Suara.com - Ketika letusan dahsyat gunung berapi bawah laut Hunga-Tonga-Hunga-Ha'apai memicu tsunami di Tonga, Pasifik Selatan, pada Sabtu (15/01), berbagai satelit luar angkasa berada dalam posisi masing-masing untuk menangkap fenomena alam tersebut.
Hal ini dimungkinkan armada pemantau Bumi semakin banyak dan terus bertambah. Beberapa satelit secara konstan mengamati wilayah tertentu di Bumi, yang berarti datanya dapat segera dipelajari, sementara ada satelit-satelit lainnya yang ditugaskan untuk melakukan pengamatan lanjutan.
Semua informasi yang dikumpulkan satelit-satelit ini akan membantu upaya tanggap darurat serta membantu para ilmuwan memahami lebih baik peristiwa alam tersebut.
Baca juga:
- Letusan gunung berapi picu tsunami di Tonga, lima WNI belum ada kabar
- Satelit-satelit merekam dataran es di Arktika terbelah
- Foto-foto satelit ungkap wujud terbaru Gunung Anak Krakatau
Satelit-satelit cuaca
Terdapat sekelompok satelit yang memantau sistem cuaca dari jarak 36.000 kilometer di atas Bumi.
Berbagai perangkat itu memindai seluruh belahan bumi setiap beberapa menit, dan menyampaikan semua gambar yang terpantau serta prakiraan terkini ke kru di Bumi.
Satelit-satelit meteorologi inilah yang merekam beberapa pemandangan awan abu gunung berapi Tonga yang paling spektakuler saat menjulang tinggi ke langit.
https://twitter.com/simon_sat/status/1482412149897142284?s=20
Selama Gunung berapi bawah laut Hunga-Tonga-Hunga-Ha'apai erupsi, semburan abu membuat pengamatan di darat menjadi sulit, kecuali jika menggunakan teknologi radar yang menembus abu dan awan.
Baca Juga: TV Australia Comot Video Youtuber Indonesia Dikejar Ombak di Pelalawan saat Beritakan Tsunami Tonga
Ketika satelit Sentinel-1A Uni Eropa melintasi bagian atas gunung berapi pada Sabtu malam, terlihat jelas banyak bangunan di perairan Samudra Pasifik telah hancur.
https://twitter.com/CopernicusEU/status/1482656119038394370?s=20
Tapi gambar-gambar radar bisa sangat sulit ditafsirkan jika Anda tidak terbiasa melihatnya.
Karena itu, lebih baik menyimak gambar-gambar gunung berapi yang diperoleh perusahaan Planet yang berbasis di San Francisco.
Salah satu gambar diperoleh hanya dua jam sebelum letusan. Bandingkan dengan data radar di atas, dan Anda akan memahami dahsyatnya ledakan.
https://twitter.com/Will4Planet/status/1482565187781550081?s=20
Gelombang kejut global
Salah satu aspek yang paling menakjubkan dari pemantauan satelit cuaca adalah gelombang kejut yang bergerak cepat ke segala arah.
Gelombang tekanan dari letusan eksplosif ini mencakup seluruh dunia. Lembaga Meteorologi Inggris mencatat gelombangnya di barometer, tidak hanya sekali tetapi dua kali.
https://twitter.com/metoffice/status/1482605906659622914?s=20
https://twitter.com/swshargi/status/1482471422618476547?s=20
Contoh lain dari dampak gunung berapi di atmosfer dapat dilihat pada data yang diambil oleh misi Aeolus dari Badan Antariksa Eropa.
Satelit ini mengukur pergerakan angin dari permukaan tanah hingga ketinggian 30 kilometer di stratosfer.
Satelit tersebut melakukannya dengan menembakkan laser ultraviolet, tetapi saat Aeolus melewati Pasifik, sinarnya terhalang oleh semua material yang tersembur ke langit.
