Suara.com - Mei 2021, perang besar-besaran meletus di Gaza antara Israel dan Hamas. Setahun kemudian, suasana masih sunyi dan tegang. Warga takut akan kemungkinan pecahnya konflik baru.Jajaran tanaman melon dan bunga matahari membentang ke arah pagar keamanan yang mengelilingi Jalur Gaza.
Di kejauhan terlihat pinggiran Kota Gaza. Setahun lalu saat perang meletus, wilayah komunitas (kibbutz) Nahal Oz dan area ladang mereka di selatan Israel menjadi zona militer tertutup. "Kami di sini hanya 500 meter dari perbatasan dengan Gaza," kata Daniel Rahamim, seorang anggota kibbutz.
"Tahun lalu, kami habiskan sebagian besar waktu dengan tinggal di dalam bunker."
Setahun kemudian suasana berangsung tenang, tapi tetap tidak stabil. "Sekarang tenang, tapi dalam satu menit bisa terjadi perang karena sesuatu telah terjadi di Yerusalem. Namun, kami berusaha menerima dan hidup dalam keadaan ini," ujar Daniel Rahamim.
Sore hari pada 10 Mei 2021, Hamas dan faksi Palestina lainnya meluncurkan serangan roket ke Yerusalem, Israel membalas tembakan.
Perang habis-habisan pun terjadi selama 11 hari berikutnya. Di Gaza, 261 warga Palestina termasuk warga sipil, anak-anak, dan militan tewas, menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan. Sementara di Israel, Iron Dome dapat memblokade sebagian besar roket dari Gaza.
Korban jiwa Israel mencapai 16 orang termasuk anak-anak, pekerja asing, dan seorang tentara. Konflik tersebut diawali konfrontasi berminggu-minggu antara warga Palestina dan polisi Israel di Masjid Al Aqsa di Kota Tua Yerusalem, salah satu situs tersuci bagi umat Islam.
Konfrontasi lain terjadi di wilayah Yerusalem timur Sheikh Jarrah, tempat sejumlah keluarga Palestina menunggu keputusan apakah akan diusir dari rumah mereka karena rencana pembangunan pemukiman Yahudi.
Sunyi dan tegang di selatan Israel Bagi Nadav Peretz, pekerja sosial di Pusat Ketahanan Sha'ar Ha Negev dekat kota Sderot, konflik ini berbeda dari konflik sebelumnya. "Sangat, sangat intens. Kami dihujani ratusan roket dalam 11 hari, saya tidak ingat jumlah pastinya. Ada sekitar 20 hingga 50 tanda bahaya setiap harinya," katanya.
Baca Juga: Israel Larang Menteri Belgia Masuk Jalur Gaza
Menurut Pasukan Pertahanan Israel, lebih dari 4.000 roket ditembakkan oleh Hamas, Jihad Islam, dan kelompok militan lainnya di Gaza ke Israel. Banyak yang ditujukan ke wilayah selatan dan kota-kota besar seperti Tel Aviv.
Militer Israel mengatakan telah menyerang lebih dari 1.500 target di Jalur Gaza, termasuk di antaranya sistem terowongan bawah tanah.
Bahkan hingga kini, apa yang oleh warga setempat disebut sebagai sirene 'peringatan merah' bisa berbunyi setiap saat. Ini adalah sirene yang memperingatkan penduduk akan adanya roket atau mortir yang ditembakkan oleh gerilyawan Palestina di Gaza ke Israel. Orang-orang hanya punya waktu maksimal 15 detik untuk mencari perlindungan.
Di pusat pemulihan Sderot di Distrik Selatan Israel, relawan spesialis trauma terus bekerja sepanjang tahun untuk membantu penduduk dan komunitas lokal mengatasi tekanan dan trauma dari ancaman yang sampai saati ini masih berlangsung.
"Kami memberi tahu orang-orang, bahwa adalah normal jika kita bereaksi terhadap situasi yang tidak normal," kata Peretz.
Gaza setelah perang terakhir Sementara di seberang pagar pengaman, di Gaza, kenangan dan trauma pertempuran sengit Mei tahun lalu juga masih terasa hingga hari ini.
Berita Terkait
-
OJK Resmi Bubarkan Dana Pensiun PELNI, Ini Penyebabnya
-
Segera Tayang, Realita Gen Z Mengejar Mimpi dan Cinta Hadir di Web Series Yang Penting Ada Cinta
-
5 BMW Bekas di Bawah Rp50 Juta yang Bikin Perlente, Mewah Dibawa Ke Tongkrongan
-
IHSG Cetak Rekor ke Level 9.000, BEI: Kepercayaan Investor Makin Kuat
-
Persik Kediri Resmi Lepas Khursidbek Mukhtarov di Bursa Transfer Paruh Musim BRI Super League 2025
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Biodata dan Agama DJ Patricia Schuldtz yang Resmi Jadi Menantu Tommy Soeharto
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- 5 Sepatu Jalan Lokal Terbaik Buat Si Kaki Lebar Usia 45 Tahun, Berjalan Nyaman Tanpa Nyeri
- DPUPKP Catat 47 Hektare Kawasan Kumuh di Kota Jogja, Mayoritas di Bantaran Sungai
Pilihan
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Mengapa Purbaya Tidak Pernah Kritik Program MBG?
-
Kuburan atau Tambang Emas? Menyingkap Fenomena Saham Gocap di Bursa Indonesia
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
Terkini
-
Sidang Vonis Laras Faizati Digelar Hari Ini, Harapan Bebas Menguat Jelang Ulang Tahun Ke-27
-
Pascabanjir Sumatra, Penanganan Beralih ke Pemulihan Layanan Kesehatan dan Kebutuhan Dasar
-
Indonesia Tancap Gas Jadi Pusat Halal Dunia lewat D-8 Halal Expo Indonesia 2026
-
Literasi Halal Dinilai Masih Lemah, LPPOM Siapkan Pelajar Jadi Agen Perubahan
-
Jepang Studi Banding Program MBG di Indonesia
-
Kasus Korupsi LPEI Berkembang, Kejati DKI Tetapkan 4 Tersangka Baru dan Sita Aset Rp566 Miliar
-
Merasa Tak Dihargai, Anggota DPR Semprot Menteri KKP: Kami Seperti 'Kucing Kurap'
-
Korban Bencana Boleh Manfaatkan Kayu Hanyut, Kemenhut Juga Stop Penebangan Hutan
-
Politisi PDIP Ingatkan Prabowo: Jangan Buru-buru Bangun IKN, Siapkan Dulu Ekosistemnya
-
Bukan Sekadar Banjir: Auriga Desak KLHK dan KPK Usut Dugaan Korupsi di Balik Perusakan Lahan PT TPL