Suara.com - Sejumlah elita PDI Perjuangan (PDIP) dinilai telah mengeluarkan pernyataan tendensius terkait desakan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk mencopot Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Salah satunya dilontarkan oleh Ketua DPP PDIP Deddy Yevri Sitorus. Desakan itu disampaikan Deddy agar Prabowo berani melepas syahwat politik Joko Widodo atau Jokowi di Pilkada Serentak 2024.
Menurut koordinator Komando Masyarakat Arus Depan Pancasila (Komrad Pancasila), Antony Yudha, desakan Deddy Sitorus kepada Presiden Prabowo untuk mencopot Kapolri sebagai tindakan irasional dan tidak relevan.
Antony berpendapat bahwa jangan karena calon PDIP banyak yang kalah lalu mencari kambing hitam, apalagi menuduh Kapolri dan jajarannya menjadi biang kerok kekalahan PDIP di Pilkada.
"Seharusnya PDIP kalau banyak jagoannya kalah pilkada ya baiknya evaluasi internal lalu benahi. Lah ini tiba-tiba minta Kapolri dicopot terus minta Polri di bawah TNI atau Mendagri. Makin tidak nyambung dan cenderung halu," ujar Antony dalam keterangan tertulis yang diterima, Jumat (29/11/2024).
Antony justru mengatakan, bahwa masyarakat mengapresiasi kinerja Polri dalam mengamankan Pilkada sehingga masyarakat bisa menyalurkan hak pilihnya dengan aman dan kondusif.
Dia menegaskan, permintaan PDIP untuk mencopot Kapolri dan menaruh Polri di bawah kementeriaan merupakan sesuatu yang provokatif dan mencederai semangat reformasi.
“ Momentum reformasi sudah membawa Polri dan TNI menjadi lembaga yang sejajar dengan tugasnya masing-masing masa mau dicederai lagi. Seharusnya momen pilkada ini dijadikan momen untuk memperjuangkan nasib wong cilik bukan malah jadi berpikiran picik," kata Antony.
Desakan PDIP Copot Kapolri
Baca Juga: Kuasa Hukum Firli Bahuri Minta Kasus Kliennya Dihentikan, Klaim Telah Surati Kapolri
Sebelumnya, Ketua DPP PDIP Deddy Yevri Sitorus mendorong Presiden Prabowo Subianto agar mencopot Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dari jabatannya sebagai Kapolri.
Awalnya, Deddy menyampaikan bahwa pemilu di Indonesia, termasuk pilkada, penuh kecacatan karena ulah Joko Widodo atau Jokowi.
""Budaya politik buruk ini kami menamakan sebagai budaya Jokowisme, karena bermula pada saat seorang penguasa bernama Jokowi dengan segala cara, dengan segala kekuasaan yang dimilikinya, melakukan upaya-upaya untuk menghasilkan pemilu sesuai keinginannya," kata Deddy dalam jumpa pers di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Kamis (28/11/2024).
Ia menuding bahwa hal tersebut digerakan 'Partai Cokelat' yang menjadi kosakata baru dalam perpolitikan Indonesia masa kini.
"Sudah disebutkan di dalam gedung DPR, baik Komisi II maupun Komisi III juga sudah menyinyalir masalah ini. Jadi ini bukan sesuatu yang baru," katanya.
"Kami di PDI perjuangan terus terang sedih, karena yang dimaksud 'Partai Cokelat' ini sudah barang tentu adalah oknum-oknum kepolisian. Cuma karena tidak hanya satu, tidak hanya satu tempat, mungkin sebaiknya kita tidak menyebut oknum-oknum," tambah Deddy.
Berita Terkait
-
Bela Ara usai Dicap Hina KPK karena Sayembara Rp8 M, Habiburokhman ke PDIP: Urus Dulu Harun Masiku
-
Anggota DPR Diadukan ke MKD Gegara Sebut 'Partai Cokelat' Cawe-cawe, Habiburokhman: Itu Hoaks!
-
Rumah Pemenangan Pram-Rano Dipenuhi Karangan Bunga, Ada dari RK hingga Ikatan Janda
-
KPU RI: Data C Hasil Pilkada 2024 Tingkat Provinisi Sudah 97 Persen Masuk Sirekap
-
KPU Sebut Partisipasi Pilkada 2024 Anjlok di Bawah 70 Persen, Ini yang Bakal Dilakukan
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- 26 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 31 Januari 2026: Buru Gullit 117 OVR dan Voucher Draft Gratis
- 5 Mobil Toyota Dikenal Paling Jarang Rewel, Ideal untuk Mobil Pertama
- 5 HP Murah Alternatif Redmi Note 15 5G, Spek Tinggi buat Multitasking
- 6 Moisturizer Pencerah Wajah Kusam di Indomaret, Harga di Bawah Rp50 Ribu
Pilihan
-
Jeffrey Hendrik Belum Resmi jadi Pjs Direktur Utama BEI
-
Penghentian Operasi dan PHK Intai Industri Batu Bara Usai Kementerian ESDM Pangkas Kuota Produksi
-
Perilaku Audiens Berubah, Media Diminta Beradaptasi dengan AI dan Medsos
-
Pintu Langit Dibuka Malam Ini, Jangan Lewatkan 5 Amalan Kunci di Malam Nisfu Syaban
-
Siapa Jeffrey Hendrik yang Ditunjuk Jadi Pjs Dirut BEI?
Terkini
-
Guru Honorer Ngadu ke DPR: Sulit Masuk Dapodik hingga Jadi Kurir Laundry Demi Tambah Penghasilan
-
Prabowo ke Pramono: Saya Dukung Sebagai Gubernur, Nanti 2029 Ya Terserah
-
Prabowo Gagas Program 'Gentengisasi': Atap Indonesia Pakai Genteng, KMP Merah Putih Jadi Motornya
-
Jelang Imlek dan Ramadan 2026, Stok Pangan Jakarta Diklaim Aman Meski Permintaan Telur Ayam Melonjak
-
Prabowo: Kalau Gerindra Brengsek, Gerindra Pun Saya Tangkap
-
Prabowo Sorot Semrawutnya Kota Balikpapan, Banjarmasin hingga Bogor: Tak Ada Bedanya, Isinya Spanduk
-
KPK Panggil Eks-Direktur Keselamatan Perkeretaapian, Kasus Korupsi DJKA Jatim Makin Memanas!
-
Tragis! Eks Sekjen Pordasi DKI Dianiaya Sepekan Sebelum Ditemukan Tewas di Gumuk Pasir Bantul
-
Tak Terima Diminta Jubir KPK untuk Fokus Jalani Sidang, Noel: Juru Nyinyir!
-
Ngaku Cuma Mengingatkan Tapi Dapat Respon Negatif dari Purbaya, Noel: Sekelas Menteri Saja Idiot!