Suara.com - Penulis Dr. Yusa Djuyandi, Pengamat Politik dan Pertahanan Universitas Padjajaran, Bandung.
Invasi yang dilancarkan Rusia atas Ukraina yang sudah berlangsung selama 9 hari menimbulkan kekhawatiran banyak negara, terutama karena adanya ancaman krisis kemanusiaan akibat derasnya arus pengungsian warga Ukraina ke beberapa negara dan juga semakin bertambahnya korban jiwa dari warga sipil.
Dorongan dan tekanan politik sampai ekonomi yang diberikan oleh beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan beberapa negara lain atas Rusia untuk segera menghentikan invasinya ke Ukraina seperti mengalami jalan buntu. Bagai tidak ingin di tekan oleh negara-negara Barat, Rusia balik menekan negara-negara barat dengan mengancam akan memutus supply gas buminya ke beberapa negara Eropa Barat dan Amerika Serikat.
Konflik Rusia dan Ukraina boleh dikatakan bukan merupakan konflik biasa, keduanya sudah pernah bersitegang pada saat perebutan daerah Krimea di tahun 2014 yang kemudian ditandai dengan lepasnya wilayah Krimea dari Ukraina. Ketegangan itu sendiri salah satunya dipicu oleh penggulingan Presiden Ukraina pro-Rusia di tahun 2014, Viktor Yanukovych. Sebagai sebuah negara pecahan Uni Soviet, perpolitikan di dalam Ukraina masih diwarnai oleh adanya pertarungan politik antara meraka yang pro-Rusia dan pro-Barat (yang menghendaki Ukraina masuk ke Uni Eropa dan NATO).
Berkaca pada kondisi internal dan sisi historis Ukraina, serta bagaimana kemudian melihat negara-negara Barat memberikan tekanan yang kuat kepada Rusia dan membantu mengirimkan bantuan persenjataan ke Ukraina, maka pertarungan ini bukan merupakan konflik biasa layaknya gambaran pertarungan antara David dan Goliath, sebab Ukraina bukanlah negara seperti Palestina yang ketika dihadapkan pada kekuatan Israel maka posisi Palestina tidak akan ada apa-apanya, mengingat Israel di dukung oleh banyak negara besar, seperti Amerika, Inggris, Perancis, Jerman dan beberapa negara lain, adapun Palestina hanya negara kecil yang tidak mendapat dukungan dari negara-negara barat. Layaknya Israel, Ukraina pun di dukung oleh banyak negara barat yang rela membantu pemerintahan Ukraina untuk menekan Rusia, meski bantuan itu belum sampai pada tahap mengirimkan tentara mereka ke Ukraina untuk memukul mundur pasukan Rusia.
Ancaman Nuklir
Isu nuklir menjadi salah satu isu yang penting ketika Presiden Rusia, Valdimir Putin, memutuskan untuk menginvasi Ukraina, mengingat kedua negara ini sama-sama memiliki kekuatan senjata nuklir. Persoalan senjata nuklir menjadi perbincangan yang hangat dalam isu-isu global kontemporer, isu proliferasi senjata nuklir menjadi isu yang hangat untuk diperbincangkan karena isu tersebut sudah terkait dengan keamanan global, dan banyak negara menjadi terlibat dalam isu ini dengan kepentingannya masing-masing. Senjata nuklir menjadi sorotan global yang begitu menonjol karena senjata ini merupakan alat penghancur massal yang mengancam keamanan global.
Karena isu nuklir ini berkaitan dengan keamanan global, maka keberadaannya tidak lepas dari sebuah perjanjian internasional yang diadakan oleh PBB untuk mengatur kepemilikan atau penyebaran senjata nuklir tersebut agar dapat menjaga keamanan global dan menciptakan perdamaian di dunia. Meski terdapat sebuah perjanjian, namun karena sewaktu-waktu negara pemilik senjata nuklir dapat saja menggunakan kekuatan nuklir untuk menghancurkan musuh, maka isu perang nuklir tetap menjadi salah satu kekhawatiran terbesar.
Dibalik itu semua, penulis berpandangan bahwa senjata nuklir juga menjadi senjata politik agar bagaimana negara-negara itu tetap dapat menanamkan pengaruhnya atas politik dan keamanan global. Atas dasar kondisi ini juga maka dapat dikatakan bahwa Ukraina sesungguhnya memiliki kekuatan untuk melawan Rusia, setidaknya tanpa nuklir pun mereka bisa melawan dan membuat frustasi sebagian dari tentara Rusia yang gagal menduduki Kiev (Ibu Kota Ukraina).
Kembali ke persoalan ancaman nuklir, bahwa nuklir yang awalnya diciptakan bukan untuk kepentingan peperangan atau pertahanan telah menjadi suatu barang menakutkan. Setidaknya kekhawatiran itu muncul ketika Rusia diberitakan melakukan penyerangan atas pembangkit tenaga nuklir di Ukraina, tentu serangan ini juga memunculkan kekhawatiran akan adanya tragedy nuklir besar seperti peristiwa Chornobyl.
Di era modern seperti sekarang ini, nuklir telah muncul menjadi sebuah simbol tertinggi dalam sebuah mekanisme pertahanan dan senjata tercanggih bagi sebuah negara. Dengan memiliki senjata nuklir, suatu negara berpandangan dapat menjamin keselamatan warganya, selain itu nuklir juga dapat digunakan sebagai alat untuk mempertahankan eksistensi suatu negara dalam tatanan global. Meski sesungguhnya dibalik segala dalih dan motif yang ada hanyalah ancaman terbesar bagi eksistensi kehidupan manusia tatkala nuklir digunakan sebagai senjata.
Berita Terkait
-
Rincian Biaya untuk Membuat Bom Nuklir, Mahal Tapi Sangat Disukai AS dan Rusia
-
Waspada! Dampak Perang Rusia dan Ukraina Mengancam Keamanan Siber Secara Global
-
3 Ledakan Reaktor Nuklir di Dunia yang Mematikan, Terbaru PLTN Zaporizhzhia Milik Ukraina Ditembak Rudal Rusia!
-
Serang Pembangkit Nuklir, Rusia Salahkan Ukraina
-
Timur Sardarov, Bos MV Agusta Menulis Surat Terbuka: Rusia dan Ukraina Adalah Saudara
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
Terkini
-
Kejagung Sita Uang Tunai dan Emas di Kantor Tersangka TPPU Zarof Ricar
-
Amerika Serikat Siapkan 10.000 Tentara Tambahan Antisipasi Perang Lanjutan Melawan Iran
-
Kasus Dugaan Pelecehan Seksual di UBL Memanas, Dosen Terduga Pelaku Laporkan Balik Mahasiswi
-
Walhi Soroti Pertemuan Satgas PKH dengan Gubernur Sherly Tjoanda, Ada Apa?
-
RUU Pemilu Jadi Tarik Ulur: Demokrat Nilai Tak Perlu Buru-Buru, Golkar Minta Segera Dibahas
-
Israel Diserang Jutaan Lebah, Warga Zionis Ketakutan Yakin Itu Kiriman dari Tuhan
-
Perang Bikin Harga-harga Naik, Kaesang Lobi Dubes Iran Buka Jalur Selat Hormuz untuk Pertamina
-
DPM Perdokjasi Resmi Bekerja Sama dengan 13 Asuransi untuk Perkuat Penilaian Klaim
-
Polisi Selidiki Kasus Begal Viral di Gunung Sahari Meski Korban Belum Melapor
-
Kemkomdigi Beberkan 7 Ancaman Digital yang Bisa Rusak Mental Anak: PP Tunas Hadir Untuk Melindungi