"Tribun penonton di Kanjuruhan belum 'single seat' sehingga tidak terukur. Inilah yang membuat ada pihak yang mengatakan 40 ribu atau 45 ribu orang di sana," katanya.
Ketidakjelasan itu membuat pihak PSSI sulit untuk memastikan apakah kapasitas Stadion Kanjuruhan dalam laga Arema FC versus Persebaya sebetulnya melebihi batas atau tidak.
Mereka juga menyalahkan panitia pelaksana atas data penonton yang simpang siur. Namun, Erwin kerap menyarankan agar ke depannya stadion-stadion di Indonesia bisa memakai kursi tunggal serta pendataan tiket yang akurat.
Tak sampai di situ, Komdis PSSI juga memberikan sanksi kepada Klub Arema FC itu sendiri. Mereka dilarang menjadi tuan rumah pertandingan sepak bola dan dikenakan denda sebesar Rp250 juta.
Erwin Tobing mengatakan bahwa terdapat kesalahan dan kelalaian dari Badan Pelaksana atau klub Arema FC saat laga tanding antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Sabtu lalu.
"Dari hasil sidang, Arema FC dilarang menyelenggarakan pertandingan dengan penonton sebagai tuan rumah dan harus dilaksanakan di tempat yang jauh dari Malang," kata Erwin.
Keputusan ini, lanjut Erwin, dibuat berdasarkan Pasal 69 Ayat 1, Ayat 2 dan Ayat 3 Kode Disiplin PSSI Tahun 2018, Arema FC dilarang menggelar laga sebagai tuan rumah.
"Pengulangan terhadap pelanggaran terkait hal di atas akan berakibat pada hukuman yang lebih berat. Ini adalah hasil sidang terhadap klub dan badan pelaksananya," lanjutnya.
Selain denda, Arema FC juga diperintahkan untuk pindah stadion. Mereka wajib mencari markas lain selain Stadion Kanjuruhan, jika ingin menggelar sisa laga kandang di Liga 1 2022-2023. Jaraknya sendiri harus 250 kilometer dari markas sebelumnya.
Baca Juga: Masih Misteri Siapa Sosok Komando Dibalik Penembakan Gas Air Mata di Stadion Kanjuruhan Malang
Kontributor : Xandra Junia Indriasti
Berita Terkait
-
Masih Misteri Siapa Sosok Komando Dibalik Penembakan Gas Air Mata di Stadion Kanjuruhan Malang
-
Arema FC Kena Sanksi Denda Rp250 Juta dan Dilarang Bertanding di Kandang
-
PROFIL Ketua PSSI Iwan Bule: Jenderal di Balik Pengungkapan Kasus Pembunuhan yang Melibatkan Mantan Ketua KPK Antasari Azhar
-
Heboh Kesaksian Penjual Dawet di Stadion Kanjuruhan Malang, Ternyata.....
-
Aji Santoso: Betapa Indahnya Kalau Suporter Persebaya dan Arema Bersatu
Terpopuler
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- 6 Cara Membedakan Jam Tangan Seiko Asli atau Palsu, Biar Tidak Tertipu saat Beli
- 11 Pilihan HP Murah Bujet Rp1-2 Juta, Spek dan Performa Terbaik untuk Multitasking
- 4 HP dengan Baterai 8000 mAh Plus Tahan Hingga 2 Hari, RAM 8 GB Cocok Buat Ojol
- Daftar Tim Super League Paling Banyak Rekrut Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Tagih Utang Berujung Maut, Pria di Palembang Tewas dengan Luka Bacok di Punggung
-
Echa Waode Tuntut Natalius Pigai Jamin Hak LGBT: Negara Jangan Diam Lihat Rakyat Dipersekusi!
-
Sikat 1,5 Ton Bahan Narkoba, Pemasok Laboratorium 'Pil Jin' Semarang Diringkus di Cakung!
-
IKA Perikanan Unhas: Nelayan Harus Dilibatkan Sistematis dalam Penyelamatan Laut
-
Digembleng dengan Intensitas Tinggi di Bali, Timnas Indonesia Siap Beri Kejutan di Piala AFF 2026
-
AS dan Iran Saling Gempur 8 Malam Berturut-turut, Harga Minyak Melonjak Tajam!
-
Mengapa Produk 'Tanpa Bahan Kimia' Kini Jadi Ladang Bisnis Menjanjikan
-
Prediksi Pencetak Gol Final Piala Dunia 2026: Spanyol vs Argentina
-
Perseteruan Wakil Rakyat, Polda Riau Turun Tangan Periksa CCTV
-
Keciduk CCTV! Pria di Tambora Gasak Motor Teknisi WiFi yang Kuncinya Tergantung Demi Biaya Hidup