Suara.com - Baru-baru ini publik dibuat heboh dengan pemberitaan terkait body checking Miss Universe Indonesia yang diduga terjadi tindakan pelecehan seksual kepada para finalisnya. Namun terlepas dari kejadian ini, tahukah kalian apa itu body checking?
Apa itu body checking? Pemeriksaan ini kerap berkonotasi sebagai aktifitas negatif, mengapa demikian? Temukan penjelasannya dalam artikel ini.
Pada dasarnya, body checking adalah kebiasaan mencari informasi tentang berat badan, bentuk, ukuran, atau penampilan tubuh kita sendiri dengan mengeceknya selama beberapa kali sehari di depan cermin. Kenapa ini bisa berakibat buruk, padahal kelihatannya itu aktifitas biasa saja?
Aktifitas body checking itu salah satunya melakukan pemeriksaan secara santai hanya untuk persiapan hari itu, misalnya body checking untuk pergi ke acara kondangan. Kita hanya ingin memastikan penampilan kita sudah sesuai.
Akan tetapi, aktifitas ini bisa menjadi berkibat buruk pada kondisi psikologis kita jika kita melakukan cek secara terus menerus, kompulsif, disertai rasa cemas saat melakukannya.
Dikutip dari healthline.com, menurut penelitian, body checking dapat menyebabkan perasaan negatif bila dilakukan terlalu sering. Misalnya, secara kompulsif mencubit kulit yang kendur, mengukur bagian tubuh, menimbang diri beberapa kali sehari, dan perilaku pemantauan lainnya semuanya dapat memperburuk suasana hati kita. Maka, kebiasaan body checking bisa menjadi masalah jika:
- mengganggu kemampuan kita untuk berpikir jernih atau berkonsentrasi.
- menghabiskan terlalu banyak waktu kita.
- membuat kita berhenti atau membatasi makan secara ketat
- menciptakan masalah dalam pekerjaan, akademik, atau kehidupan pribadi kita.
- menyebabkan kita mengisolasi diri dari orang lain
- menjadi cara untuk mengendalikan rasa takut dan kecemasan tentang tubuh kita.
Body checking itu aktifitas yang umum dilakukan di antara orang-orang dari semua jenis kelamin. Tetapi sebuah studi tahun 2019 menemukan bahwa bagi beberapa orang, body checking cenderung menyebabkan ketidakpuasan tubuh, tidak peduli bagian tubuh mana yang sedang dipantau.
Meta-analisis 2018 menunjukkan bahwa body checking kompulsif dapat membuat beberapa orang merasa lebih tidak puas dengan tubuh mereka sendiri dan dapat memperburuk suasana hati mereka. Ini juga dapat menyebabkan pandangan yang tidak akurat atau tidak realistis tentang berat dan bentuk tubuh.
Baca Juga: Finalis Dipaksa Telanjang, Miss Universe Indonesia 2023 Klaim Kru Cowok yang Ada di Ruangan Gay
Misalnya dalam pandangan pelaku, ukuran tubuhnya sangat gemuk, tetapi dalam pandangan orang lain tubuhnya sudah sangat kurus. Ia tidak bisa menerima nasehat untuk makan secara teratur, karena dirinya sendiri mengira sudah terlalu gemuk.
Mereka takut makan, karena berpikir bahwa makanan bisa menambah berat badan dan memicu respons ancaman seperti tubuh mereka tidak sempurna dan meningkatkan rasa takut berkelanjutan untuk makan.
Cara Mengantisipasi Body Checking
Lantas bagaimana cara mengurangi perilaku body checking sebelum menjadi paranoia?
Jika body checking sudah mulai mengganggu kesadaran kita, lebih baik kurangi ketergantungan tersebut dengan mekanisme berikut ini:
1. Beristirahatlah dari media sosial. Dalam sebuah studi tahun 2018, para peneliti menemukan bahwa memposting selfie dan perilaku media sosial lainnya dapat memperburuk kecemasan tentang ukuran dan bentuk tubuh.
Berita Terkait
-
Finalis Dipaksa Telanjang, Miss Universe Indonesia 2023 Klaim Kru Cowok yang Ada di Ruangan Gay
-
Duduk Perkara CEO Miss Universe Indonesia dan Fotografer Rio Motret Mengundurkan Diri
-
Pihak Miss Universe Indonesia Intimidasi Finalis Agar Tutup Mulut Soal Skandal Bugil
-
Selain Dipaksa Telanjang, Finalis Miss Universe Indonesia 2023 Juga Diminta Berpose Vulgar
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF
-
Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan
-
Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China
-
Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah
-
Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP
-
Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun
-
Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
-
Anak-anak Kena ISPA hingga Pneumonia, Warga Terdampak RDF Rorotan Siapkan Gugatan Class Action
-
Kriminolog Soroti Penangkapan 8 Teroris Poso: Sel Radikal Masih Aktif Beregenerasi
-
Endus Bau Amis Korupsi RDF Rorotan, Massa Geruduk Gedung DPRD DKI: Pansus Jangan Mati Suri!