Suara.com - Wakil Ketua Umum DPP PPP, Arsul Sani, mengatakan bahwa dirinya tak sepakat jika Presidential Threshold atau ambang batas pencalonan presiden dan wakil presiden diubah menjadi 0 persen dari kekinian angkanya 20 persen.
Jika aturan soal Presidential Threshold diubah, maka ia lebih setuju angkanya diturunkan ke 10 persen. Hal itu untuk mencegah munculkan oligarki kepemimpinan partai.
Hal itu disampaikan Arsul saat menjadi pembicara dalam acara diskusi bertema Suksesi Kepemimpinan 2024 yang digelar oleh PP Muhammadiyah dalam menyambut Muktamar Muhammadiyah, Selasa (15/11/2022).
Arsul awalnya bicara soal perdebatan sistem pemilu dilakukan secara profosional tertutup atau terbuka. Sampai kemudian ia menyinggung soal Presidential Threshold.
Ia mengaku banyak mendengar suara yang mengatakan jika Presiden Threshold tinggi akan menghambat putra-putri terbaik bangsa menjadi seorang pemimpin. Sehingga ada yang meminta Presidential Threshold diubah menjadi 0 persen.
"Nah saya termasuk yang terus terang tidak setuju Presidential Threshold itu jadi nol. Kenapa enggak setuju? Karena kalau jadi nol nanti, partai itu belum teruji di dalam pemilihan legislatifnya, kemudian tapi dia berhak ikut pemilu, dia berbadan hukum dan berhak ikut pemilu," kata Arsul.
Menurut Arsul, jika angkanya 0 persen maka oligarki kepemimpinan partai justru dengan mudah terjadi. Oligarki dengan uang bisa mengambil alih partai dan bahkan mengusung capres-cawapres dengan seenaknya, padahal mereka belum teruji.
"Jadi negara kita itu kan banyak oligarki orang kaya. Dia bisa kemudian dengan kekayaannya ambil partai politik ya nyatakanlah udah bisa ikut pemilu ajalah," ungkapnya.
"Enggak mahal lah itu costnya. Karena untuk membuat partai politik yang bisa lolos verifikasi administrasi dan verifikasi faktual dengan kekuatan uangnya kemudian bisa mencalonkan presiden dan wakil presiden. Sementara secara jaringan dan segala macam belum terujilah," sambungnya.
Untuk itu, Arsul menilai paling idealnya Presidential Threshold tidak perlu dihapuskan menjadi 0 persen, tapi paling tidak diturunkan angkanya menjadi 10 persen.
"Ada yang ingin misalnya, kalau ditanya PPP ini ya kalau bisa sama saja dengan Parlementary Threshold. Tapi paling tidak 10 lah," tuturnya.
Dengan angka 10 persen threshold diharapkan bisa memunculkan banyak alternatif calon pemimpin nasional.
"Kalau 10 persen kita potong separuh maka paling tidak kontestasi pilpres itu diharapkan bisa diikuti lima atau enam calon. Itu akan memberikan ini lebih baik," pungkasnya.
Berita Terkait
-
PDIP Tegaskan Tak Tunduk pada Keinginan Relawan GP Mania Usung Capres Ganjar Pranowo
-
Refly Harun Sebut Capres 2024 Ada di Cengkeraman Oligarki, Benarkah?
-
PDIP Masih Diam, PSI Siap Pakai Cara Lain Buat Bawa Ganjar Pranowo ke Pilpres 2024: Ujung-ujungnya...
-
Menilik Rekam Jejak Kepemimpinan Arema FC: Kini Ditinggal Pergi Gilang Juragan 99
-
Anies Baswedan Hati-hati! Pengamat Ingatkan Bahaya Oligarki dan 'Koalisi Amplop': Anda Akan Diborgol...
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Harga Adidas Adizero Termurah Tipe Apa Saja? Ini 5 Varian Terbaiknya
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
Pilihan
-
Tok! Eks Sekretaris MA Nurhadi Divonis 5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Pengganti Rp137 Miliar
-
Aksi Tenang Nenek Beruban Curi TV 30 Inci di Jatinegara Viral, Korban Tak Tega Lapor Polisi
-
Panglima TNI: Tiga Prajurit yang Gugur di Lebanon Terima Santunan Miliaran dan Pangkat Anumerta
-
Swasta Diimbau Ikut WFH, Tak Ada Sanksi Menanti
-
Habib Rizieq Shihab: Umat Islam Sunni dan Syiah Harus Bersatu Lawan AS-Israel
Terkini
-
Kolaborasi Relawan dan Pemerintah Dorong Pemulihan Sumatera Lebih Cepat
-
Prabowo Saksikan 10 MoU RIKorea Selatan, Perkuat Kemitraan Strategis
-
Akhirnya Israel Khianati AS, Stok Rudal Tomahawk Makin Sedikit
-
WFH ASN Setiap Jumat, DPR Ingatkan Pemerintah Jangan Sampai Jadi Ajang 'Long Weekend'
-
Amsal Sitepu Divonis Bebas, Anggota DPR Desak Jaksa Diberi Sanksi Akibat Dakwaan Gagal
-
Jakarta 'Dikepung' Sampah, Pramono Anung: Sebentar Lagi Terselesaikan
-
Surat Keterangan Pendidikan Gibran Digugat, Subhan Palal Sebut Tidak Sah dan Harus Batal Demi Hukum
-
Israel Tolak Ikut Invasi Darat ke Iran, Kemarahan Publik AS Meledak
-
'Sudah Sampai di Situ', Polda Metro Jaya Tegaskan Tak Lagi Usut Kasus Air Keras Aktivis KontraS
-
Tok! Eks Sekretaris MA Nurhadi Divonis 5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Pengganti Rp137 Miliar