Suara.com - Anggota Komisi I DPR Christina Aryani merespons ancaman dari hacker untuk meretas data Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menurut Christina, munculnya ancaman itu menperlihatkan data di Indonesia yang mudah diretas.
Hal tersebut tentu harus menjadi perhatian serius dari pemerintah. Christina mengatakan, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang besar, dalam menjamin kemanan data pribadi.
"Upaya peretasan dalam bentuk apapun termasuk yang disampaikan oleh Dark Tracer memperlihatkan Indonesia memiliki pekerjaan rumah besar dalam upaya memberikan perlindungan optimal terhadap keamanan data," kata Christina kepada wartawan, Jumat (9/9/2022).
"Kerentanan Indonesia yang terlihat 'mudah' diretas menuntut keseriusan pemerintah untuk memastikan keamanan dan kedaulatan digital kita," katanya.
Komisi I, kata Christina tidak bosan-bosannya mengingatkan pemerintah untuk mengambil langkah perbaikan serius terkait keamanan data.
"Saling melempar tanggung jawab tidak menjawab persoalan yang ada. Kami menunggu langkah serius pemerintah," kata Christina.
Belakangan ini, warganet dibuat geger dan heboh soal kemunculan hacker berinisial Bjorka yang meretas data milik Pemerintah Republik Indonesia.
Hacker Bjorka bahkan sempat saling berseteru dengan Kominfo soal peretasan data usai lontarkan kata-kata menohok. Kini, terduga hacker Bjorka secara blak-blakan mengaku akan retas data milik presiden Indonesia.
Informasi tersebut diketahui dari unggahan cuitan akun @darktracer_int di jejaring media sosial Twitter pada Jumat (09/09/2022). Dalam cuitan itu terduga hacker Bjorka mengungkapkan niat peretasan data presiden Indonesia melalui kanal di Telegram.
Baca Juga: Menkominfo Ingatkan Publik Tak Jadikan Hacker Seperti Pahlawan yang Dielu-elukan
"The next will come from the presiden of Indonesia," tulis akun bernama Bjorka dilihat Beritahits.id, Jumat (09/09/2022).
Aksi yang diungkapkan Bjorka tersebut banyak diwarnai beragam reaksi oleh anggota kanal bernama 'Bjorkanism' tersebut. Sebagai informasi, menurut laporan akun @darktracer_int, Bjorka sendiri telah menargetkan untuk meretas data masyarakat Indonesia sejak 2020.
Sejauh ini, hacker Bjorka telah meretas dan menjual data pribadi dari situs Indihome, Komisi Pemilihan Umum (KPU), Kominfo, dan lainnya. Hingga saat ini pun belum diketahui, tujuan dan siapa sosok hacker Bjorka tersebut.
Alih-alih ketakutan dan khawatir, warganet Indonesia jutsru mendukung penuh aksi peretasan data yang hendak dilakukan oleh Bjorka.
Warganet menganggap, aksi hacker tersebut bisa menjadi sesuatu hal untuk pembuktian pemerintah terhadap keamanan data masyarakat. Dirangkum Beritahits.id, begini beragam tanggapan warganet soal informasi terduga hacker Bjorka yang hendak meretas data presiden.
"Gapapa bro, sikat aja. Data di Indonesia mah emang nggak ada harganya," tulis @monti***.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional
-
33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi
-
Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia
-
Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF
-
Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan
-
Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China
-
Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah
-
Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP
-
Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun
-
Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara