar tertanggal 3 Maret 2021. 

Berkirim Surat ke Wali Kota Jakarta Barat

Sebelum kejadian itu, Toni mengaku,  dia bersama 9 orang warga lainnya berkirim surat ke Wali Kota Jakarta Barat, meminta agar arus lalu lintas di Jalan Pulau Panjang Blok C12, depan rumahnya di atur. Dia mengaku terganggu dengan banyaknya kendaraan yang melintas setiap hari. 

“Dengan Hormat, Kami warga di Jalan pulau Panjang, Taman Permata Buana, amat keberatan dengan pengaturan lalu lintas yang ada sekarang. Dengan pengaturan sekarang di jalan ini amat banyak kendaraan yang lewat.

Baca Juga: Polisi Tetapkan Kepala Satpam Kompleks di Kembangan Sebagai Tersangka Pungli

Kendaraan-kendaraan lewat di Jalan Pulau Panjang karena jalan-jalan yang lain, ada yang dijaga untuk menghadang kendaraan yang masuk atau ada yang diportal tak bisa dilalui sama sekali.

Sebagian besar, kendaraan baik roda dua, roda empat, truk pengangkut puing maupun truk pengangkut semen dan truk pengangkut beton, dilewatkan pada satu jalan ini.

Sehingga bagi kami yang tinggal di Jalan Pulau Panjang kadang sulit untuk keluarkan mobil, karena ramainya arus dari arah kiri dan kanan jalan. Untuk keamanan juga amat sulit terkontrol karena banyaknya kendaraan yang keluar masuk. Ditambah lagi pada musim pandemi ini banyak kendaraan sehingga kemungkinan penyebaran COVID-19 lebih besar.

Besar harapan kami Bapak Wali Kota dapat membantu menyelesaikan masalah di Jalan pulau Panjang. Untuk perhatian Bapak Wali Kota, kami ucapkan banyak-banyak terima kasih. Hormat Kami Warga di Jalan Pulau Panjang,” isu surat tersebut yang diperoleh Suara.com.

Setelah surat dikirimkannya, dan sebelum adanya dugaan persekusi itu, diakui Toni ada beberapa portal di Perumahan Taman  Permata Buana yang dibongkar. Dia pun dituding menjadi penyebab pembongkaran itu, karena ada beberapa RT yang bertanya kepadanya terkait hal tersebut. 

“Saya bingung, saya enggak pernah minta portal dibongkar,” kata dia. 

Saat dugaan persekusi itu terjadi, juga ada beberapa orang yang menuding menjadi biang kerok pembongkaran portal. 

Protes Rumah Keberisikan

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat Kompol Joko Dwi Harsono mengakui jika Toni sempat membuat laporan polisi atas adanya kejadian tersebut pada Maret 2021 lalu. Namun hingga kekinian pihaknya masih mendalami ada atau tidaknya unsur pidana di balik peristiwa tersebut.

"Ya kita objektif aja kalau memang belum dapet unsur pidananya ya kita belum bisa sampaikan status (hukumnya)," kata Joko kepada wartawan, Selasa (5/10/2021) malam.

Menurut Joko, peristiwa ini sendiri berawal ketika Toni protes ke RT, RW, Lurah, hingga Camat setempat karena rumahnya merasa kebisingan. Selanjutnya, pejabat setempat mencoba menemui Toni untuk berdiskusi atas protesnya itu. 

"Tapi orangnya nggak mau keluar pas didatangin mau di ajak diskusi, 'ini kenapa komplain? Kenapa gitu? Itu kan emang jalan umum'," tuturnya.

Berkenaan dengan itu, Joko mengaku belum menemukan adanya dugaan tindak pidana persekusi dalam peristiwa tersebut. 

"Soalnya wajar si tokohnya mau datang, pejabatnya mau datang kan mau konfirmasi apa yang mau di komplain? Tapi dia yang komplain sendiri nggak mau diajak keluar, nggak mau diajak diskusi," pungkasnya.

Load More