Suara.com - Sejak tentara Rusia menyerbu Ukraina hampir empat bulan lalu, ribuan warga sipil tewas dan banyak kota hancur. Jutaan warga Ukraina juga telah meninggalkan rumah mereka.
Namun, pada Kamis (16/6), Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov menatap mata saya dan mengatakan bahwa keadaannya tidak seperti yang terlihat.
"Kami tidak menginvasi Ukraina," klaimnya.
"Kami mendeklarasikan operasi militer khusus karena kami benar-benar tidak punya cara lain menjelaskan ke Barat bahwa membawa Ukraina ke dalam NATO adalah tindakan kriminal."
Baca juga:
- Putin akhirnya akui operasinya di Ukraina adalah perampasan wilayah
- Misteri 'Babushka Z', nenek Ukraina yang jadi ikon propaganda Rusia
- 'Tentara Rusia memukuli saya dan menyebutnya re-edukasi'
Sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari, Lavrov hanya memberikan segelintir kesempatan wawancara kepada media Barat.
Dia mengulangi pernyataan resmi Kremlin bahwa ada pendukung Nazi di Ukraina. Para pejabat Rusia kerap mengklaim militer sedang "mende-Nazifikasi Ukraina.
Baru-baru ini Lavrov menimbulkan kemarahan ketika dia berupaya menjustifikasi ejekan Nazi terkait presiden Ukraina—yang merupakan seorang Yahudi—dengan melontarkan klaim absurd bahwa Adolf Hitler "berdarah Yahudi".
Saya membacakan laporan resmi PBB kepada Lavrov mengenai insiden di Desa Yahidne, kawasan Chernihiv, Ukraina.
Baca Juga: Beredar Konten Tentang Perang Rusia - Ukraina, Senator Amerika Tegur TikTok
Dalam laporan itu disebutkan sebanyak "360 warga, termasuk 74 anak dan lima orang difabel, dipaksa pasukan bersenjata Rusia untuk menetap selama 28 hari di ruang bawah tanah sebuah sekolah….Tidak ada fasilitas toilet, air…10 lansia meninggal dunia".
"Apakah itu memerangi Nazi?" tanya saya.
"Sungguh disayangkan," kata Lavrov, "tapi diplomat-diplomat internasional, termasuk Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Sekretaris Jenderal PBB, dan perwakilan PBB lainnya, berada dalam tekanan Barat. Sangat sering mereka digunakan untuk menggaungkan berita bohong yang disebarkan Barat".
"Rusia tidak bersih. Rusia apa adanya. Dan kami tidak merasa malu memperlihatkan diri kami."
Pria 72 tahun ini telah mewakili Rusia di panggung internasional selama 18 tahun terakhir. Namun, kali ini rangkaian sanksi Barat diterapkan terhadap dia dan putrinya.
Amerika Serikat (AS) menuding Lavrov melontarkan narasi bohong bahwa Ukraina adalah pihak agresor. Sebagai perwakilan Rusia dalam Dewan Keamanan, Lavrov juga disebut bertanggung jawab langsung atas invasi Rusia.
Saya kemudian melanjutkan topik ke hubungan Rusia dan Inggris. Inggris kini berada dalam daftar resmi negara-negara yang tidak bersahabat dengan Rusia.
Bulan lalu, menteri luar negeri Inggris mengatakan bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, mempermalukan dirinya di panggung dunia sehingga "kita harus memastikan dia menghadapi kekalahan di Ukraina".
Bagaimana tanggapan Lavrov?
"Saya pikir bahkan tiada ruang lagi untuk bermanuver," kata Lavrov, "karena baik [Perdana Menteri Boris] Johnson dan [Liz] Truss mengatakan secara terbuka bahwa Rusia harus dikalahkan dan Rusia harus dipaksa bertekuk lutut. Ayo, lakukanlah!"
