Suara.com - Jerman berkewajiban untuk menghormati dan merawat tugu peringatan Soviet yang dibangun terutama di wilayah timur negara itu. Namun, sejak dimulainya perang Ukraina, monumen ini semakin menjadi bahan perdebatan.
Setelah berakhirnya Perang Dunia II, empat tugu peringatan didirikan oleh Tentara Merah di Berlin. Mereka dimaksudkan untuk memperingati Tentara Merah Uni Soviet yang tewas, terutama mereka yang tewas dalam Pertempuran Berlin.
Ini bukan hanya monumen yang memperingati kemenangan, tetapi juga situs peringatan dengan kuburan militer. Berlin secara hukum berkewajiban untuk memelihara tugu peringatan Soviet: sebagai bagian dari perjanjian 1990 antara Republik Federal Jerman, Jerman timur (DDR) dan empat kekuatan pemenang Perang Dunia Kedua, dimana pelestarian dan pemeliharaan tugu peringatan juga disepakati.
Serangan warna pada tugu peringatan di Treptower Park Memorial Perang Soviet di Treptower Park adalah monumen terbesar dari jenisnya di Jerman dan peringatan terpenting bagi tentara Soviet di Berlin.
7000 tentara dari seluruh bekas republik Soviet dimakamkan di lima kuburan di sekitarnya. Pada awal April, orang-orang tak dikenal mengoleskan slogan-slogan anti-Rusia di tugu peringatan itu.
Para pelaku menyemprotkan slogan-slogan seperti "Darah Ukraina di Tangan Rusia" atau "Matilah Semua Orang Rusia" dengan cat merah, dan beberapa hari kemudian simbol "Z" dan slogan-slogan seperti "Pembunuh" atau "Orc".
Monumen itu sekarang dalam pengawasan yang ketat dan polisi sedang mencari para pelakunya.
Justus H. Ulbricht, sejarawan Jerman dan direktur pelaksana asosiasi "Denk Mal Fort!" sangat yakin bahwa merobohkan atau mengotori monumen tidak akan ada gunanya: "Apa yang Anda lihat di Treptow adalah monumen heroik. Kecintaan terhadap pahlawan ini telah menurun drastis di Jerman. Monumen semacam sebelumnya sudah diperdebatkan."
Tetapi sejarawan berpikir bahwa setiap monumen adalah bagian dari sejarah kota. "Suara saya adalah: biarkan saja, biarkan membuat orang berbicara, berkomentar." Apa yang akan terjadi dengan Museum Jerman-Rusia? Hingga 24 Februari, bendera Ukraina, Rusia, Belarusia, dan Jerman digantung di depan gedung Museum Jerman-Rusia (Deutsch-Russischen Museum) di Berlin-Karlshorst.
Baca Juga: Tak Disangka, Kendaraan Perang Rusia Masih Gunakan Ban dari Era Uni Soviet
Sekarang hanya bendera Ukraina yang tergantung di sana. "Banyak orang percaya bahwa kami ingin membuat orang melupakan prestasi Tentara Merah dan peran Uni Soviet dalam Perang Dunia II dengan hanya mengibarkan bendera Ukraina. Itu sama sekali tidak benar. Itu tanda solidaritas dengan Ukraina. Sebelumnya kami mengibarkan semua bendera karena bangsa-bangsa itulah yang bekerja bersama di sini," kata direktur museum Jörg Morré dalam sebuah wawancara dengan DW.
Di gedung yang kini menjadi museum itu ditandatangani penyerahan tanpa syarat Jerman pada 8 Mei 1945.
Museum ini didirikan bersama oleh Republik Federal Jerman dan Federasi Rusia pada tahun 1994 dalam bentuk hukum asosiasi, di mana museum nasional Perang Dunia II Ukraina dan Belarus bergabung sebagai anggota pada tahun 1997/98.
Setelah didesain ulang, museum di Karlshorst dibuka kembali pada Mei 1995 sebagai Museum Jerman-Rusia. Mengingat invasi Rusia ke Ukraina, manajemen museum memutuskan untuk menggunakan nama "Museum Berlin-Karlshorst" yang dimasukkan dalam daftar asosiasi, karena itu dimaksudkan untuk memperingati semua korban Soviet dari perang pemusnahan Jerman, terlepas dari kebangsaan mereka.
"Federasi Rusia berusaha untuk menasionalisasi kemenangan Soviet, memonopolinya, dan dalam beberapa kasus setiap pendekatan kooperatif digunakan. Saat ini, hanya jarak yang membantu kami. Hanya tanda yang sangat jelas yang membantu di sini," kata direktur museum Jörg Morré. (vlz/pkp)
d
Berita Terkait
-
Babak Baru Tragedi Benhil: Polisi Bidik Agen dan Majikan Buntut PRT Tewas Terjun dari Lantai 4!
-
Gatot Nurmantyo dan Eks Panglima TNI Bahas Izin Lintas Udara, Menhan Sjafrie: Kepentingan Nasional
-
Acer Edu Summit 2026: Inovasi AI Ubah Cara Belajar, Ini Teknologi dan Strategi Pendidikan Masa Depan
-
Tak Cuma Outflow, Rebalancing MSCI Justru Bisa Picu Aksi Borong Saham
-
Arsenal dan Atletico Madrid Bersaing Rekrut Julian Brandt
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
Terkini
-
Iran Kecam Usulan Italia Gantikan Posisi Timnas di Piala Dunia 2026: Kebangkrutan Moral
-
Tarif Rp1 Bikin Transjakarta Diserbu, Penumpang Membludak di Kampung Rambutan
-
Orang Kencing Sembarangan Makin Tak Terkendali, Walkot New York Mau Bangun Toilet Rp62 Miliar
-
Lansia 71 Tahun Gagal Putar Balik, Honda HRV Tabrak Pejalan Kaki hingga Depot Air di Jakbar!
-
Donald Trump Longgarkan Aturan Ganja Medis, Pak Prabowo Gak Mau Ikutan?
-
DPR Ingatkan Risiko Global di Balik Wacana Tarif Kapal Selat Malaka
-
Bikin Skenario Brutal Serang Orang Yahudi, Dua Remaja AS Terancam Hukuman Berat
-
KPK Dalami Aliran Dana CSR di Kasus Madiun, Dirut Perumda Ikut Diperiksa
-
Jakarta Jadi Sering Mati Lampu, ESDM Investigasi Dugaan Kerusakan Gardu PLN, Apa Penyebabnya?
-
Prabowo Harus Diturunkan? Kritik Keras Saiful Mujani soal Ancaman Konstitusi dan Demokrasi