Suara.com - Sejarah terus berulang, hal itu terjadi di kasus pembunuhan bermodus pengandaan uang. Nafsu ingin cepat kaya secara instan, justru berujung maut di tangan dukun dusta.
Hanya beberapa bulan setelah kasus Wowon yang menggemparkan, kasus serupa muncul di Banjarnegara, Jawa Tengah. Adalah Slamet Tohari alias Mbah Slamet yang mengaku sebagai dukun dan bisa menggandakan uang, belakangan itu hanya penipuan. Ironisnya, 12 orang korban yang telah menyetorkan uang puluhan juta ia habisi dengan sadis menggunakan racun potasium.
Para korban dari dua kasus serial killer itu menggambarkan betapa banyak manusia tak mau belajar dari pengalaman atau kasus yang ada. Masih saja percaya akan kemampuan supranatural atau percaya kepada orang yang mengaku bisa menggandakan uang secara gaib.
Nyatanya hal itu tak ada buktinya, dan hanya kerja keras lah yang bisa mengubah nasib seseorang. Ikhtiar dan berusaha, bukan menggantungkan nasib atau kekayaan kepada seseorang yang mengaku-ngaku sebagai dukun atau orang pintar.
Sosiolog dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Joko Santoso mengatakan, praktik penggandaan uang berujung pada pembunuhan sudah ada sejak lama.
"Sebenernya gejala tentang penggandaan uang yang berujung pada pembunuhan sudah ada sejak tahun 1986, kasusnya di Brebes dan Magelang," kata Joko Santoso kepada Suara.com, Rabu (5/4/2023).
Bila melihat status sosial dan latar belakang para korban penipuan berkedok penggandaan uang, beberapa justru berasal kalangan orang ‘kaya’ atau setidaknya berkecukupan secara ekonomi. Dengan begitu, menurutnya pola pikir masyarakat belum bertransformasi dari masa ke masa.
"Korbannya berasal dari bermacam-macam status sosial, bahkan korban yang pengungkap kasus ini (PO) itu orang kaya. Ini menjadi tanda jika pola pikir belum mengalami transformasi," ujarnya.
Menurut pria yang akrab disapa Masrukin ini, semestinya pola pikir masyarakat saat ini sudah berubah ke yang lebih logis dan agak ilmiah. Namun nyatanya masih banyak masyarakat percaya dengan yang berbau mistik.
Baca Juga: Seperempat Abad Menikah, Dukun Palsu Pengganda Uang Mbah Slamet Sudah Setahun Telantarkan Istri
Jika melihat trend kasus penipuan berkedok penggandaan uang, semestinya bisa menjadi pelajaran untuk masyarakat. Namun kenyataannya kasus serupa terus terulang, artinya masyarakat tidak belajar dari kasus-kasus sebelumnya.
Jangan Pernah Percaya Penggandaan Uang
Kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala menilai kejahatan semacam ini timbul karena masih banyaknya masyarakat yang ingin memperoleh kekayaan dengan cara instan. Keinginan semacam ini menurutnya sudah ada sejak berabad yang lalu. Bahkan, di era kekinian atau 4.0 keinginan semacam itu nyatanya masih ditemukan.
"Jadi jangan dikatakan bahwa pada era 4.0 lalu tidak ada keinginan seperti itu," kata Adrianus kepada Suara.com, Kamis, 6 April kemarin.
Adrianus menjelaskan, keinginan masyarakat memperoleh kekayaan secara instan itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh para pelaku kejahatan penipuan seperti Aki Wowon Cs dan Mbah Slamet. Bermodal kecakapan komunikasi dan segala tipu dayanya, beberapa orang dengan keinginan besar menjadi kaya tersebut akhirnya terperangkap.
"Saya kira tidak ada kaitannya dengan sistem kepercayaan, ini lebih dorongan manusiawi untuk cepat kaya. Dorongan itu sebenarnya disadari sebagai menyimpang. Buktinya tamu-tamu dukun itu datang diam-diam dan tidak ada orang kampung yang melihat," ujar Adrianus.
Berita Terkait
-
Seperempat Abad Menikah, Dukun Palsu Pengganda Uang Mbah Slamet Sudah Setahun Telantarkan Istri
-
Hilang di Kebun Salak, Suwardi Warga Prigi Banjarnegara Ditemukan Selamat di Kebun Salak
-
Begini Cara Kerja Tim DVI Polri, yang Bantu Ungkap Identitas Korban Dukun Pengganda Uang dari Banjarnegara
-
Penampakan Ruang Ritual Mbah Slamet, Dukun Banjarnegara yang Bantai 12 Orang
-
Jenazah Pasutri Asal Pesawaran Korban Mbah Slamet akan Dimakamkan Esok Hari di Kampung Halaman
Terpopuler
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- 4 Pilihan HP OPPO 5G Terbaik 2026 dengan RAM Besar dan Kamera Berkualitas
- 57 Kode Redeem FF Terbaru 25 Januari 2026: Ada Skin Tinju Jujutsu & Scar Shadow
- 6 HP Murah RAM Besar Rp1 Jutaan, Spek Tinggi untuk Foto dan Edit Video Tanpa Lag
- Bojan Hodak Beberkan Posisi Pemain Baru Persib Bandung
Pilihan
-
Danantara Mau Caplok Tambang Emas Martabe Milik Astra?
-
H-135 Kick Off Piala Dunia 2026, Dua Negara Ini Harus Tempuh Perjalanan 15.000 KM
-
5 Rekomendasi HP RAM 12 GB Paling Murah, Cocok buat Gaming dan Multitasking
-
Kenaikan Harga Emas yang Bikin Cemas
-
Sah! Komisi XI DPR Pilih Keponakan Prabowo Jadi Deputi Gubernur BI
Terkini
-
Bertambah jadi 2.493 WNI, KBRI Phnom Penh Percepat Proses Kepulangan Lewat Paspor Darurat
-
DPR Resmi Setujui 9 Anggota Ombudsman RI Baru Periode 2026-2031, Ini Daftarnya
-
Reza Arap Diperiksa 5 Jam Terkait Kematian Lula Lahfah, Polisi Cecar 30 Pertanyaan, Apa Saja?
-
Soroti Mulusnya Jalan Adies Kadir Jadi Hakim MK, Pakar UGM: Cacat Prosedur dan Tak Transparan
-
Garap Kali Cakung Lama, Pramono Anung Bakal Relokasi Rumah Warga Demi Jalan Inspeksi
-
Atasi Banjir Jakarta Utara, Pramono Anung Targetkan Normalisasi Kali Cakung Lama Rampung 2027
-
Gantikan Adies, Sari Yuliati Ditetapkan Jadi Wakil Ketua DPR RI dari Golkar
-
Terpilih Jadi Hakim MK, DPR Proses Pemberhentian Adies Kadir dari Kursi Wakil Ketua
-
Jadi Saksi, Rocky Gerung Sebut Jokowi Kewalahan Hadapi Isu Ijazah Palsu
-
Dipanggil Komisi III DPR, Kapolresta-Kajari Sleman Siap Beberkan Kasus Jambret Secara Menyeluruh