Meski demikian, hal itu memberikan indikasi yang baik tentang ketinggian awan abu.
https://twitter.com/MikePRennie/status/1482655443545645058?s=20
Dampak pada iklim
Berbagai erupsi terbesar gunung berapi dapat mendinginkan iklim dalam waktu singkat.
Letusan Gunung Pinatubo di Filipina pada tahun 1991, misalnya, menurunkan suhu rata-rata global Bumi hingga setengah derajat selama beberapa tahun.
Cara utama gunung berapi melakukan ini adalah dengan menyemburkan sulfur dioksida (SO2) dalam jumlah besar ke atmosfer.
SO2 kemudian bercampur dengan air sehingga menghasilkan kabut tetesan kecil, atau aerosol, yang memantulkan radiasi matahari.
Satelit Sentinel-5P dapat memetakan kuanitas dan sebaran sulfur dioksida tersebut.
https://twitter.com/ClimateOfGavin/status/1482461657309892609?s=20
https://twitter.com/simoncarn/status/1482165151461785601?s=20
Memetakan kerusakan
Skala kerusakan di seluruh Tonga masih belum jelas.
Penduduk negara kepulauan itu harus menghadapi dampak abu dan banjir yang diakibatkan gelombang tsunami.
Satelit-satelit beresolusi tinggi kini ditugaskan untuk memetakan pulau-pulau di kawasan itu, untuk membantu mengarahkan tim tanggap darurat ke tempat-tempat yang penduduknya memerlukan bantuan mendesak.
https://twitter.com/angelruizangulo/status/1482498845972078592?s=20
https://twitter.com/CopernicusEMS/status/1482676574159839233?s=20
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Usia 50 Tahun ke Atas
- Ini 4 Smartphone Paling Diburu di Awal Januari 2026
- 5 Sepatu Nike Diskon hingga 40% di Sneakers Dept, Kualitas Bagus Harga Miring
- 5 Tablet dengan SIM Card Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking Anti Ribet
- Beda dengan Inara Rusli, Wardatina Mawa Tolak Lepas Cadar Demi Uang
Pilihan
-
UMP Minim, Biaya Pendidikan Tinggi, Warga Jogja Hanya jadi Penonton Kemeriahan Pariwisata
-
Cek Fakta: Video Rapat DPRD Jabar Bahas Vasektomi Jadi Syarat Bansos, Ini Faktanya
-
Dipecat Manchester United, Begini Statistik Ruben Amorim di Old Trafford
-
Platform Kripto Indodax Jebol, Duit Nasabah Rp600 Juta Hilang Hingga OJK Bertindak
-
4 HP RAM 12 GB Paling Murah Januari 2026, Pilihan Terbaik untuk Gaming dan Multitasking
Terkini
-
Indonesia Dinominasikan Jadi Presiden Dewan HAM PBB, Apa Syarat Kriterianya?
-
Mendagri Dorong Percepatan Pendataan Rumah Rusak Pascabencana Sumatra
-
KPK 'Korek' Ketum Hiswana Migas di Pusaran Korupsi Digitalisasi SPBU Pertamina
-
Kejar Target Sebelum Ramadan, Satgas Galapana DPR RI Desak Sinkronisasi Data Huntara di Aceh
-
KPK Buka Peluang Periksa Rieke Diah Pitaloka Terkait Kasus Ijon Proyek Bupati Bekasi
-
Istana Buka Pintu Lebar-lebar: Silakan Kritik Jika Pemerintah Lalai, Kami Terbuka
-
Serang Setop Kiriman Ratusan Ton Sampah dari Tangsel, Ada Apa?
-
Retret Kabinet di Hambalang: Prabowo Baru Dengar Paparan 4 Menteri, Rapat Bisa Lanjut Sampai Malam
-
Istana Bongkar Maksud Prabowo Absen Para Ketum Parpol dan Singgung Kekuatan Koalisi
-
Kuasa Hukum Kerry Riza Ungkap Keanehan dan Kejanggalan Sidang Kasus Pertamina