Suara.com - Sejumlah warga Kota Xi'an, China, mengaku tidak punya cukup makanan walau pejabat setempat berkeras pasokan kebutuhan hidup sudah memadai di tengah karantina ketat alias lockdown.
Sejak pekan lalu, lebih dari 13 juta jiwa di kota tersebut diperintahkan tetap berada di rumah selagi aparat berupaya menghentikan penularan Covid-19.
Oleh karena itu, warga tidak diperbolehkan keluar rumah untuk membeli makanan, kecuali dengan alasan tertentu. Para pegawai negeri pun dikerahkan untuk mendistribusikan bantuan.
Namun, banyak di antara warga bersuara di media sosial. Mereka mengaku sudah kehabisan barang-barang pokok.
Baca juga:
Penerapan karantina wilayah di Kota Xi'an, yang sudah memasuki hari kesembilan, terbilang ketat. Halte-halte bus di kota tersebut ditutup, penerbangan ke luar kota ditiadakan, dan jutaan tes Covid diberlakukan di Provinsi Shaanxi—tempat Kota Xi'an berada.
Awalnya pemerintah kota membolehkan satu orang per satu rumah keluar setiap dua hari sekali untuk membeli kebutuhan pokok.
Akan tetapi, lockdown diperketat pada Senin (27/12), sehingga semua warga tidak diperkenankan ke luar rumah kecuali untuk menjalani tes Covid.
Sejak saat itu, banyak penduduk berkeluh kesah serta meminta bantuan makanan di platform Weibo. Mereka mengklaim belum menerima paket bantuan gratis dari pemerintah.
Baca Juga: Pejabat Tinggi Alibaba Terang-terangan Akui Suka Kripto, Pemerintah China Panik?
"Saya dengar distrik lain menerima bantuan secara bertahap, tapi saya tidak menerima apapun. Kompleks kami melarang warga ke luar rumah. Saya memesan sembako secara daring empat hari lalu, tapi tidak ada tanda-tanda paket itu datang. Saya tidak mendapat sayur apapun selama berhari-hari," sebut seorang pengguna media sosial Weibo.
Warganet lainnya berkata: "Pembagian sembako tidak rata. Distrik tempat saya berada belum dapat apa-apa. Kami diminta berkelompok dan memesan bersama. Harganya juga sangat mahal."
Sebuah video yang dibuat pekan ini dan telah beredar di dunia maya memperlihatkan penduduk di salah satu wilayah permukiman Kota Xi'an berdebat dengan polisi soal kekurangan makanan.
https://twitter.com/fangshimin/status/1476704604041613322?s=20
Surat kabar Global Times milik pemerintah melaporkan bahwa di beberapa tempat makanan sudah diantarkan ke gerbang kompleks , namun jumlah relawan pengantar paket sembako ke depan pintu rumah warga kurang banyak.
Supir pengantar paket sembako juga kurang banyak karena mereka pun menjalani karantina wilayah.
Pada Rabu (29/12), pemerintah kota mengaku bahwa "kurangnya staf, kesulitan logistik serta distribusi" menimbulkan masalah pengantaran sembako ke warga.
Namun, pada Kamis (30/12), menteri perdagangan China menegaskan kepada wartawan bahwa penduduk Xi'an punya akses sembako "memadai", sebagaimana dilaporkan kantor berita AFP.
Stasiun-stasiun televisi milik pemerintah juga menayangkan liputan para petugas dengan APD memilah sembako, seperti telur, daging, dan sayuran ke dalam plastik untuk kemudian diantarkan dari pintu ke pintu.
"Kami dapat paket sembako gratis dari pemerintah. Sebenarnya cukup banyak. Cukup dimakan selama tiga hari atau empat hari untuk sebuah keluarga," sebut seorang penerima paket sembako di Weibo.
Xi'an telah mencatat 960 kasus Covid sejak 9 Desember.
Wabah terkini menyebabkan banyak orang yang meragukan kemampuan China dalam mempertahankan pendekatan nol kasus Covid menjelang Olimpiade Musim Dingin 2022 pada Februari.
China telah menyebut Covid sebagai "ancaman terbesar" dalam menyelenggarakan pesta olahraga tersebut.
Sebagai negara yang mencatat kemunculan Covid untuk pertama kalinya, China telah mengonfirmasi lebih dari 131.000 kasus dan 5.699 kematian, menurut angka terakhir dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Berita Terkait
-
Warga China Berbondong-bondong Beli Tiket Pesawat usai Pembatasan Perjalanan Dibuka
-
WHO Laporkan Rumah Sakit di China Mulai Penuh Seiring Lonjakan Kasus
-
Di Tengah Pelonggaran Aturan Covid-19, China Malah Dilanda Panic Buying
-
Usai Aturan Dilonggarkan, Penyebaran Covid di China Diprediksi Meroket
-
China Batalkan Lebih dari 800 Penerbangan karena Temuan Klaster Covid
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
Segera Hadir, Film Sekolah Rakyat Angkat Kisah Dramatis dari Kehidupan Nyata
-
SDA Terus Dicuri, Prabowo: TNI AL dan Bea Cukai Sudah Dikerahkan, Masih Saja Bocor!
-
Rugi Terus, Prabowo Bakal Tutup 800 Perusahaan Pelat Merah untuk Berhemat
-
Jakarta Darurat Kabel Semrawut: Pelajar Tewas, Perda Mangkrak, Legislator Tuntut Sanksi Operator
-
UU Peradilan Militer Jadi Tameng Impunitas TNI! Aktivis Desak Reformasi Total
-
Kapolri Buka Suara Usai Roy Suryo dan dr Tifa Tak Ditahan: Itu Kewenangan Kejaksaan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
Terekam CCTV, Detik-detik Pasutri di Duren Sawit Gasak Motor Sambil Bawa Anak
-
MBG Disetop Saat Libur Sekolah, BGN Disomasi: Ibu Hamil dan Balita Tetap Butuh Nutrisi!
-
Dua Calon Pengelola KDMP Meninggal saat Ikut Latihan Militer