News / Nasional
Selasa, 04 April 2023 | 19:26 WIB
RSD Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, bekas tempat penanganan pasien Covid-19. [Suara.com/Faqih]

Suara.com - Rumah Sakit Darurat Covid-19 atau RSDC Wisma Atlet di Kemayoran, Jakarta Pusat, resmi ditutup pemerintah pada Jumat, 31 Maret 2023. Hampir tiga tahun menjadi tempat rawat inap pasien virus corona. Gedung bertingkat 10 tower itu kini kosong melompong.

Semua tenaga kesehatan pulang ke daerah masing-masing setelah hampir tiga tahun jadi sukarelawan melawan Covid-19. Termasuk Gede Wiga Wirawan Putra. Pria 31 tahun ini akan mudik ke kampung halamannya di Bali.

Reporter Suara.com, Faqih Fathurrahman berkesempatan memotret situasi bekas tempat pusat isolasi pasien Covid-19 tersebut pada Minggu, 2 April lalu.

SETIBA di Wisma Atlet, sepeda motor aku parkirkan di samping pos penjagaan. Aku melihat Wiga mendorong troli berisi barang-barang pribadinya untuk dipindahkan ke dalam mobil di parkiran.

Semula aku tidak terlalu fokus memperhatikan aktifitas Wiga. Lantaran aku tengah berupaya meminta izin kepada dua petugas berseragam TNI yang berada dalam pos jaga supaya bisa masuk ke dalam Wisma Atlet.

Izin telah diperoleh, aku melangkah penuh harap masih ada nakes yang tersisa dalam gedung kosong tersebut.

Tak disangka, aku dan Wiga berada dalam lift yang sama. Kami memulai obrolan saat lift tersebut error.

Pintunya tidak mau menutup meski tombol lantai tujuan dan tombol penutup lift berulang kali dipencet. Aku mulai was-was dengan lift tersebut. Akhirnya kuputuskan untuk keluar dari lift, begitu pun Wiga.

Kami pilih lift lain untuk naik ke atas. Penghuni gedung ini bisa dihitung dengan jari, sehingga lift tidak telalu sibuk.

Baca Juga: Kini Resmi Ditutup, Kilas Balik Sejarah Wisma Atlet Hingga Jadi RS Darurat Covid-19

“Memang sering error lift di sini,” ujar Wiga memecah keheningan.

“Dulu waktu ramai pasien memang begitu juga?” tanya ku menimpali.

“Sudah gak terhitung.”

Kamipun berkenalan. Wiga banyak bercerita, soal dirinya bisa singgah selama hampir tiga tahun menjadi nakes di RSDC Wisma Atlet itu.

Pilih Jadi Relawan

Pintu lift terbuka, kami berada di lantai 6, Tower 6 Wisma Atlet Kemayoran. Tak ada manusia selain kami berdua, berjalan menyusuri lorong panjang.

Semua pintu kamar tertutup rapat. Dari dalam kamarpun tidak ada tanda-tanda suara kehidupan. Bahkan decit langkah kaki yang bersautan satu-satunya sumber bunyi pemecah sunyi.

Tiba juga kami di depan kamar. Sebelum masuk, terlebih dahulu Wiga memutar anak kunci berlawanan arah jarum jam.

Kamar bekas ruang inap pasien Covid-19 di RSD Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat. [Suara.com/Faqih]

“Silahkan masuk mas, maaf agak berantakan ini soalnya lagi pindahan belum sempat diberesin lagi,” ucap Wiga sembari menganggakat beberapa barang dari atas sofa berwarna coklat.

“Nah silahkan duduk mas.”

Dalam ruangan sekitar 6x6 itu, Wiga banyak berbagi kisah soal penangangan Covid-19. Temasuk awal mula dirinya bisa terdampar di tempat itu.

Wiga memulai kisahnya awal mula bergabung menjadi nakes di Wisma Atlet. Berawal dari ia diputus kontraknya sebagai nakes di Rumah Sakit TNI Angkatan Udara di Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. Ketika itu terjadi efisiensi di RS TNI AU yang terdampak pandemi. Wiga hanya bisa pasrah menerima nasib.

Kemudian ia melihat pengumuman rekrutmen tambahan tenaga medis di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran. Ia berfikir ketimbang menganggur, lebih baik ia menjadi relawan di sana agar bisa membantu sesama yang sedang berjuang melawan Covid-19.

“Daripada saya nganggur, mending saya daftar aja buat jadi relawan. Murni untuk kemanusiaan, tapi pas diterima ternyata ada insentifnya.”

Wiga yang tergabung di RSDC Wisma Atlet sejak Juli 2020 itu mengaku beberapa kali dipindah, dari divisi ke divisi lain. Mulai dari rawat inap hingga divisi ambulans.

Delta Momok Menakutkan

Selama dilanda pandemi Covid-19, Wiga mengaku varian delta yang paling menakutkan. Dalam sehari semalam ia bisa membungkus lima orang pasien Covid-19 ke dalam kantung jenazah.

