Suara.com - Geeta Pandey
BBC News, Delhi
Bilkis Bano, korban pemerkosaan massal, dan menjadi saksi atas pembunuhan 14 anggota keluarganya oleh massa Hindu pada kerusuhan anti-Muslim 2002 di negara bagian Gujarat, India kembali menjadi sorotan media.
Sebelas terpidana yang menjalani hukuman seumur hidup karena pemerkosaan dan pembunuhan dalam kasus ini, keluar dari penjara dan disambut bak pahlawan Senin (15/08).
Sebuah video yang sejak saat itu viral, menunjukkan barisan pria keluar dari penjara Godhara, dan kerabat mereka memberikan makanan sebagai bentuk perayaan, dan menyentuh kaki mereka sebagai bentuk rasa hormat.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan Rabu malam (17/08), Bilkis Bano menyebut keputusan untuk membebaskan para narapidana tersebut sebagai "tidak adil" dan "mengguncang" keyakinannya atas keadilan.
"Ketika saya dengar para narapidana yang telah menghancurkan hidup saya dan keluarga saya melenggang bebas, saya kehabisan kata-kata. Saya masih tak berdaya," katanya.
"Bagaimana bisa keadilan bagi perempuan mana pun berakhir seperti ini? Saya percaya dengan pengadilan tertinggi di negara ini. Saya percaya dengan sistem, dan saya belajar perlahan untuk bangkit dari trauma. Pembebasan para narapidana ini telah merenggut kedamaian saya, dan mengguncang keyakinan saya pada keadilan," tulisnya.
Ia juga meminta pemerintah Gujarat untuk "membatalkan kesalahan ini" dan "kembalikan hak saya untuk hidup tanpa rasa takut dan damai".
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Rincian dari isi artikel ini bisa mengganggu kenyamanan pembaca
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Keputusan membebaskan para tahanan ini diumumkan pemerintah Gujarat pada Senin (15/08) di tengah perayaan hari kemerdekaan ke-75.
Seorang pejabat senior mengatakan panel pemerintah mengabulkan permohonan remisi dari para tahanan itu - pertama kali dihukum oleh pengadilan pada 2008 - telah menghabiskan lebih dari 14 tahun penjara, dan juga atas pertimbangan lain seperti usia dan perilaku di dalam penjara.
Langkah yang diambil pemerintah Gujarat yang dikuasai partai nasionalis Hindu Bharatiya Janata Party (BJP) - yang juga berkuasa secara nasional - menuai kemarahan publik di India.
Hal ini dikritik partai oposisi, aktivis dan sejumlah jurnalis yang menyebut hal ini tidak etis, dan diskriminatif terhadap kelompok minoritas Muslim India.
Serangan terhadap komunitas Muslim makin meningkat tajam sejak BJP membentuk pemerintahan federal pada 2014.
Banyak juga yang menyatakan bahwa pembebasan ini bertentangan dengan pedoman yang dikeluarkan pemerintah federal dan pemerintah negara bagian Gujarat.
Pedoman itu menyebutkan bahwa narapidana pemerkosaan dan pembunuhan tak berhak mendapat remisi.
Hukuman penjara seumur hidup atas kejahatan seperti ini di India, biasanya berlaku sampai narapidana mati di tahan.
Hal ini diperkirakan menjadi sebuah kemunduran besar bagi Bilkis Bano dan keluarganya.
Kemarahan dan kesedihan dari pihak keluarga korban sangat mudah dimengerti mengingat besarnya kejatahan dan perjuangan yang berlarut-larut untuk mendapatkan keadilan.
Serangan terhadap Bilkis Bano dan keluarganya merupakan salah satu kejahatan paling mengerikan selama periode kerusuhan yang dimulai setelah 60 peziarah Hindu tewas dalam kebakaran di dalam kereta penumpang di kota Godhra.
Kelompok Muslim dituding mulai menyulut api kebakaran di kereta tersebut.
Atas tudingan ini, kelompok Hindu kemudian mengamuk, menyerang para tetangga mereka yang Muslim.
Selama tiga hari, lebih dari 1.000 orang tewas, kebanyakan dari mereka adalah Muslim.
Narendra Modi yang saat itu menjadi kepala menteri Gujarat dikritik karena tidak melakukan upaya yang cukup untuk mencegah pembantaian.
