Suara.com - Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris menyatakan niatnya untuk menggantikan Joe Biden dalam pencalonan Presiden Amerika Serikat pada pemilu 5 November 2024 mendatang. Kontroversi dan Sepak Terjang Kamala Harris pun disorot karena pencalonannya. Harris akan berjuang agar dirinya dipilih oleh Partai Demokrat sebagai calon presiden menggantikan Biden.
Seperti diketahui, Joe Biden pada Minggu kemarin resmi mengumumkan mundur sebagai calon presiden dari Partai Demokrat untuk pemilihan presiden Amerika Serikat 2024. Pengunduran diri calon petahana itu diumumkan Joe Biden lewan akun X resminya, @JoeBiden.
"Saya telah memutuskan untuk tidak menerima nominasi tersebut dan memfokuskan seluruh energi saya kepada tugas saya sebagai Presiden selama sisa masa jabatan saya," ujar Biden dilihat pada Senin (22/7/2024).
Biden mengumumkan dukungannya untuk Kamala Harris (59) yang akan menggantikannya sebagai calon presiden dari Partai Demokrat. "Hari ini saya ingin memberikan dukungan dan dukungan penuh saya agar Kamala menjadi calon partai kita tahun ini," kata Biden dalam pesannya pada X itu.
Kontroversi dan Sepak Terjang Kamala Harris
Sebelum memenangi pemilihan presiden pada 2020, Kamala Harris merupakan pengacara sekaligus senator. Karier politiknya menanjak setelah dia berpasangan dengan Joe Biden mengalahkan calon presiden Partai Republik, Donald Trump. Saat itu Harris memperebutkan kursi wakil presiden bersaing dengan wakil Trump, Mike Pence.
Kamala Devi Harris lahir di Oakland, California pada tanggal 20 Oktober 1964. Nama Kamala merupakan pemberian oleh ibunya yang memiliki arti “Teratai” sebagai bagian dari budaya India. Kamala juga berarti nama lain untuk dewi Hindu Lakshmi dan pemberdayaan perempuan.
Ia merupakan anak sulung dari dua bersaudara. Adiknya, Maya berprofesi sebagai advokat yang mengurusi kebijakan publik. Sementara sang ibu, Shymala Gopalan merupakan seorang peneliti kanker sekaligus aktivis hak-hak sipil dari India. Ayahnya, Donald Harris yang merupakan pengajar di Universitas Stanford dan juga ekonom dari Jamaika.
Harris pernah mengenyam pendidikan sarjana Ilmu Politik dan Ekonomi pada tahun 1986 di Howard University, Washington D.C. dan aktif menjadi anggota perkumpulan mahasiswa kulit hitam bernama Alpha Kappa Alpha. Ia juga pernah mengeyam pendidikan di University of California pada tahun 1989 dan memperoleh gelar sarjana hukum. Latar belakang pendidikan inilah yang mengantarkan Harris menapaki karier di bidang hukum dan politik.
Karier Kamala Harris secara profesional di dunia hukum tak boleh dianggap remeh. Pada 1990 - 1998, Kamala Harris telah bekerja sebagai seorang wakil jaksa wilayah di Oakland, California. Ia mendapatkan reputasi tinggi setelah sering menuntut kasus kekerasan geng, pelecehan seksual, dan pedagangan narkoba.
Tahun 2004, Harris menjadi jaksa wilayah dan pada 2011 hingga 2017 ia terpilih menjadi seorang Jaksa Agung California ke-32. Dia menjadi orang Afrika-Amerika pertama yang memegang jabatan tersebut. Kariernya kemudian melesat hingga bergabung dengan Partai Demokrat dan menjadi politikus yang menduduki jabatan senator sejak 2017.
Ia juga sempat menjadi jaksa distrik San Francisco. Pada 11 Agustus 2020, Joe Biden memilih Harris sebagai calon Wakil Presiden Amerika Serikat untuk bersaing dengan petahana Presiden Donald Trump dari Partai Republik dan Wakilnya Mike Pence.
Kontributor : Nadia Lutfiana Mawarni
Berita Terkait
-
Joe Biden Mundur Demi Bersatunya Partai Demokrat, Anggota Komite: Kita Tidak Mau Dipimpin Donald Trump
-
Donald Trump Sebut Joe Biden Bisa Jadi Presiden Amerika Serikat Karena Kebohongan
-
Maju di Pilpres AS Gantikan Joe Biden, Kamala Harris: Saya Siap Kalahkan Donald Trump dan Proyek Ekstremnya!
-
Mark Zuckerberg Puji Semangat Trump Pasca Percobaan Pembunuhan
-
Donald Trump Bahas Hubungannya dengan Kim Jong-un, Sebut Ingin Bertemu Lagi: Dia Merindukan Saya
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
KPK Limpahkan Perkara Tersangka Terakhir Kasus Suap Impor di Bea Cukai ke Tahap Penuntutan
-
Razman Arif Nasution Resmi Dipenjara usai Divonis Cemarkan Nama Baik Hotman Paris
-
Jokowi Hadiri Rakorda PSI di Lampung, Siap Sampaikan Pandangan soal Politik Nasional
-
Mengapa Tekan Emisi Saja Tidak Akan Cukup Selesaikan Krisis Lingkungan? Studi Ungkap Caranya
-
Razman Nasution Resmi Ditahan di Lapas Cipinang, Buntut Kasus Hotman Paris
-
Gempa Venezuela Renggut 235 Jiwa, Krisis Medis Melanda Wilayah La Guaira
-
Sekolah Rakyat Rasa Militer? 1.000 Taruna Kemhan Bakal Diterjunkan Gembleng Disiplin Siswa
-
Ribuan Siswa Lolos PTN Memilih Tak Daftar Ulang, Sinyal Krisis Biaya Pendidikan?
-
Selat Hormuz Memanas Lagi, Serangan Drone Iran Menghentikan Evakuasi Kapal IMO
-
Dasco Pimpin Rapat Bareng Pemerintah dan Buruh, Antisipasi Badai PHK