Suara.com - Jaksa Antiterorisme Prancis, Olivier Christen, mengungkapkan bahwa sebanyak 364 anak yang dipulangkan ke Prancis setelah orang tua mereka bergabung dengan ISIS di Suriah dan Irak dalam satu dekade terakhir berada dalam kondisi yang baik. Anak-anak ini berada di bawah pengawasan ketat untuk memastikan mereka mendapatkan perawatan dan dukungan yang optimal.
Christen, yang memimpin Kantor Kejaksaan Antiteror Nasional (PNAT), mengatakan kepada stasiun radio France Info bahwa anak-anak tersebut tersebar di 59 departemen atau wilayah di seluruh Prancis. Mereka diawasi oleh hakim anak-anak, dan pihak PNAT bekerja sama dengan berbagai otoritas untuk memastikan kebutuhan anak-anak ini terpenuhi.
"Ada 364 anak di 59 departemen, yang diawasi oleh hakim anak-anak dan yang mendapat manfaat dari koordinasi dari kantor saya untuk memastikan mereka mendapatkan perawatan yang optimal," jelasnya.
Meskipun ada kekhawatiran di masa lalu bahwa anak-anak yang dipulangkan dari wilayah kekuasaan ISIS bisa menjadi ancaman bagi keamanan nasional, Christen membantah anggapan tersebut.
Pada tahun 2018, seorang jaksa antiteror lainnya menyebut bahwa anak-anak ini bisa menjadi "bom waktu" karena paparan mereka terhadap ideologi ekstremis saat bersama orang tua mereka di wilayah yang dikuasai ISIS.
Namun, Christen menegaskan bahwa kekhawatiran itu tidak berdasar.
"Ke-364 anak ini menurut saya sama sekali tidak sesuai dengan ungkapan itu," katanya.
"Mereka diawasi dengan ketat dan tidak menimbulkan kesulitan tertentu." lanjut Christen.
Christen juga menjelaskan bahwa kondisi anak-anak ini sangat beragam, di mana sebagian dari mereka masih berusia anak-anak, sementara yang lain telah beranjak remaja. Dalam setiap kasus, pihak berwenang telah menyesuaikan pendekatan pengawasan dan perawatan sesuai dengan kebutuhan individu mereka.
Baca Juga: Serangan Israel di Suriah Tewaskan 14 Orang, Pusat Penelitian Ilmiah Jadi Sasaran
Perubahan Kebijakan Prancis dalam Pemulangan Warga
Sejak kekhalifahan ISIS runtuh pada tahun 2019, pemerintah Prancis telah memulangkan 170 wanita yang bergabung dengan kelompok tersebut di Irak dan Suriah, termasuk 57 orang yang dipulangkan dari kamp penahanan di timur laut Suriah. Sebagian besar anak-anak yang dipulangkan, yaitu 169 dari 364 anak, kembali ke Prancis dalam dua tahun terakhir.
Sebelumnya, Prancis hanya memulangkan anak-anak dari wilayah konflik secara kasus per kasus, terutama dengan memprioritaskan anak yatim piatu atau anak-anak yang ibunya setuju untuk melepaskan hak asuh mereka. Namun, kebijakan ini berubah dua tahun lalu ketika Paris mempercepat proses pemulangan, terutama setelah runtuhnya teritorial ISIS.
Kembalinya anak-anak dan wanita dari wilayah konflik di Suriah dan Irak menuntut adanya langkah-langkah yang hati-hati dari pemerintah Prancis. Selain pengawasan ketat, diperlukan dukungan psikologis, sosial, dan pendidikan untuk memastikan bahwa anak-anak ini dapat berintegrasi dengan baik ke dalam masyarakat.
Prancis tetap waspada terhadap risiko keamanan, namun dengan pendekatan yang lebih berfokus pada rehabilitasi dan pemulihan, mereka berharap dapat mencegah potensi radikalisasi di masa depan.
Dengan langkah yang terus diawasi oleh berbagai pihak, pemerintah Prancis berharap dapat mengelola tantangan ini tanpa menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat luas.
Berita Terkait
-
Serangan Israel di Suriah Tewaskan 14 Orang, Pusat Penelitian Ilmiah Jadi Sasaran
-
Resmi! Timnas Indonesia Masuk 10 Besar Asia, Jauh di Atas Irak hingga Malaysia
-
Pemain Irak Justru Ikut Bujuk Ole Romeny Perkuat Timnas Indonesia
-
Jadi Buruan Internasional! Prancis Incar Nikolai Durov, Kakak Pendiri Telegram
-
Kenapa Antoine Griezmann Selalu Pakai Jersey Lengan Panjang? Ini Alasannya
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Guru yang Cabuli 4 Santri di Ponpes Lombok Tengah Ternyata Aktif di Aplikasi Kencan Gay
-
Pria Misterius Tewas Tertabrakn Kereta di Jagakarsa, Kulit Putih Diduga Usia 25 Tahun
-
Israel Bajak Global Sumud Flotila di Laut Internasional, Netanyahu Bangga Tangkap Aktivis Gaza
-
Menhan Sjafrie: Seluruh Kabupaten di Jawa Dikawal Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan di 2026
-
Menhan Sjafrie: Misi Kemanusiaan Gaza Tertunda Akibat Konflik AS - Iran
-
LPSK Pasang Badan, Lindungi PRT di Jaksel yang Diduga Dianiaya dan Dilaporkan Balik Majikan
-
23 Gedung di Jakarta Terancam Disegel Imbas Tak Punya Izin SLF, Termasuk Pasar Asemka!
-
Reaksi Presiden Irlandia Usai Adiknya Ditangkap Israel di Global Sumud Flotilla
-
Membongkar Modus Predator Pengelana Feri: Mengapa Janji Loker di Medsos Masih Ampuh Jerat Mahasiswi?
-
Trump Tunda Serangan ke Iran Usai Desakan Negara Teluk, Takut Dibalas Rudal Teheran