Suara.com - Epidemiolog menyatakan dunia sudah tidak sama lagi seperti sebelum pandemi COVID-19. Dunia makin rawan dan rentan dengan penyakit menular.
Hal itu dikatakan Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman.
Kondisi dunia saat ini semakin rawan berbagai jenis wabah dan lahirnya varian virus selain COVID-19 yang dapat mengancam kualitas kesehatan manusia.
Kondisi Bumi saat ini sudah jauh lebih buruk.
Kualitas udara baik di dalam maupun luar ruangan kian hari tidak membaik.
Akibatnya, banyak penyakit yang menyebabkan terjadinya infeksi pada saluran pernapasan atas.
“Ini harus disadari bahwa dunia sudah tidak sama lagi seperti sebelum pandemi COVID-19. Dunia semakin rawan, semakin rentan terhadap penyakit menular khususnya yang (menularkan, red.) lewat udara,” kata dia di Jakarta, Senin.
Sementara itu perilaku manusia yang semakin berubah dan terkadang tidak peduli dengan alam.
Itu juga menjadi salah satu penyebab munculnya wabah ataupun virus yang dapat membahayakan kesehatan manusia.
Baca Juga: Ilmuwan: Bayi yang Lahir Selama Masa Pandemi Covid-19 Alami Dampak pada Perkembangannya
“Masing-masing sudah harus bisa menilai, ada di mana kita, apakah kualitas udara di kantor misalnya itu sudah diperbaiki? Sebenarnya seperti masalah COVID-19, jangan hanya vaksinasi tapi kualitas udara juga harus diperbaiki. Apakah AC dalam ruangan sudah pakai ultraviolet atau sirkulasi udaranya bagaimana,” ujar dia.
Belajar dari pengalaman wabah kolera atau infeksi penyakit yang ditularkan melalui air yang sudah terkontaminasi, Dicky mengatakan semua pihak harus meningkatkan pengetahuan akan sebab akibat serta upaya melindungi diri dari sebuah wabah tersebut.
Misalnya saat wabah kolera, cara yang dapat dilakukan adalah memperbaiki kualitas air dan mengubah perilaku hidup jadi lebih bersih, sedangkan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk melindungi diri dari polusi ataupun penularan penyakit melalui udara adalah dengan menggunakan masker.
Berdasarkan salah satu riset terkait penggunaan masker saat pandemi COVID-19, ia membeberkan bahwa masker dapat menurunkan sampai 80 persen risiko penularan pada saat berhadapan dengan gelombang varian COVID-19.
Dicky mengatakan negara yang mewajibkan warganya untuk memakai masker memiliki jumlah kematian yang lebih rendah.
Perbandingan kematiannya bisa mencapai 50 per satu juta orang dengan negara yang tidak mewajibkan menggunakan masker ketika terjadi gelombang besar seperti akibat varian Delta lalu.
Berita Terkait
-
Efek Domino Pandemi Bikin Harga Mobil Bekas Gagal Turun
-
Ancaman Penyakit Menular di Piala Dunia 2026: Dari Campak hingga Ebola
-
Piala Dunia 2026 Dihantui Penyebaran Penyakit Menular dari Campak, Hepatitis Hingga Ebola
-
Thailand Tetapkan Virus Hanta sebagai Penyakit Menular Berbahaya, Indonesia Kapan?
-
'Kiamat' Pandemi COVID-19 Bisa Terulang Jika Selat Hormuz Terus Diblokir Iran
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
AMMSI Dukung BGN Sesuaian Operasional SPPG: Tak Ada Ruang Bagi Dapur Bermasalah
-
Konvoi Berubah Maut, Tiga Remaja Diciduk dalam Kasus Pengeroyokan di Depan Terminal Grogol
-
KPK Dalami Asal-Usul Aset Silmy Karim yang Disita dalam Kasus Izin Tinggal WNA
-
GKR Hemas Ajak Generasi Muda Bangun Kepemimpinan Berbasis Nilai Budaya
-
GERD Kambuh, Dokter Tifa Pakai Kursi Roda usai Pemeriksaan di RS Polri
-
Maraton Geledah Tiga Lokasi di Bali, KPK Amankan Barang Bukti Kasus Pemerasan WNA
-
Penyakit Bawaan Ditemukan Saat Pemeriksaan, Roy Suryo dan Dokter Tifa Dirawat di RS Polri
-
KPK Dalami Dugaan Penerimaan Uang Hasil Pemerasan WNA dalam Kasus Silmy Karim
-
Anak 5 Tahun Bongkar Dugaan Pembunuhan Ibunya di Tambora
-
KPK Cecar Yaqut soal Barang Bukti Kasus Korupsi Haji yang Telah Dikumpulkan Penyidik