Dia selalu menyangkal melakukan kesalahan, dan tidak meminta maaf atas kerusuhan tersebut.
Pada 2013, panel Mahkamah Agung juga mengatakan bahwa tidak ada cukup bukti untuk menuntut Narendra Modi.
Tapi kritik terus berlanjut, menyalahkannya atas kerusuhan yang terjadi berada di bawah pengawasannya.
Selama bertahun-tahun, pengadilan juga menghukum puluhan orang yang terlibat dalam kerusuhan, tapi beberapa terdakwa terkenal mendapatkan jaminan atau dibebaskan oleh pengadilan yang lebih tinggi.
Dalam hal ini, termasuk Maya Kodnani, mantan menteri dan ajudan Modi, yang oleh pengadilan disebut sebagai "gembong kerusuhan".
Dan sekarang, orang-orang yang menganiaya Bilkis Bano juga dibebaskan.
Saya bertemu Bilkis Bano pada Mei 2017 di sebuah rumah aman di Delhi, hanya beberapa hari setelah Pengadilan Tinggi Bombay mengkonfrimasi hukuman seumur hidup bagi 11 terdakwa dalam kasusnya.
Sambil menahan air mata, dia kembali menceritakan serangan mengerikan tersebut.
Pagi hari setelah insiden kebakaran gerbong kereta, Bilkis Bano - yang saat itu berusia 19 tahun dan sedang mengandung anak kedua - mengunjungi orang tuanya di satu kampung, Rndhikpur, dekat Godhra bersama dengan putrinya yang berusia tiga tahun.
"Saya sedang berada di dapur membuat makan siang, tiba-tiba bibi saya dan anaknya datang berlari. Mereka mengatakan, rumah mereka sudah dibakar, dan kami harus pergi secepatnya," katanya kepada saya. "Kami pergi hanya dengan pakaian yang melekat di badan, kami bahkan tak punya waktu untuk memakai sandal."
Bilkis Bano bergabung dengan 17 Muslim lainnya, termasuk putrinya, ibunya, sepupunya yang sedang hamil, dan adiknya yang paling muda, keponakan dan dua pria dewasa.
Beberapa hari kemudian, mereka pergi dari desa ke desa, mencari tempat berlindung di masjid atau hidup dari orang-orang Hindu yang baik.
Baca Juga:
- India menghancurkan sejumlah rumah tokoh Islam setelah rangkaian aksi protes ujaran tentang Nabi Muhammad
- Siapakah Nupur Sharma, perempuan India yang menggemparkan dunia Islam melalui ujaran tentang Nabi Muhammad?
Pada tanggal 3 Maret pagi, saat mereka pergi ke desa terdekat di mana mereka yakin akan lebih aman, sekelompok pria mencegat mereka.
"Mereka menyerang kami dengan pedang dan tongkat. Salah satu dari mereka merenggut putri saya, dan melemparkannya ke tanah dan membenturkan kepalanya ke batu."
Para penyerang itu adalah tetangganya sendiri dari satu desa, yang hampir setiap hari bertemu. Mereka merobek pakaian Bilkis, dan sebagian dari mereka memperkosanya tanpa menghiraukan permintaan ampun dan belas kasihan.
Sepupunya, yang baru melahirkan dua hari sebelumnya -saat dalam pelarian- juga ikut diperkosa. Ia dan bayinya dibunuh.
Bilkis Bano selamat karena pingsan, dan para penyerang pergi, dan merasa yakin kalau ia sudah meninggal.
Dua anak - berusia tujuh dan empat tahun - adalah satu-satunya yang selamat pembantaian tersebut.
Perjuangan Bilkis Bano mendapatkan keadilan membutuhkan waktu lama, dan mengerikan.
Sejumlah polisi dan pejabat pemerintah berusaha untuk mengintimidasinya, bukti-bukti dihancurkan, dan mereka yang meninggal dikubur tanpa proses otopsi.
Para dokter yang memeriksanya mengatakan bahwa dia tidak diperkosa, dan Bilkis juga mendapatkan ancaman pembunuhan.
Tapi semua bukti-bukti intimidasi ini telah didokumentasikan dengan baik.
Penangkapan pertama dalam kasus ini terjadi pada 2004 setelah Mahkamah Agung India mengambil alih kasusnya dari penyidik federal.
