Suara.com - Negara ini mulai merasakan ketakutan yang sangat nyata akan kelaparan.
Cuaca di Afghanistan berubah dari awal musim gugur yang hangat menjadi dingin yang tajam. Beberapa daerah melaporkan kekeringan, menambah rasa bencana yang semakin meningkat.
Di Maidan Wardak, 80 kilometer sebelah barat Kabul, beberapa ratus orang berkumpul dengan harapan mendapatkan tepung dari titik distribusi resmi.
Tepung ini disediakan oleh Program Pangan Dunia, World Food Program.
Tentara Taliban membuat kerumunan cukup tenang, tetapi orang-orang yang diberitahu bahwa mereka tidak memenuhi syarat untuk dibagikan menjadi marah dan ketakutan.
Baca juga:
- Afghanistan: Krisis kemanusiaan, keluarga menjual bayi demi sesuap nasi, hampir setengah penduduk terancam kelaparan
- Taliban larang mata uang asing, ekonomi Afghanistan kepayahan
- 'Saya hidup dan bernapas, tapi tanpa tujuan, Taliban telah mengubah hidup saya'
"Musim dingin hampir tiba," kata seorang lelaki tua. "Saya tidak tahu bagaimana akan melewatinya jika saya tidak bisa membuat roti".
WFP sendiri dihadapkan pada keharusan untuk meningkatkan pasokannya ke Afghanistan untuk membantu lebih dari 22 juta orang.
Jika cuaca seburuk yang diperkirakan para ahli pada musim dingin ini, diperkirakan sejumlah besar orang akan terancam kelaparan akut dan kelaparan yang meluas.
Baca Juga: Larang Mata Uang Asing, Warga Afghanistan Terancam Dihukum Jika Langgar Aturan Taliban
Saya berbicara dengan direktur eksekutif WFP, David Beasley, ketika dia berkunjung ke Kabul pada hari Minggu (07/11).
Analisisnya tentang situasi itu mengkhawatirkan.
"Ini seburuk yang bisa Anda bayangkan," kata Beasley. "Faktanya, kita sekarang sedang melihat krisis kemanusiaan terburuk di Bumi.
"Sembilan puluh lima persen orang tidak memiliki cukup makanan, dan sekarang kami melihat 23 juta orang berbaris menuju kelaparan," tambahnya.
"Enam bulan ke depan akan menjadi bencana besar. Ini akan menjadi neraka di Bumi."
Baca juga:
- 'Perempuan dipenjara, tapi para bandit dibebaskan Taliban'
- Hakim perempuan Afghanistan yang bersembunyi dari kejaran Taliban
- Taliban di mata seorang ibu yang kehilangan empat putranya
Sebelum Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan pada Agustus, ada keyakinan bahwa pemerintahan Presiden Ashraf Ghani akan mampu mengatasi ancaman musim dingin yang buruk, dengan bantuan masyarakat internasional.
Bantuan itu pupus ketika pemerintahan Ghani runtuh.
Negara-negara Barat telah memotong bantuan mereka ke negara itu, karena mereka tidak ingin terlihat membantu rezim yang melarang anak perempuan mengenyam pendidikan dan mendukung penerapan kembali hukuman syariah secara penuh.
Tetapi apakah negara-negara itu akan diam saja sekarang dan membiarkan jutaan orang menghadapi kelaparan akut?
Beasley menantang pemerintah dan miliarder negara maju untuk membantu kebutuhan mendesak di Afghanistan.
"Kepada para pemimpin dunia, kepada para miliarder: bayangkan bila ini terjadi pada anak perempuan Anda atau anak laki-laki Anda, atau cucu Anda yang akan mati kelaparan," katanya.
"Anda akan melakukan semua yang Anda bisa, dan ketika ada kekayaan senilai US$400 triliun di bumi saat ini, memalukan bagi kami."
"Kami membiarkan setiap anak mati karena kelaparan. Kami malu. Saya tidak peduli di mana anak itu," tambahnya.
