Tugas itu tidak mudah, terutama bagi Olaf Scholz yang menggantungkan kebijakannya kepada dukungan dari partai sendiri.
"Pergantian era" lewat kudeta politik Scholz adalah seorang politisi pragmatis. Tapi ketika Rusia menginvasi Ukraina, dia sadar dirinya harus bertindak.
Scholz memahami, kebijakannya memperkuat Bundeswehr dan meninggalkan doktrin pasifis Jerman untuk tidak menjual senjata ke wilayah perang, akan melanggar ideologi damai SPD yang menjadi haluan partai sejak Perang Dunia II.
Scholz tidak ingin mengambil risiko meletusnya perdebatan internal soal kebijakan Ukraina. Sebab itu dia harus mengejutkan partainya sendiri dan mengambil keputusan tanpa melibatkan banyak orang.
Ketua Fraksi SPD, Mützenich, misalnya tidak dilibatkan, serupa dengan banyak tokoh penting koalisi pemerintahan. Pun rekan koalisi SPD, Partai Hijau, yang merawat tradisi pasifisme yang panjang, cenderung dilewatkan dalam proses pembuatan keputusan.
Ketika Scholz mengumumkan "perubahan era" di parlemen pada 27 Februari silam, tidak sedikit anggota parlemen yang terkejut dan kebingungan.
Keputusan sulit Tapi ketika kubu pasifis di Partai Hijau bisa beradaptasi dengan tuntutan mempersenjatai Ukraina, SPD sebaliknya kesulitan menyeragamkan sikap.
Terutama Rolf Mützenich selalu berupaya mengalihkan pembuatan keputusan ke arah yang berlainan.
"Saya kira, diskusi dalam beberapa hari terakhir punya kecenderungan militeristik yang masif," katanya baru-baru ini.
Baca Juga: Jerman Mau Setop Impor Minyak Rusia, Polandia Beri Dukungan Penuh
"Tidak ada jawaban yang mudah untuk pengiriman senjata berat ke Ukraina. Siapapun yang mengklaim sebaliknya, bertindak tanpa tanggungjawab."
Perilaku Olaf Scholz juga tidak memudahkan misi politiknya. Dalam beberapa pekan terakhir, sang kanselir terlihat semakin emosional, akibat derasnya tekanan internasional dan juga kritik dari koalisi sendiri. Ketika mayoritas kader SPD berusaha mengerem, koalisi pemerintahan Partai Hijau dan Partai Demokrat Liberal (FDP) sebaliknya mulai kehabisan sabar terhadap lambatnya keputusan Jerman.
Scholz berdiri di antara dua fron politik dan pemerintahan koalisi - yang dilantik dengan janji kesatuan sikap dan tindakan - tiba-tiba terlihat mulai retak. "Karena saya tidak lakukan apa yang kalian inginkan, saya menjadi pemimpin."
Oleh Ketua Komisi Pertahanan di Bundestag yang juga kader FDP, Agned-Maria Strack-Zimmermann, Scholz diklaim "berada di tempat yang salah pada waktu yang salah."
Dia sempat berkunjung ke Ukraina bersama ketua komisi urusan Eropa dan hubungan luar negeri belum lama ini.
Setelah lawatan itu, Strack-Zimmermann segera menuntut pengiriman senjata. Saat itu, Scholz menjawab dengan nada merendahkan, betapa "para laki-laki dan perempuan muda ini harus diingatkan, bahwa karena saya tidak melakukan apa yang kalian inginkan, maka saya memimpin." Kini, dengan keputusan bulat Bundestag, Scholz bisa bernafas lega.
"Selaras dengan Piagam PBB, Jerman akan mengirimkan senjata untuk pertahanan diri kepada Ukraina dan menyetujui pengiriman dari negara ketiga."
Hal terpenting adalah "percepatan pengiriman senjata berat, efektif dan sistem yang rumit oleh Jerman." Namun begitu, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Akhir netralitas Saat ini kantor Kekanseliran masih disibukkan oleh pertanyaan, seberapa jauh sebuah negara bisa membantu Ukraina tanpa dianggap sebagai musuh oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Pemimpin Kremlin itu sempat mengancam negara-negara NATO dengan "serangan kilat" jika terbukti melakukan intervensi.
Belum lama ini, Scholz mewanti-wanti terhadap meletusnya perang nuklir. Dalam wawancara dengan mingguan "Der Spiegel" , dia melihat prioritas utama pemerintahannya terletak pada upaya mencegah perang melebar ke negara NATO.
Tapi siapa yang bisa menebak reaksi Putin? Atau seberapa jauh Jerman bisa mencampuri perang di Ukraina tanpa memprovokasi Rusia? Skenario tersebut menempatkan angkatan bersenjata Jerman-Bundeswehr dalam posisi pelik.
Menteri Pertahanan, Christine Lambrecht, baru-baru ini menghitung bahwa militer Jerman "di atas kertas" memiliki 350 panser infanteri, padahal yang siap pakai hanya berjumlah 150 buah.
Sementara dari 51 helikopter tempur yang ada, hanya sembilan yang bisa terbang secara berkala. Masalah ini mencuatkan pertanyaan, apakah anggaran khusus sebesar 100 miliar Euro akan cukup untuk memodernisasi Bundeswehr.
Bagi mereka yang berpengalaman memantau proses panjang pengadaan alutsista, pertanyaan itu akan mendesak untuk dijawab dalam beberapa tahun ke depan. rzn/as
Tag
Berita Terkait
-
Rangkuman Hasil Uji Coba Jelang Piala Dunia 2026 Hari Ini: Argentina, Inggris, Jerman, Portugal
-
Peta Kekuatan Grup E Piala Dunia 2026: Jalur Terjal Nagelsmann Pecah Dominasi Raksasa Afrika
-
Daftar Skuad Termahal di Piala Dunia 2026: Prancis Tertinggi, Argentina Tak Masuk 5 Besar
-
Hajar Finlandia Empat Gol, Julian Nagelsmann Puji Performa Pemain Jerman
-
Tim Panser Jerman Panaskan Mesin! Libas Finlandia Jelang Piala Dunia 2026
Terpopuler
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
Pilihan
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
-
Menkes Budi Gunadi Sadikin Susul Chatib Basri dan Luhut ke Istana
Terkini
-
Butuh Rp667 T Tapi Hanya Dipatok Rp139 T, Menhan Usulkan Tambahan Anggaran Rp195 T ke DPR untuk 2027
-
Prabowo Ungkap Target Besar Kesehatan Nasional, 350 Rumah Sakit Akan Dimodernisasi
-
Konservasi atau Pertumbuhan Ekonomi? Penelitian Ungkap Kita Tak Harus PIlih Salah Satu
-
Ketum TP PKK Ajak Para Pengurus & Kader PKK Pahami Pentingnya Literasi Keuangan di Tingkat Keluarga
-
KPK Geledah Tiga Lokasi Terkait Kasus Silmy Karim, Sita Dokumen hingga Uang Tunai
-
Disorot Karena Urusi Begal, KSAD TNI: Begal Takut Lihat Tentara!
-
KSP Dudung Abdurachman Ungkap Nasib Motor Listrik BGN Senilai Rp1,03 Triliun
-
Pramono Ancam Blacklist Pelaku Vandalisme Lift JPO Lenteng Agung
-
BMKG Prediksi Jakarta Kian Gerah pada September-Oktober Akibat Musim Kemarau dan El Nino
-
Wali Kota Bekasi Telepon Langsung Pramono, Minta Subsidi Transjabodetabek Tak Dipangkas