News / Internasional
Kamis, 02 Februari 2023 | 13:32 WIB
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia saat menyampaikan keterangan pers di Kantor Presiden, Rabu (24/8/2022). [Biro Pers Sekretariat Presiden]

Suara.com - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyebut, negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan di Eropa agar tidak banyak ikut campur masalah energi hijau di Indonesia.

Pasalnya, menurut dia, negara-negara yang berada di kawasan tersebut sudah habis sehingga tidak pantas mengatur lingkungan di Indonesia.

"Kalian yang negara hutannya sudah habis jangan mengajari kami mengatur lingkungan di Indonesia," ujar Bahlil dalam Mandiri Investment Forum 2023 di Hotel Fairmont pada Kamis (2/2/2023).

Pemanasan global yang saat ini jadi salah satu isu dunia, kata Bahlil, juga menjadi salah satu efek dari ulah negara maju di masa lampau yang gencar melakukan industrialisasi dan mengabaikan dampak lingkungan.

Sementara, negara berkembang seperti Indonesia yang kini tengah berusaha tumbuh dengan ekonomi hijau tengah menyiasati agar hal tersebut tidak terulang.

Pengolahan bijih nikel di smelter milik PT Vale di Sulawesi Selatan. (Bannu MAZANDRA / AFP)

"Ini terjadi satu anomali berpikir. Semua memaksa semua negara mendorong energi baru terbarukan. Investasi yang masuk ke negara berkembang 1/5 dari investasi energi hijau. Dimana keadilan itu terjadi," terangnya.

"Kami lebih tahu itu, dan saya sudah berkomitmen bagaimana menjaga lingkungan. Maka kami melaksanakan hilirisasi. Misalnya, agar tidak jadi ilegal mining, tapi apa yang terjadi? Uni Eropa bawa kami ke WTO, nikel dipermasalahkan. Saya rasa ini tidak masuk akal," sambung dia.

Load More