Lima jenazah sehari itu, kata Wiga baru berasal dari unitnya saja. Ketika varian delta merebak, ia sedang bertugas di ruang HCU. HCU sendiri hampir mirip dengan ICU.

“Semalam itu kami bisa ngebungkus lima jenazah. Belum lagi yang di perawatan,” ungkapnya.

Banyaknya nyawa yang tidak tertolong saat itu dipicu karena kurangnya pasokan oksigen untuk para pasien. Pasien yang berada di HCU, Imcu atau ICU mungkin sedikit bisa terbantu karena oksigen di ruangan tersebut bersifat central.

Pasien yang berada di ruang rawat inap, khususnya yang memiliki penyakit bawaan atau komorbid saat itu sangat membutuhkan oksigen untuk bantuan pernafasan. Jumlah pasien ketika itu membludak, sedengakan jumlah tabung oksigen terbatas. Situasi saat itu juga sempat chaos, sesama pasien saling berebut tabung oksigen.

Bahkan ada satu kejadian, keluarga pasien nekat membawa tabung oksigen milik rumah sakit untuk dicarikan isinya ke luar supaya sang pasien mendapat suplai oksigen.

“Dulu sempat ada kasus pencurian tabung oksigen di sini sama pasien. Itu sebenarnya bukan pencurian, itu dia bawa tabung oksigen untuk cari oksigen di luar saking gak ada oksigen lagi. Itu kasus rawat inap,” tuturnya.

Kamar bekas ruang inap pasien Covid-19 di RSD Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat. [Suara.com/Faqih]

Wiga juga sempat mendengar kisah rekan sejawatnya yang saat itu berdinas di ruang rawat inap. Mereka saat itu hanya bisa bisa pasrah melihat para pasien meregang nyawa akibat kekurangan oksigen.

Sebagai nakes, kata Wiga, meski tidak melihat langsung kondisi itu, namun jiwanya bergejolak. Seharusnya, lanjut Wiga, nyawa para pasien bisa diselamatkan jika suplai oksigen saat itu tersedia.

“Saya sampai nangis tapi ya susah. Jadi syock aja lihat pasien dalam kondisi seperti itu kami gak bisa berbuat apa-apa. Jadi hanya bisa bengong, menyesali keadaan karena fasilitas gak ada,” katanya.

Pingsan akibat hazmat

Wiga menuturkan, selama menjadi nakes Covid-19, ia bekerja selama 8 jam sehari. Terkadang lebih dari 8 jam jika masih ada pasien yang membutuhkan penanganan.

“Gak menentu, rata-rata 8 jam atau lebih, gak mungkin kurang,” ucap Wiga.

Selama itu tubuh Wiga dan rekan-rekannya sesama nakes harus terbungkus baju hazmat agar tidak terpapar Covid-19.

Dibutuhkan stamina ekstra saat tubuh terbungkus baju hazmat serta alat pelindung lain seperti masker dan kacamata google. Selama mengenakan alat pelindung diri (APD) para nakes tidak diperkenankan untuk makan dan minum.

Dehidrasi hebat kadang menyerang para nakes. Tidak jarang mereka jatuh pingsan akibat mengalami dehidrasi hebat.

Wiga juga sempat mengalami hal tersebut. Badannya saat itu begitu lemas. Hazmat tebal bagai terpal ditambah panasnya matahari siang membuat Wiga tergeletak di tanah.

Melihat hal itu, rekan sejawatnya membantu membopong. Wiga di bawa ke lantai bawah, seluruh APD-nya dilepas hingga akhirnya diminta beristirahat.

Hal serupa bukan hanya dialami oleh Wiga. Banyak rekan sejawatnya yang pingsan akibat dehidrasi hebat.

Caci Maki Pasien

Selain harus menghadapi dehidrasi hebat akibat baju hazmat, para nakes RSDC Wisma Atlet juga harus menghadapi komplen hingga caci maki dari para pasien. Lebih pedas dari sekedar membaca komen netizen di sosial media.

Biasanya pasien sering melontarkan cacian akibat jadwal kepulangannya tertunda. Mereka yang semestinya dijadwalkan menjalani rawat inap selama 12 hari harus mundur akibat masih terindikasi positif.

Biasanya mereka yang waktu kepulangannya molor karena setelah dinyatakan negatif mereka masih berkumpul dengan pasien positif Covid-19.

“Misal dia udah negatif, dipindah ke lantai khusus negatif. Sampai di sana mereka masih berkeliaran, masih ketemu atau ikut ngumpul dengan yang positif, dia pasti positif lagi,” jelas Wiga.

Cacian juga muncul bukan hanya karena molornya jadwal pulang, namun mengeluh soal fasilitas kamar. Bianya cacian ini muncul dari pasien yang berekspektasi tinggi tentang kamar bagus selama menjalani perawatan.

“Bukan masalah swab kepulangan aja, jadi masalah inventaris kamar. Jadi mungkin pasien inginnya wah, tapi begini aja,” tutur Wiga.

RSD Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, bekas tempat penanganan pasien Covid-19. [Suara.com/Faqih]

Dalam kamar perawatan berukuran 6x6 dihuni oleh dua orang pasien. Bahkan jika pasien tersebut berstatus keluarga, bisa diisi sebanyak tiga orang. Tentu, antara pasien pria dan wanita dipisah. Dibagi berdarkan lantai.

Cinta bersemi di tengah pandemi

Ada pepatah yang mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Pepatah itu mungkin berlaku di RSDC Wisma Atlet. Mereka yang sudah lama kenal dan bertemu setiap hari bisa saling menyayangi.

Hal itu bukan mitos, namun nyata. Mereka sesama nakes yang masih lajang tak jarang menemukan tambatan hati saat bertugas di Wisma Atlet.

“Ada antara nakes dan pasien, sesama nakes ada, sesame pasien juga ada,” ucap Wiga.

Namun hal itu tidak dialaminya. Wiga berupaya mengendalikan perasaannya saat bertugas di Wisma Atlet, lantaran ada serang kekasih yang menunggunya kembali usai bertugas.

Tidak hanya sekedar menemukan cinta di lokasi isolasi, bahkan ada juga mereka yang melangsungkan pernikahan virtual saat sedang terinveksi covid-19.

“Dulu kita sempat bikin acara pernikahan di sini, antara pasien sama pasien. Jadi pasien ini rencananya memang mau nikah, kebetulan yang perempuan positif dan dirawat di sini. Akhirnya pernikahannya di sini, virtual. Itu sempat ada.”

Tak hanya itu, bahkan ada salah seorang pasien yang melahirkan bayi saat sedang menjalani isolasi. Persalinan dilakukan di tower 4.

Hal-hal Gaib

Sejak terakhir digunakan untuk para atlet saat perhelatan Asian Games 2018 lalu, Wisma Atlet hanya sekedar gedung kosong.

Wisma Atlet kembali digunakan saat pandemi Covid-19 merebak. Gedung yang semula tempat beristirahat para atlet disulap menjadi Rumah Sakit Darurat Covid-19 pada awal 2020 lalu.

Kondisi gedung yang cukup lama nganggur membuat hal-hal mistis cukup terasa di sana. Wiga mengatakan gangguan hal gaib itu kerab dialaminya, hampir setiap hari. Bahkan tidak mengenal waktu.

“Pasti ada, setiap hari. Mau siang atau malam. Di semua tower, bukan di sini aja,” kata Wiga.

Meski demikian, hal tersebut tidak membuatnya takut. Wiga sendiri mengaku selama ini belum pernah melihat wujud dari mahluk halus tersebut. Ia hanya mendengar suara-suara yang di luar nalar.

“Saya sih cuma dengar kayak suara-suara meja diseret-seret, itu sering.”

Cerita horor Wiga mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan cerita horor para pasien yang sempat menginap di tempat tersebut.

Wiga menuturkan, saat itu ada salah seorang pasien wanita asing yang menempati kamar 3004 yang berada di lantai 30, Tower 6.

Hampir setiap setiap hari wanita itu mengeluhkan minta pindah kamar. Keluhannya bukan karena fasilitas, melainkan hal mistis yang membuat ia tidak kerasan di kamar tersebut.

Wiga mengatakan, wanita asing tersebut memang hanya seorang diri di kamar inap itu. Hal itu lantaran kamar dalam ruangan itu tidak layak digunakan karena platfon atasnya jebol.

Untuk diketahui, ada satu kamar rawat inap di Wisma Atlet berukuran kecil yang rusak dan kosong. Di sebelah kamar itu terdapat kamar mandi dan dapur. Karena tidak layak digunakan, kamar kecil itu pun dikunci dari luar oleh petugas.

RSD Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, bekas tempat penanganan pasien Covid-19. [Suara.com/Faqih]

Namun anehnya, wanita asing itu mendengar suara orang memasak dalam kamar rusak tersebut. Padahal ruangan memasak berada di samping kamar.

“Itu setiap malam laporan ke ruang perwatan minta pindah, karena ada suara orang masak di sebelah. Masalahnya suara masaknya di kamar yang kosong,” ucapnya.

Kejadian mistis itu juga akui oleh Zintan saat dirawat sebagai pasien Covid di Wisma Atlet. Zintan ketika itu mendengar suara anak kecil sedang bermain di luar kamarnya. Padahal ketika itu sudah larut malam. Penasaran, Zintanpun keluar kamar untuk mencari tahu siapa yang masih berkeliaran di luar.

“Zonk. Gak ada siapapun,” ucap Zintan lewat sambungan telepon.

Keesokan paginya, Zintan mencari tahu soal anak kecil tersebut. Ia sempat menanyakan data pasien kepada petugas. Ternyata tidak ada satupun pasien anak dalam koridornya.

Load More