Suara.com - Sebuah kontroversi muncul setelah video viral di media sosial mengklaim bahwa Polisi Jawa Barat (Jabar) marah terkait rekonstruksi ulang kasus pembunuhan Vina Cirebon. Namun, penelusuran mendalam mengungkapkan bahwa klaim ini tidak berdasar.
Kejadian ini bermula ketika sebuah akun Twitter dengan nama pengguna "@opposite6892" membagikan video yang menyatakan Polisi Jabar dalam marah terkait rekonstruksi ulang kasus Vina Cirebon.
Namun, setelah penelusuran lebih lanjut menggunakan Google Lens, video tersebut ternyata identik dengan video yang diunggah oleh pengguna YouTube bernama Armuji dengan judul "Penggusuran 27 Rumah Warga di Jalan Dukuh Pakis Surabaya. Salah Paham???"
Video tersebut memperlihatkan Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, dan AKBP Toni Kasmiri sedang berdebat saat mengawasi proses pengosongan 28 rumah milik 25 kepala keluarga di Surabaya pada Rabu (9/8/2023).
Video ini jelas tidak memiliki kaitan dengan rekonstruksi ulang kasus Vina Cirebon yang disebutkan dalam narasi video yang beredar di Twitter.
Dengan demikian, klaim bahwa Polisi Jabar marah terkait rekonstruksi ulang kasus Vina Cirebon adalah salah dan dapat dikategorikan sebagai konten yang menyesatkan.
Berita Akurat Tentang Kasus Vina Cirebon
Kasus ini bermula pada 27 Agustus 2016, saat Vina dan kekasihnya, Eky, diserang oleh geng motor di Cirebon. Vina diperkosa dan dibunuh, sementara Eky juga tewas. Dari 11 pelaku, 8 telah dihukum, dan 3 masih buron.
Selanjutnya, pada tahun 2024, Film "Vina Sebelum 7 Hari" telah menghidupkan kembali perhatian terhadap kasus ini, mendorong upaya pencarian lebih lanjut terhadap pelaku yang masih buron.
Kekinian, Polri telah menerima laporan dari keluarga tujuh terpidana dalam kasus pembunuhan Vina dan Eky, terkait dugaan pemberian keterangan palsu oleh dua saksi, Aep dan Dede. Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko menyatakan bahwa laporan ini sedang diselidiki secara mendalam.
Baca Juga: Drama Baru Kasus Vina Cirebon, Polri Mulai Usut Dugaan Keterangan Palsu Saksi Aep dan Dede
Pada Rabu (10/7), keluarga tujuh terpidana, didampingi mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dan organisasi Peradi, melaporkan dugaan kesaksian palsu tersebut di Gedung Bareskrim Polri. Mereka berharap pelaporan ini dapat membantu membebaskan para terpidana yang saat ini menjalani hukuman seumur hidup.
"Ini adalah bagian dari cara kami membebaskan tujuh terpidana yang hari ini masih mendekam di penjara setelah Pegi Setiawan terbebas melalui putusan praperadilan di Pengadilan Negeri Bandung," ujar Dedi Mulyad.
Berita Akurat Tentang Video Viral Armuji Berdebat dengan Toni Kasmiri
Pada Rabu, 9 Agustus 2023, terjadi ketegangan saat eksekusi putusan Pengadilan Negeri di kawasan Dukuh Pakis, Surabaya. Saat itu, Armuji yang menjabat sebagai Wakil Walikota Surabaya, dibentak oleh Kabag Ops Polrestabes Surabaya, AKBP Toni Kasmiri, karena dianggap menghalangi eksekusi dengan membawa rombongan.
AKBP Toni mempertanyakan kedatangan Armuji yang dianggap bisa memprovokasi warga dan menghalangi alat berat. Meskipun demikian, Armuji menegaskan bahwa kedatangannya adalah untuk menyampaikan aspirasi warga yang bersedia pindah jika sudah mendapatkan tempat tinggal baru. Armuji menyatakan tidak bermaksud menghalangi eksekusi dan menghormati proses hukum.
Ketegangan berakhir dengan Armuji dan rombongannya meninggalkan lokasi eksekusi.
Berita Terkait
-
Drama Baru Kasus Vina Cirebon, Polri Mulai Usut Dugaan Keterangan Palsu Saksi Aep dan Dede
-
CEK FAKTA: Beredar Video Makam Nabi Adam Sepanjang 30 Meter, Benarkah?
-
CEK FAKTA: Gibran Gelar Festival Makanan Non Halal di Solo, Benarkah?
-
CEK FAKTA: Joe Biden Alami Kondisi Kesehatan Darurat saat Naik Pesawat Air Force One, Benarkah?
-
Alasan Keluarga 7 Terpidana Laporkan Saksi Kunci Kasus Vina ke Bareskrim; Cari Bukti yang Lain
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim