Suara.com - Parlemen Australia meloloskan rancangan undang-undang (RUU) mengenai peningkatan target pemerintah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 43 persen pada 2030, pada Kamis (8/9) waktu setempat.
Senat mengesahkan legislasi itu dengan suara 37 berbanding 30. Namun, VOA Indonesia melaporkan bahwa beberapa senator yang mendukung RUU tersebut menginginkan target yang lebih ambisius.
Pemerintah Partai Buruh, dengan haluan kiri tengah, secara resmi berkomitmen agar Australia mencapai target 43 persen itu setelah berkuasa untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun pada pemilu Mei lalu.
Pemerintah juga memasang target meloloskan RUU itu sebagai undang-undang karena hal itu akan mempersulit pemerintah di masa mendatang untuk mengubah target itu.
Menteri Perubahan Iklim dan Energi Chris Bowen mengatakan keputusan senat itu memberikan kepastian bagi para investor energi bersih serta memperkuat transparansi dan akuntabilitas dalam proses pengurangan karbon Australia.
“Pesan kepada investor adalah bahwa Australia terbuka untuk bisnis,'' Bowen mengatakan kepada parlemen.
Pihak oposisi, Partai Konservatif, menentang RUU tersebut dan mengusulkan target pengurangan emisi antara 26 dan 28 persen sejak 2015.
Senator independen David Pocock menuntut sejumlah amendemen terkait transparansi dan akuntabilitas sebelum mendukung RUU tersebut.
RUU itu sebelumnya lolos di Dewan Perwakilan Rakyat, di mana pemerintah merupakan mayoritas. Sementara itu, pemerintah hanya memegang 26 dari 76 kursi di senat.
Para senator Partai Hijau mendukung ambisi 43 persen tersebut setelah mereka gagal mengajukan target pengurangan emisi sedikitnya 75 persen dan pelarangan proyek batu bara serta gas Australia di masa depan.
Berita Terkait
-
Bawa Masuk Daging Olahan ke Australia Kini Dilarang
-
Migran Sulit Cari Kerja Teknik di Australia, Padahal Banyak Lowongan
-
Petenis Australia Nick Kyrgios Didenda Total Rp483 Juta karena Banting Raket dan Berkata Kasar, Lawannya Nothing To Lose
-
Australia Larang Impor Daging ke Negara dengan Kasus PMK Termasuk Indonesia
-
Profil Graham Arnold, Pelatih Timnas Australia di Piala Dunia 2022
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Terkait Reformasi Polri, Boni Hargens Apresiasi Komitmen Kapolri Listyo Sigit
-
Banyak Kasus Terlambat Ditangani, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Kanker Paru
-
Terbongkar! WNA China Sulap Apartemen Jakarta Jadi Pabrik Vape Narkoba Etomidate
-
Alih Fungsi Kali Ciputat dan Kelalaian Proyek Jadi Biang Kerok Banjir di Taman Mangu Indah?
-
Hakim Militer Minta Ahli Kimia Uji Campuran Air Keras dalam Kasus Andrie Yunus
-
Ade Armando Pamit dari PSI: Tameng untuk Jokowi atau Sekadar Strategi 'Cuci Tangan' Politik?
-
Siasat Licin Teroris JAD di Sulteng: Jualan Buah di Siang Hari, Sebar Propaganda ISIS di Medsos
-
Waka DPR Soroti Darurat Kekerasan Seksual di Pendidikan: Harus Ada Efek Jera dan Sanksi Berat!
-
Kata Pengamat Soal Rupiah Melemah: Jangan Panik, Tak Bakal Ganggu Daya Beli
-
Kemensos Siapkan Skema Transisi Dapur Mandiri Siswa Sekolah Rakyat