Suara.com - Sulastri (50), terpaksa tidak menyajikan olahan makanan berbahan dasar tempe pada hari ini, Senin (21/2/2021) hari ini. Pemilik Warteg Rizna Jaya, Cakung, Jakarta Timur itu pada pagi tadi tidak mendapatkan tempe di pasar tradisional yang menjadi tempat belanjanya sehari-hari.
"Tadi enggak ada nyari di pasar, enggak ada. Enggak ada orang jualan tempe," ucap Sulastri saat dijumpai di lokasi.
Dia melanjutkan, sempat ada pelanggan yang memesan olahan makanan seperti tempe goreng hingga orek tempe. Atas hal itu, Sulastri terpaksa memberikan pemahaman bahwa dia tidak mendapatkan tempe mentah sehingga tidak bisa menyajikan menu yang diminta tersebut.
"Ada tadi pelanggan yang cari menu tempe, tapi sudah tahu kali orang-orang itu. Sudah tahu orang tempe dan tahu lagi pada mogok. Pokoknya aku tadi nengokin saja, karena enggak ada," sambungnya.
Setiap hari, Sulastri biasa membeli tempe mentah sebanyak empat balok. Dua balok tempe biasanya diolah menjadi masakan orek dan sisanya akan digoreng dengan dicampur tepung.
Satu balok tempe mentah, kata Sulastri, bisa diboyong dengan kocek Rp 6 ribu. Terhadap kelangkaan tempe tersebut, untuk sementara dirinya terpaksa tidak membuat olahan seperti orek hingga tempe goreng.
"Kalau saya biasanya beli tempe tuh empat yang satunya enam ribu. Dua buat orek, dua buat tempe goreng, kadang ada yang buat tempe goreng tepung. Sampai sekarang harganya masih segitu, tapi enggak tahu kalau hari ini, kalau selanjutnya gak tahu berapa," tutup dia.
Mogok Produksi
Ketua Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Jakarta Pusat, Khairun, mengatakan aksi mogok produksi dilakukan serentak oleh seluruh perajin tahu tempe di Jabodetabek.
Baca Juga: Harga Kedelai Tinggi, Perajin Tahu di Cianjur Tak Punya Pilihan Selain Naikkan Harga Jual
"Semua produsen di Jabodetabek udah tutup karena kalau tidak ditutup akan di-'sweeping' oleh teman-teman kita juga, karena ini serentak dilakukan," kata Khairun.
Khairun menjelaskan bahwa aksi ini terpaksa dilakukan agar pemerintah yakni Kementerian Perdagangan dapat melakukan intervensi atas tingginya harga kedelai impor yang saat ini mencapai Rp12.000 per kg di tingkat perajin. Padahal, harga kedelai impor normalnya berkisar Rp 9.500 sampai Rp 10.000 per kg.
Berita Terkait
-
Harga Kedelai Tinggi, Perajin Tahu di Cianjur Tak Punya Pilihan Selain Naikkan Harga Jual
-
Terpaksa Beroperasi, Begini Siasat Perajin Tahu di Purwokerto Hadapi Harga Kedelai Tinggi
-
Ngeluh Tahu-Tempe Kosong karena Perajin Mogok, Warga Jakpus Bingung Bikin Masakan Rumah: Orang Tua Saya Tak Makan Daging
-
Mulai Hari Ini Pengrajin Tahu Tempe di Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi Mogok Produksi
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- 26 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 31 Januari 2026: Buru Gullit 117 OVR dan Voucher Draft Gratis
- 5 Mobil Toyota Dikenal Paling Jarang Rewel, Ideal untuk Mobil Pertama
- 5 HP Murah Alternatif Redmi Note 15 5G, Spek Tinggi buat Multitasking
- 6 Moisturizer Pencerah Wajah Kusam di Indomaret, Harga di Bawah Rp50 Ribu
Pilihan
-
Pintu Langit Dibuka Malam Ini, Jangan Lewatkan 5 Amalan Kunci di Malam Nisfu Syaban
-
Siapa Jeffrey Hendrik yang Ditunjuk Jadi Pjs Dirut BEI?
-
Harga Pertamax Turun Drastis per 1 Februari 2026, Tapi Hanya 6 Daerah Ini
-
Tragis! Bocah 6 Tahun Tewas Jadi Korban Perampokan di Boyolali, Ibunya dalam Kondisi Kritis
-
Pasar Modal Bergejolak, OJK Imbau Investor Rasional di Tengah Mundurnya Dirut BEI
Terkini
-
POV: Jadi Member ShopeeVIP
-
FPI Wanti-Wanti Pemerintah Soal Siasat Uang Iuran Dewan Perdamaian Jadi Modal Invasi Gaza
-
MUI Minta Indonesia Keluar dari Board of Peace, Mensesneg: Kami Akan Berikan Penjelasan
-
Istana Harap IHSG Meroket Hari Ini, Prabowo Sempat Marah saat Anjlok?
-
Politisi Peter Mandelson Mundur Usai Foto Vulgar di Epstein Files Tersebar
-
Bukan Bertemu Oposisi, Istana Jelaskan soal Pertemuan Prabowo dengan Siti Zuhro hingga Abraham Samad
-
Relawan Prabowo Tegas Tolak Polri di Bawah Menteri, Singgung Ancaman Keamanan
-
Gas N2O Disorot Usai Kasus Lula Lahfah, Polisi Akui Belum Bisa Tindak: Tunggu Regulasi
-
Polisi Segera Buka Kartu Soal Kasus Penganiayaan yang Menjerat Habib Bahar
-
Jelang Ramadan, Jalanan Jakarta Dipantau Ketat: Drone Ikut Awasi Pelanggar Lalu Lintas