Di kota Bamiyan di Afghanistan tengah, di mana pada tahun 2001 Taliban menghancurkan patung Buddha kuno dan indah, yang diukir di sisi tebing pada abad keenam, kami pergi menemui seorang janda bernama Fatema dan tujuh anaknya yang berusia mulai dari tiga tahun hingga 16 tahun.
Suaminya meninggal karena kanker perut belum lama ini.
Mereka sangat miskin, dan tinggal di sebuah gua dekat dengan ceruk besar di tebing tempat salah satu patung Buddha dulu berdiri.
Baca juga:
- Perang rahasia Taliban melawan ISIS
- Lebih dari 20 orang tewas akibat serangan bom di rumah sakit Kabul, jaringan ISIS-K mengaku pelakunya
- Apa perbedaan Taliban, al-Qaeda, dan ISIS?
Di bawah pemerintahan sebelumnya, Fatema bisa mendapatkan pasokan tepung dan minyak yang cukup teratur, tetapi pasokan itu langsung berhenti begitu Taliban mengambil alih kekuasaan.
Fatema dulu menghasilkan sedikit uang dengan menyiangi tanah untuk petani terdekat. Namun, sekarang, kekeringan yang melanda daerah ini berarti lebih sedikit hasil panen yang bertahan, dan tidak ada pekerjaan untuknya.
"Saya takut," katanya. "Saya tidak punya apa-apa untuk diberikan kepada anak-anak. Tidak lama lagi saya harus keluar dan meminta-minta."
Beberapa orang tua telah menjual anak perempuan mereka kepada pria yang lebih tua untuk dinikahkan. Fatema telah menolak untuk melakukan itu. Tapi kecuali bantuan pasokan makanan dilanjutkan, dia dan anak-anaknya menghadapi kelaparan yang sebenarnya.
Sekarang salju mulai mengendap di puncak gunung terdekat dan angin pun mulai menusuk.
Musim dingin akan segera tiba, dan sejumlah besar orang seperti Fatema dan keluarganya akan berada di ambang malapetaka.
Berita Terkait
-
4 Ide OOTD Musim Dingin ala Seulgi Red Velvet, Nyaman dan Tetap Gaya!
-
Stanley Hadirkan Sensasi 'Winter Cabin' di Plaza Indonesia: Wajib Coba Cocoa Bar Eksklusifnya!
-
Arab Saudi Turun Salju, Sikap Warganya Tuai Sorotan
-
5 Drama Korea Berlatar Musim Dingin yang Cocok Ditonton saat Akhir Tahun
-
Dari Boots Hingga Backpack: Tren Warna Wajib untuk Tampilan Musim Dingin yang Kuat dan Tenang
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
Pilihan
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
Terkini
-
Murka Brimob di Tual Aniaya Pelajar hingga Tewas, Kapolri: Usut Tuntas, Hukum Setimpal!
-
Heboh Naik Jet Pribadi OSO, Menag Nasaruddin Buka Suara di KPK: Tak Ada Pesawat Tengah Malam
-
Mobil Pribadi Nyangkut di Pembatas Beton, Layanan Transjakarta di Pulomas Bypass Terganggu
-
Kasat Narkoba Diduga Terima 'Uang Setoran' Rp13 Juta Tiap Pekan dari Bandar Narkoba di Toraja Utara
-
Kakak Korban Tewas Diduga Dipukul Brimob di Tual Dipastikan Dapat Perlindungan
-
Bripda DP Diduga Tewas Dianiaya Senior di Asrama Polda Sulsel, Pihak Keluarga Tuntut Keadilan
-
Riwayat Positif Sabu Jadi Sorotan, Plh Kapolres Bima Kota Langsung Diganti!
-
Setahun Pimpin Jakarta, Rano Karno Klaim 97 Persen Program Tuntas, Fokus Banjir dan Macet
-
Dua Bus Transjakarta 'Adu Banteng' di Jalur Langit Koridor 13
-
Sabah Diguncang Gempa M 7,1, Getaran Terasa hingga Kaltara