Suara.com - Sejumlah jurnalis, akademisi hingga aktivis yang dianggap kontra dengan pemerintah pernah merasakan serangan spyware. Praktik 'pembungkaman' melalui teror digital itu sudah berjalan sejak 2019 silam.
RABU petang, 23 Februari 2022, gawai Sasmito Madrim tiba-tiba menyala sendiri tanpa diaktifkannya. Dari layar ponsel terbaca notifikasi yang menginformasikan akun WhatsApp-nya sudah keluar alias logout.
Selintas terpikir dalam benak Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia itu, jika akun WhatsApp yang digunakannya hanya terputus sementara. Namun keanehan mulai dirasakan, saat akan memasukan nomor verifikasi yang digunakan ke dalam akun percakapan tersebut malah ditolak.
Deretan nomor verfikasi yang didapatnya melalui SMS untuk mengaktifkan kembali akun WhatsAppnya malah tak bisa digunakan. Sejak saat itu, akun WhatsApp Sasmito sudah beralih ke pihak lain yang tidak diketahui siapa pengendalinya.
Tak hanya WhatsApp, akun media sosial lain miliknya juga terambil alih tanpa diketahuinya. Bahkan, dari akun Instagramnya tiba-tiba muncul foto Nikita Mirzani serta unggahan foto yang berisi pesan, jika dirinya mendukung Papua Merdeka.
"Jadi akun WhatsApp, Facebook dan Instagram saya tidak bisa diapa-apakan lagi ketika itu," kata Sasmito saat ditemui di kantor AJI Indonesia, pada pertengahan Maret 2023.
Sasmito menduga serangan digital yang dialaminya terjadi setelah menjadi narasumber dalam diskusi jurnalis dan media di Papua. Beberapa hari pulang dari Papua, akun sosial media dan Whatsapp-nya raib.
"Saya menduga serangan digital ini masih ada kaitannya dengan isu Papua," kata jurnalis VOA ini.
Penasaran dengan apa yang dialaminya, Sasmito pun membawa perangkat seluler jenis Android miliknya ke tim Forensic Trace Lab. Dari hasil pindaian sementara, tidak ditemukan adanya tanda-tanda malware ada di dalam gawainya.
Baca Juga: Melacak Jejak Bawah Tangan Pegasus 'Senjata Pembungkam Massa' di Indonesia
Masih ragu dengan hasil tersebut, ia kemudian meminta bantuan peneliti yang juga ahli forensik di Belanda untuk melakukan digital forensik di ponselnya. Hasilnya, perangkat milik Sasmito mendapat serangan digital.
Ahli forensik itu menyebut serangan itu didapat dari perangkat Circles, salah satu piranti yang diproduksi NSO Group, perusahaan yang berfokus pada alat spyware berbahaya seperti Pegasus dan berkedudukan di Israel.
Kesimpulan sementara itu, terbaca dari tanda dan gejala yang dialami Sasmito saat menggunakan gawainya, yakni tiba-tiba nyala sendiri meski dalam keadaan nonaktif, akun Whatsapp diambil alih tanpa pemberitahuan, hingga penguasaan akun media sosial oleh pihak lain.
"Itu mengarah seperti Circles," kata ahli digital forensik yang tak mau disebutkan namanya kepada tim IndonesiaLeaks.
Tak hanya Sasmito, kejadian serupa juga dirasakan sejumlah tokoh 'oposisi' seperti mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busryo Muqodas.
Kepada IndonesiaLeaks beberapa waktu lalu, Busyro mengungkapkan, jika chat WhatsApp-nya mengalami pelambatan kirim pesan dan menelepon, bahkan saat telepon ada jeda waktu terdengar.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
Terkini
-
OPSI Desak Pemerintah Awasi Karir Hub, Cegah Perusahaan Manipulasi Loker Demi KPI HRD
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Usut Aliran Uang Pemerasan! KPK Perpanjang Penahanan Silmy Karim 40 Hari
-
Kemensos Kawal Sekolah Rakyat Bener Meriah, Bantuan Jadup Rp3,07 Miliar Segera Disalurkan
-
Kemensos Kawal Sekolah Rakyat Bener Meriah, Bantuan Jadup Rp3,07 Miliar Segera Disalurkan
-
Duka Masyarakat Adat di DPR: Tanah Warisan Leluhur Hilang, Anak Buta Huruf karena HGU
-
Pengamat Sentil Pemerintah: Perbesar Telinga untuk Dengar Suara Rakyat!
-
Nama Dedi Congor Muncul di Sidang, KPK Telusuri Aliran Dana Rp30 Miliar dari Bos Blueray Cargo
-
Satu Suara dengan Megawati, GNB Singgung Keresahan Sama Soal Kondisi Bangsa
-
Keir Starmer Mundur, Andy Burnham Calon Kuat Perdana Menteri Inggris Baru