Pengadilan tertinggi ini juga sepakat bahwa pengadilan di Gujarat tak bisa memberikan keadilan bagi Bilkis, dan mengalihkan kasusnya ke Mumbai.
Perjuangannya untuk mendapatkan keadilan juga telah mengusik keluarganya - mereka telah berpindah-pindah rumah belasan kali.
"Kami masih tak bisa pulang [ke kampung halaman] karena kami takut. Polisi dan pejabat pemerintah negara bagian selalu membantu para penyerangan kami. Ketika berada di Gujara, kami masih menutupi wajah, kami tak pernah memberikan alamat kami," kata suaminya kepada saya.
Selama proses persidangan, ada seruan hukuman mati untuk para terdakwa yang menyerang Bilkis Bano. Seruan ini juga disuarakan oleh Bilkis.
Tapi setelah pengadilan tinggi di Mumbai menjatuhkan hukuman mereka seumur hidup penjara, Bilkis mengatakan "tidak tertarik dengan dendam" dan "hanya ingin mereka mengerti apa yang telah mereka lakukan".
"Saya berharap, mereka suatu hari nanti menyadari kekejaman dari kejahatan mereka, bagaimana mereka membunuh anak-anak kecil dan memperkosa perempuan."
Tapi, ia juga menginginkan agar mereka "menghabiskan seluruh hidupnya di penjara".
Pada Selasa (16/08), Rasool mengatakan kepada surat kabar Indian Express bahwa istrinya "sedih dan tertekan".
"Pertempuran yang kami perjuangkan selama bertahun-tahun selesai begitu saja dalam satu momentum," katanya.
"Kami bahkan tidak punya waktu untuk mencerna informasi terbaru ini, dan yang kami tahu para narapidana sudah tiba di rumahnya masing-masing."
Berita Terkait
-
Sidang Gugatan Ucapan Fadli Zon Soal Pemerkosaan Massal 98: Psikolog UI Ditegur Hakim karena Minum
-
Korban Pemerkosaan Massal '98 Gugat Fadli Zon: Trauma dan Ketakutan di Balik Penyangkalan Sejarah
-
Tuntutan TGPF 98 di PTUN: Desak Fadli Zon Cabut Pernyataan dan Minta Maaf ke Publik
-
Fadli Zon Digugat ke Pengadilan, Korban Pemerkosaan 1998 Titipkan Pesan Mendalam!
-
Penyangkalan Pemerkosaan Massal 1998 Berbuntut Panjang, Fadli Zon Digugat ke Pengadilan
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
Pilihan
-
Danantara Tunjuk Teman Seangkatan Menko AHY di SMA Taruna Nusantara jadi Bos PT Pos
-
Kronologi Kecelakaan Bus vs Minibus di Pekanbaru, Tewaskan Bocah Perempuan
-
Diduga Kurang Berhati-hati, Minibus Nyemplung di Bundaran HI Usai Tabrak Pembatas Jalan
-
Usai Lebaran, Para Bos Anak Usaha Astra Kompak Mundur
-
Kronologi Pemudik Terjebak di Jalan Sawah Sleman Akibat Google Maps, Antrean Panjang Tak Terhindar
Terkini
-
Mendagri Sebut WFH 1 Hari Sepekan Tak Masalah, Kini Tinggal Tunggu Arahan Prabowo
-
Cerdas! Iran Mau Hancurkan Pusat Desalinasi Air Punya Israel, Warga Timur Tengah Bisa Mati Kehausan
-
Jelang Masuk Sekolah Usai Lebaran, KPAI Soroti Risiko Kelelahan hingga Tekanan Mental Anak
-
Analisis: Waktunya Pakai Energi Terbarukan saat Krisis BBM karena Perang Iran
-
Diperiksa Penyidik Usai Kembali ke Rutan KPK, Yaqut: Mohon Maaf Lahir Batin
-
Diduga Kurang Berhati-hati, Minibus Nyemplung di Bundaran HI Usai Tabrak Pembatas Jalan
-
Gubernur DKI Tunggu Keputusan Pusat soal WFH ASN untuk Efisiensi BBM
-
Australia Lumpuh, SPBU Kehabisan BBM Imbas Perang Iran
-
KPK Panggil Ulang Gus Yaqut Hari Ini, Ada Apa Setelah Status Penahanan Kembali ke Rutan?
-
Iran Ajak Negara Arab Bersatu Bentuk Pakta Pertahanan Berbasis Al Quran