Ketika ditanya bagaimana Lavrov memandang Inggris saat ini, dia berkata bahwa Inggris "kembali mengorbankan kepentingan rakyatnya demi ambisi politik"
Saya bertanya mengenai dua pria Inggris yang baru-baru ini dihukum mati oleh kelompok separatis Rusia di wilayah timur Ukraina yang diduduki Rusia.
Saat saya memaparkan bahwa dalam pandangan Barat, Rusia bertanggung jawab atas nasib mereka, Lavrov merespons: "Saya sama sekali tidak tertarik tentang pandangan Barat. Saya hanya tertarik pada hukum internasional. Menurut hukum internasional, tentara bayaran tidak diakui sebagai kombatan".
Saya menanggapi bahwa kedua pria itu telah menjalani dinas militer Ukraina dan bukan tentara bayaran, tapi Lavrov mengatakan hal itu harus diputuskan pengadilan.
Dia kemudian menuduh BBC tidak mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada warga sipil di kawasan kekuasaan separatis di kawasan timur Ukraina, "tatkala warga sipil dibombardir oleh pasukan Kyiv selama delapan tahun".
Saya menekankan bahwa selama enam tahun, BBC telah berulang kali menghubungi pimpinan di kawasan yang diduduki separatis guna meminta izin mengunjungi dan menyaksikan kondisi di sana. Kami selalu ditolak masuk.
Rusia menuding Ukraina melakukan genosida. Namun, pada 2021, delapan warga sipil tewas di kawasan-kawasan yang diduduki pemberontak, menurut orang-orang yang menyebut diri "pejabat-pejabat" pro-Rusia. Tahun sebelumnya ada tujuh yang tewas. Saya bilang setiap kematian adalah tragedi, tapi itu tidak tergolong genosida.
Saya mengatakan kepada Lavrov, jika genosida benar-benar terjadi, maka kelompok separatis di Luhansk dan Donetsk akan tertarik membuka pintu untuk wartawan BBC. Mengapa kami tidak diperbolehkan masuk? Tanya saya.
"Saya tidak tahu," kata Lavrov.
Reportase tambahan oleh Paul Kirby.
Berita Terkait
-
Warga Rusia Dibatasi Beli Bensin Usai Serangan Drone Ukraina Bakar Kilang Minyak Moskow
-
AS-Iran Sudah Damai, Rusia Masih Perang, Kilang Minyak Moskow Hancur Dihantam Drone Ukraina
-
Teruji di Medan Perang Ukraina, Sky-Watch Luncurkan Drone Canggih RQ-70 Dainn
-
Christian Eriksen Beri Kabar Terkini Setelah Kolaps di Lapangan, Kini Sudah Pulang ke Rumah
-
Pelatih Denmark Ungkap Kondisi Christian Eriksen Usai Kolaps Saat Lawan Ukraina
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Dituding Ikut Demo Bayaran dan Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Kepercayaan Polri Tembus 82,4 Persen, Habiburokhman: Jangan Puas Diri, Terus Berbenah
-
Prabowo Tanya Akademisi: Kenapa 81 Tahun RI Tidak Bisa Bikin Mobil Buatan Sendiri?
-
Sikat Parkir Liar di Cawang, 250 Personel Gabungan Derek Mobil yang Nekat Bandel!
-
Perempuan Didorong Jadi Aktor Utama Ekonomi Restoratif, Tak Lagi Sekadar Penerima Manfaat
-
Terkuak! Ini Pemicu Longsor Petamburan: Dari Abrasi Kali BKB hingga Bangunan di Sempadan
-
Sekjen Partai Buruh Ferri Nuzarli Mundur! 1,3 Juta Anggota ORI Kompak Tinggalkan Partai
-
Prabowo Singgung Kegaduhan Usai Pemilu, Istana Langsung Klarifikasi
-
Sentil Pihak yang Suka Gaduh Usai Pemilu, Prabowo: Saya Kalah 4 Kali Tak Pernah Ribut
-
Penolakan JC Sony Sonjaya Dinilai Hambat Pengungkapan Nama-Nama Penting di Kasus MBG
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4