Suara.com - Direktur PT. Adonara Propertindo (PT. AP) Tommy Ardian, pemilik PT. AP Anja Runtunewe, dan Direktur PT. Aldira Berkah Abadi Rudi Hartono didakwa telah merugikan keuangan negara mencapai Rp 152.565.440.000.00 terkait kasus korupsi pengadaan lahan di Munjul, Jakarta Timur.
Dakwaan itu dibacakan Jaksa Penuntut Umum dari KPK di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Kamis (28/10/2021).
"Merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, sebesar Rp 152.565.440.000,00," kata jaksa dalam pembacaan dakwaan di PN Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis (28/10/2021).
Jaksa menyebut perbuatan ketiga terdakwa ini dalam korupsi lahan munjul dilakukan bersama bekas Direktur Utama Perumda Pembangunan Sarana Jaya, Yoory Corneles. Mereka juga terbukti memperkaya diri sendiri dalam perkara korupsi ini. Termasuk korporasi PT. Adonara Propertindo yang juga didakwa oleh jaksa.
"Telah melakukan atau turut serta melakukan beberapa perbuatan yang ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai suatu perbuatan berlanjut, secara melawan hukum," ucap jaksa dalam dakwaannya.
"Memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi sebesar Rp 152.565.440.000,00," tambahnya.
Jaksa menyebut, perolehan kerugian negara ratusan miliaran itu berdasarkan perhitungan tim auditor Badan Pengawas Keuangan Negara dan Pembangunan yang ditemukan terkait korupsi proyek pengadaan lahan di Munjul.
Di mana, pada tahun 2018 hingga 2020, Yoory Corneles untuk mendukung program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam hal penyediaan hunian terjangkau bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) melalui program Hunian DP 0 Rupiah.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membutuhkan sejumlah lahan tanah untuk keperluan program. Salah satunya tanah Munjul, Jakarta Timur.
Baca Juga: Kasus Korupsi Lahan Munjul, 3 Tersangka Segera Diadili di PN Jakarta Pusat
Bahwa untuk merealisasikan program tersebut pada tahun 2018 Yorry mengajukan usulan Penyertaan Modal kepada Gubernur DKI untuk dianggarkan pada APBD Pemprov DKI Jakarta Tahun 2019 sebesar Rp 1.803.750.000.000,00 dengan rencana penggunaannya antara lain untuk pembelian alat produksi baru, proyek “Hunian DP 0 Rupiah”, dan proyek Sentra Primer Tanah Abang.
Singkat cerita, Yoory pun menyampaikan kepada Tommy selaku Direktur PT. AP bahwa Perumda Sarana Jaya akan memperoleh Penyertaan Modal Daerah (PMD) yang digunakan dalam rangka pembelian tanah untuk melaksanakan program “Rumah DP 0 Rupiah”, yang rencana berlokasi di wilayah Jakarta Timur dengan syarat luas di atas lahan dua hektare, posisi di jalan besar, lebar muka bidang tanah 25 meter dan minimal row jalan sekitar 12 meter.
Lebih lanjut, kata jaksa, PT. AP merupakan perusahaan properti yang biasa membeli tanah dari masyarakat kemudian dijual lagi kepada Sarana Jaya. Sehingga atas informasi dari Yoory, Tommy pun perintahkan Anton Adisaputro selaku Manajer Operasional PT AP untuk mencarikan tanah sebagaimana kriteria yang disampaikan Yoory.
Hingga akhirnya terjadi kesepakatan untuk pembelian lahan munjul antara Yoory dan PT. AP hingga mencapai kesepakatan Rp 152.565.440.000,00 yang ditransfer ke rekening Anja Runtunewe.
"Bahwa uang pembayaran atas tanah Munjul yang diterima di rekening atas nama terdakwa II Anja Runtunewe tersebut, seluruhnya berjumlah Rp 152.565.440.000,00," imbuh jaksa.
Perbuatan para terdakwa merupakan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 3 jo Pasal 18 Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.
Berita Terkait
-
Kasus Korupsi Lahan Munjul, 3 Tersangka Segera Diadili di PN Jakarta Pusat
-
Terkuak di Sidang, Pengadaan Lahan Munjul Diusul Anies-Sandi buat Proyek Rumah DP 0 Persen
-
Terjerat Hukum, Pemprov DKI Tidak Lanjuti Proyek Rumah DP 0 Rupiah di Lahan Munjul
-
Sidang Kasus Lahan Munjul, Eks Dirut Perumda Jaya Didakwa Rugikan Negara Rp152 Miliar
-
Kasus Lahan Munjul, Hari Ini Eks Dirut Perumda Jaya Jalani Sidang Perdana
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
Terkini
-
Sambut Praja IPDN, Wamendagri Bima Arya Tekankan Fokus Pemulihan Permukiman Warga Aceh Tamiang
-
Sambut HUT PDIP ke-53, Atribut Soekarno Run 2026 Resmi Diluncurkan di GBK
-
Pramono Targetkan Inflasi Jakarta 2026 Jinakkan Angka Nasional
-
Polda Metro Bongkar Jaringan Perdagangan Anak di Jakarta Barat! Empat Balita Berhasil Diselamatkan
-
Timnas Futsal Melaju ke Final Piala Asia 2026, Bahlil Lahadalia: Ah Paten Itu!
-
Benarkah Beras dan Rokok Penentu Garis Kemiskinan Warga Jakarta?
-
Tak Mau Ingkari Putusan Munas Golkar, Bahlil Tegaskan Bakal Dukung Prabowo-Gibran hingga Selesai
-
Waketum PAN Ingin Prabowo Dipasangkan Dengan Zulhas di 2029, Dasco: Kita Anggap Doa Saja
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Dari Dua Kali Jadi Sekali? MBG Lansia Berpotensi Ikut Skema Rp10 Ribu per Porsi