Suara.com - Pemerintah China mengisyaratkan kesiapannya untuk melonggarkan kebijakan radikal "nol COVID" buntut gelombang protes besar-besaran terhadap lockdown dan langkah pembatasan ketat lain.
Wakil Perdana Menteri China Sun Chunlan menjadi sosok yang bertanggung jawab atas langkah pencegahan dan penyebaran Covid-19.
Ia menyatakan bahwa patogenisitas varian Omicron melemah, demikian laporan dari kantor berita Xinhua.
Wakil PM China Sun juga menyatakan pemerintah telah mengatur kondisi "untuk mengubah langkah-langkah tanggap epidemi".
Pernyataan Sun di Komisi Kesehatan Nasional itu disampaikan menyusul kemarahan publik di China selama akhir pekan lantaran adanya kebijakan pembatasan yang ketat.
Secara terbuka, sejumlah demonstran mencela Partai Komunis yang berkuasa yang dipimpin Presiden Xi Jinping.
China telah mencatat kasus Covid-19 harian sekitar 33.000 di daratan hingga Kamis. Angka itu sedikit menurun dari rekor tertinggi yang mencapai hampir 39.000 pada Minggu. Namun, angka itu masih berada pada level yang tinggi.
Berita Xinhua melaporkan setelah aksi protes, beberapa pembatasan di Guangzhou, China Selatan telah dilonggarkan. Bioskop, pusat rekreasi, restoran, dan pusat rekreasi dibuka kembali.
Di Beijing, pasar swalayan telah diizinkan untuk dibuka kembali setelah penutupan selama satu hari.
Baca Juga: Update COVID-19 Jakarta 2 Desember: Positif 1.644, Sembuh 2.424, dan Meninggal 7 Orang
Penduduk Beijing juga tidak perlu lagi untuk menjalani tes Covid, termasuk lansia dan mereka yang bekerja atau bekerja belajar dari rumah.
Kereta bawah tanah dan bus di Beijing pun tidak lagi mewajibkan penumpang untuk menunjukkan hasil tes COVID negatif yang diambil dalam waktu 48 jam, mulai Senin depan (5/12), kata media pemerintah China itu.
Di China, orang-orang diharuskan untuk sering melakukan tes COVID agar dapat pergi ke tempat umum. Mereka yang berada di daerah lockdown dilarang meninggalkan rumah mereka dan kerap kesulitan mendapatkan cukup makanan dan kebutuhan sehari-hari.
Kedutaan Besar AS di Beijing telah mendorong warga Amerika di China untuk menyimpan persediaan obat-obatan, air kemasan, dan makanan selama 14 hari. Kedutaan Besar Jepang di Beijing juga menyarankan warga Jepang di China untuk menyiapkan stok barang-barang kebutuhan untuk 10 hari.
Sementara itu, pihak berwenang China diyakini mewaspadai kemungkinan bahwa para pelayat yang berkumpul untuk mengenang Jiang Zemin dapat berkembang menjadi demonstrasi anti-pemerintah. Mantan Presiden itu meninggal pada Rabu dalam usia 96 tahun.
Ada seruan yang diunggah di media sosial agar masyarakat berkumpul untuk mengenang mantan pemimpin China itu.
Jenazah Jiang diterbangkan dari tempat dia wafat di Shanghai ke Beijing pada Kamis. Upacara peringatan untuknya akan diadakan di Balai Besar Rakyat (Great Hall of the People) di Beijing pada Selasa depan (6/12).
Aksi protes pro-demokrasi pada 1989 di Lapangan Tiananmen dipicu oleh kematian Hu Yaobang, yang dipecat sebagai sekretaris jenderal Partai Komunis dua tahun sebelumnya karena kecenderungan liberalnya.
Para siswa yang berkumpul atas kematian Hu saat itu menyerukan demokrasi dan mengkritik tindakan pemerintah terhadap korupsi yang merajalela. [ANTARA]
Berita Terkait
-
Risiko Keparahan karena Covid-19 Lebih Tinggi, Pengidap HIV Tak Boleh Tunda Vaksinasi
-
Update COVID-19 Jakarta 2 Desember: Positif 1.644, Sembuh 2.424, dan Meninggal 7 Orang
-
Kasus Covid 19 di Depok Kembali Naik
-
Bansos Rp476 Triliun Akan Disalurkan Tahun 2023, Berikut Daftar Programnya
-
Prioritas Bidang Kesehatan Ala Jokowi Setelah Pandemi Usai
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 2 Juli 2026, Ada Kuda hingga Anjing
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Pakar UGM: Wajar Publik Curiga Pengangkatan Komisaris BUMN karena Balas Jasa Politik
-
Kronologi Pertemuan Menhut dan Bupati Kuansing, Dari Amplop Sampai Alih Fungsi Hutan
-
Penguatan Fiskal hingga Digitalisasi Layanan Masuk 10 Rekomendasi untuk Kota di Indonesia
-
Bukan Provokasi, Boikot Pajak Dinilai jadi Hak Pembangkangan Sipil
-
Minta Bantuan Dana Parpol Naik, ICW Tantang Partai Buka Laporan Keuangan
-
Perludem Usul Sistem e-Banpol, Publik Bisa Pantau Penggunaan Dana Partai Secara Real-Time
-
Vonis Seumur Hidup untuk Priyo, Eksekutor Keji yang Habisi 5 Nyawa di Indramayu
-
Korban Penyekapan 3 Tahun Bakal Jalani Operasi Bertahap, Begini Kondisinya Kini
-
Bayar Rp200 Ribu Sebulan Bisa Naik Transjakarta Setiap Hari? Begini Skemanya
-
PBNU Masih Survei Lokasi Muktamar ke-35 NU, Persiapan Teknis Terus Dikebut