News / nasional
Dwi Bowo Raharjo | Muhammad Yasir
Ilustrasi hoaks, berita bohong (Pixabay)

Suara.com - Vokasi Universitas Indonesia menggelar pelatihan cek fakta berita kepada siswa SMA. Program Pengabdian Masyarakat atau Pengemas Vokasi UI ini digelar bersama dengan FactChecker UI dan SMAN 21 Jakarta.

Dosen Pengabdi dari Vokasi Humas UI, Devie Rahmawati, menyebut kegiatan bertajuk Smart Living, Health Living : Hidup Sehat Tanpa Hoax ini diikuti lebih dari 500 peserta secara daring. Tujuannya, sebagai upaya memerangi berita bohong atau hoaks.

"Kegiatan ini semakin dibutuhkan semenjak pandemi, karena masyarakat harus hidup di “dua alam”, yaitu offline dan online," kata Devie kepada wartawan, Minggu (10/10/2021).

Berdasar data Kementerian Komunikasi dan Informatika atau Kemenkominfo, Devie menyebut dalam periode Agustus 2018 hingga 30 September 2021, terdapat 9.025 kasus hoaks. Kasus tertinggi ialah hoaks terkait Kesehatan, yakni sebanyak 1.893.

Baca Juga: CEK FAKTA: Video Jokowi Joget di Tengah Kerumunan Tak Patuh Prokes di Papua, Benarkah?

Rumah warga terbakar akibat ulah sekelompok masyarakat yang mengamuk di Kabupaten Yahukimo, Papua, Minggu 3 Oktober 2021 [Kabarpapua.co]

"Penyebaran hoaks tidak dapat diabaikan, mengingat sedikitnya ada tiga dampak dari hoaks yaitu 3 K: Kerusuhan Sosial, Konflik Politik dan Kerugian Ekonomi," katanya.

Pembina Komunitas Mahasiswa Fact Checker UI itu menjelaskan salah satu contoh dampak bahaya hoaks ialah kasus kerusuhan di Yahukimo, Papua. Dimana kerusuhan yang disebabkan akibat hoaks soal penyebab kematian mantan Bupati Yahukimo Abock Busup itu menewaskan enam warga.

"Sedangkan hoaks perekonomian, yaitu investasi bodong yang disebarkan via online, menurut data OJK terbukti telah merugikan keuangan masyarakat lebih dari Rp100 triliun dalam periode tahun 2011–2020,” ungkapnya.

Sementara Pengabdi dari Vokasi Administrasi Perkantoran UI, Mila Viendyasari, mengemukakan alasan pihaknya menjadikan siswa sebagai peserta lantaran mayoritas anak muda memiliki kemampuan digital yang mempuni. Sehingga, kata dia, memudahkan pula proses transfer ilmu terkait cek fakta tersebut.

“Anak-anak muda, menjadi sasaran yang strategis, karena mereka memiliki kemampuan digital yang terkini, sehingga akan lebih mudah untuk mentransfer tambahan ilmu mengenai cek fakta dan berita,” pungkas Mila.

Baca Juga: Cek Fakta: Roy Kiyoshi Meninggal Dunia, Benarkah?

Komentar