"Pemulihan ekonomi akan jadi lebih kompleks, harus ada inklusivitas, keberlanjutan dan ketahanan. Karena kalau kita ingin perekonomian makin kuat termasuk bisa berhadapan dengan pandemi berikutnya, tiga faktor ini harus ada," ujarnya.
"Intinya ke depan PDB atau kebijakan ekonomi dan pembangunan harus mengarusutamakan perubahan iklim, penanganan kesehatan, dan disrupsi digital," ujar Prof. Bambang saat berbincang dengan DW Indonesia di sela konferensi.
Transisi energi tidak bisa dihindari Sementara Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, pada Selasa (29/03) mengatakan, transisi energi adalah kunci masa depan.
"Masalah kesehatan masih menjadi isu yang harus kita hadapi dalam jangka pendek, tapi bagi negara seperti Indonesia, transisi energi mulai dibahas dalam percakapan, dan dalam tujuan kami," ujar Suahasil.
Meski demikian ia mengakui, transisi ini tidaklah mudah "Bagaimana mengganti pembangkit tenaga batu bara ke pembangkit energi terbarukan, ini tidak akan mudah tapi kami percaya masyarakan internasional akan menyadari tantangan ini dan mencari cara cara terbaik untuk mengatasinya pada dekade mendatang."
Sementara pada kesempatan terpisah di Berlin, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengatakan, Indonesia memiliki banyak sumber energi terbarukan. Ia menyebutkan potensi geotermal sebesar 24 gigawatt, energi hidro sebesar 90 gigawatt dan energi angin sebesar 60 gigawatt.
"Semuanya ini tentu saja harus bisa kami manfaatkan sehingga kami bisa mendorong tercapainya nol emisi karbon di tahun 2060. Untuk itu memang diperlukan program-program yang akurat, program-program yang memang bisa mendanai program-program konversi energi."
Menurut Arifin Tasrif, pemakaian energi terbarukan pada tahun 2021 ini baru 11%. Sedangkan di tahun 2060 Indonesia memiliki target pemakaian energi terbarukan harus mampu mendukung kebutuhan sekitar 580 hingga 600 gigawatt.
"Kami memang memiliki sumber energi fosil yang sangat besar sebelumnya. Antara lain kita memiliki minyak mentah, kami memiliki gas, dan baru 30 tahun terakhir kami baru menggunakan batu bara sebagai sumber energi karena terdapat di Indonesia dan murah untuk mendapatkannya."
"Tentu saja dengan adanya Paris Agreement yang kita tanda tangani, kita harus menggantikan ini, berangsur, bertransisi menuju energi bersih," kata Arifin Tasrif kepada DW Indonesia.
Inisiatif dana kesehatan global Sementara Profesor Bambang Brodjonegoro mengatakan, pandemi COVID-19 yang dialami selama dua tahun belakangan ini telah mengajarkan umat manusia, bahaya terbesar bagi manusia ternyata adalah sesuatu yang datang dari alam.
"Climate change itu dari alam, cuma mungkin orang belum sadar karena (saat itu) belum ada yang menakutkan seperti pandemi. Jadi kita harus segera antisipasi. Jangan sampai pandemi ditambah climate change. Jadi urgensi untuk mitigasi harus ditambah kuat," kata Bambang Brodjonegoro kepada DW Indonesia.
Lebih lanjut Bambang mengatakan, Indonesia juga telah mengusulkan dibentuknya dana kesehatan global atau global health fund yang dikelola secara terpisah dari Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Tujuan dibentuknya dana ini adalah sebagai antisipasi masa depan terhadap potensi munculnya isu kesehatan lain yang kemungkinan besar juga akan memengaruhi perekonomian.
"Belajar dari pandemi ini, pada dasarnya umat manusia atau seluruh dunia pun tidak siap. Ketidaksiapan itu derajatnya macam-macam. Tapi secara umum mereka tidak siap menghadapi penyakitnya sendiri, juga yang lebih berat lagi adalah ketika penyakitnya sudah terjadi, ketidaksiapan itu muncul di fasilitas kesehatan, seperti di kebutuhan vaksin misalnya," ujar Bambang Brodjonegoro kepada DW Indonesia.
Berita Terkait
-
Tanggapi Santai Usulan KPK, Bahlil: Di Golkar Jangankan 2 Periode, Satu Periode Saja Sering Ganti
-
YLBHI Desak Presiden dan Panglima TNI Hentikan Peradilan Militer yang Dinilai Tidak Adil
-
UU PPRT Disahkan, Akademisi UGM Soroti Celah Sanksi dan Kesiapan Jaminan Sosial
-
Wujudkan Hunian dan Kendaraan Impian di BRI Consumer Expo 2026
-
Suku Bunga Tinggi, Milenial-Gen Z Kini Lebih Percaya Medsos Ketimbang Brosur Properti
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
Terkini
-
Bahlil: Batas Masa Jabatan Ketum Parpol Tak Perlu Diseragamkan
-
Tanggapi Santai Usulan KPK, Bahlil: Di Golkar Jangankan 2 Periode, Satu Periode Saja Sering Ganti
-
YLBHI Desak Presiden dan Panglima TNI Hentikan Peradilan Militer yang Dinilai Tidak Adil
-
UU PPRT Disahkan, Akademisi UGM Soroti Celah Sanksi dan Kesiapan Jaminan Sosial
-
Tragedi PRT Lompat dari Lantai 4 Kos Benhil, Polisi Endus Dugaan Tindak Pidana
-
BNI Ingatkan Nasabah Waspadai Vishing dan Phishing, Tekankan Pentingnya Jaga Data Pribadi
-
AHY Dorong Model Penataan Kampung Mrican Sleman Jadi Percontohan Nasional
-
Benyamin Netanyahu Menderita Kanker Prostat
-
Nekat Olah Ikan Sapu-Sapu untuk Bahan Siomay, 5 Pria Diciduk Petugas Satpol PP
-
Tak Percaya Peradilan Militer, Pihak Andrie Yunus Tolak Hadiri Persidangan 29 April