Suara.com - Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bidang Politik dan Keamanan Negara Hermawan Sulistyo menceritakan bagaimana kondisi kepolisian saat terjadinya Bom Bali I pada 2002 silam. Ia menyebut kala itu kepolisian tidak memiliki anggaran untuk melakukan investigasi.
Hermawan menjelaskan, saat itu Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror belum terbentuk. Justru yang ada hanya unit bom di Mabes Polri dan di Polda Metro Jaya.
Selain itu, kepolisian juga belum memiliki anggaran yang mencukupi untuk mengusut pengeboman yang menewaskan 204 orang termasuk pelaku. Pasalnya, pada saat itu Polri baru berdiri sebagai lembaga sendiri setelah lepas dari TNI.
"Dengan polisi tidak punya kemampuan, tidak punya pengalaman untuk menangani bom seperti itu dan tidak punya uang," jelas Hermawan dalam diskusi virtual, Kamis (14/10/2021).
Posisi Hermawan saat itu tengah berada di dekat lokasi kejadian. Ia sendiri baru saja menyelesaikan penelitian soal kondisi kepolisian pasca lepas dari TNI.
Dengan memiliki ilmu pengetahuan soal bom dan teroris selama 25 tahun, awalnya Hermawan enggan ikut campur.
Namun prinsipnya itu lantas luntur setelah melihat banyaknya korban yang diakibatkan oleh Bom Bali I.
"Kemudian saya putuskan ini enggak bisa ini pertaruhannya bukan hanya bangsa tapi kemanusiaan. Karena kalau salah penanganan, Indonesia ambruk pasti," ujarnya.
Pada saat itu, ia mendapati para anggota polisi tidak memiliki uang yang cukup untuk melakukan investigasi.
Baca Juga: Cerita Hermawan Sulistyo di Malam Bom Bali Meledak, Saat Itu Polisi Belum Punya Pengalaman
Jangankan untuk bergerak dari satu titik kek titik lainnya. Untuk menggunakan ponsel pun mereka kesulitan lantaran tidak memiliki pulsa.
Sampai pada akhirnya ia berusaha untuk meminta kepada suatu perusahaan guna menyumbang Rp 100 juta. Uang itu diserahkannya kepada Kapolda Bali untuk melakukan investigasi.
Hermawan juga sempat meminta kepada direktur utama XL untuk mau menyumbangkan bantuan dalam bentuk pulsa bagi para anggota polisi berkomunikasi.
"Kita dapat 75 nomor baru dan sumbangan pulsa dipakai tiap hari. Itulah awal mula modal untuk investigasi polisi."
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
5 Cara Memilih Bedak yang Tepat untuk Kulit Kombinasi, Makeup Tetap Segar dan Bebas Cakey
-
Lawan Isu 'Dalang Kerusuhan' Demo Agustus, PDIP Gugat Zulfan Lindan dan Total Politik ke PN Jaksel
-
Mengubah Hidup Keluarga, Misi Mulia Mantri BRI di Pelosok Sumatera Utara
-
IHSG Lanjutkan Tren Positif di Awal Perdagangan, RANS Masih Diburu
-
Siap-siap BBM Naik Lagi, Harga Minyak Dunia Telah Melonjak 4 Hari
-
Mensos Gus Ipul: Setiap Siswa Sekolah Rakyat Berharga
-
Gus Ipul Buka MPLS Perdana Sekolah Rakyat Permanen di Sragen
-
Bom MAN 3 Padang: Bagaimana Bullying Bertahun-tahun dan Internet Ubah Pelajar Jadi Perakit Bom?
-
The Odyssey: Hadir dengan Tema Kesetiaan dan Perjalanan Heroik yang Epik!
-
Krisis Air Bersih! Warga Cilegon Jalan Kaki Demi Setetes Air