Suara.com - Usulan pemberian mata pelajaran saham mulai dari siswa SD dinilai tidak ada manfaatnya. Alih-alih membuat siswa melek keuangan dan investasi, menjadikan saham sebagai pelajaran baru dinilai justru memberatkan peserta didik.
"Ini hanya memberatkan peserta didik. Gak ada untungnya, hanya tambah banyak mata pelajaran, semakin banyak beban, kualitas pendidikan kita malah gak jelas," kata koordinator nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matarji saat dihubungi Suara.com, Senin (13/1/2025).
Selain memberatkan, pengajaran saham juga berpotensi timbulkan diskriminasi baru dalam dunia pendidikan. Sebab, konsep pengajarannya pun belum jelas.
"Kalau nanti orang tuanya nanya, pelajaran saham PR-nya apa, lalu PR suruh beli saham, ya mumet orang tua itu. Jadi ini akan melahirkan diskriminasi baru berdasarkan kemampuan ekonomi orang tua peserta didik," ujarnya.
Ubaid juga menyebut kalau pemerintah terlalu mengada-ada jika memaksakan usulan tersebut. Padahal, kondisi nyata di lapangan banyak siswa SMA yang kemampuan literasinya masih buruk, bahkan belum bisa membaca.
Selain itu, kemampuan para guru juga dinilai belum cukup untuk mengajarkan saham kepada siswa mulai SD.
"Guru-guru kita gak punya kemampuan saham itu apa, gimana. Orang-orang expert di Indonesia yang main saham aja banyak yang boncos, apalagi guru yang tidak pernah belajar dan tidak pernah bermain," kritik Ubaid.
"Jadi anggaran pendidikan kita gak jelas arahnya, jangan cuma menuruti semua kemauan semua menteri. Jadi berantakan secara kualitas," pungkasnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan keinginannya agar materi tentang jual beli saham diajarkan sejak SD. Rencana itu dikatakan sebagai upaya peningkatan literasi dan edukasi pasar saham, melihat angka partisipasi masyarakat yang dinilai masih relatif kecil di pasar atau bursa tersebut.
Baca Juga: Anak SD Belajar Saham: Jangan Terburu-buru, Kuatkan Dulu Fondasi Keuangan
Usulan itu nampak disambut baik oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti. Dia menyampaikan kalau materi saham bisa dimasukan dalam pelajaran matematika atau pun ekonomi.
la menjelaskan bahwa berbagai aspek keilmuan, termasuk di antaranya yang berkenaan dengan pasar modal, merupakan bagian dari prinsip deep learning. Saat ini, Kemendikdasmen sedang mengupayakan deep learning agar para pembelajar terintegrasi dengan banyak aspek dalam kaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Meski begitu, Mu'ti belum bisa memastikan lebih lanjut mengenai kemungkinan pembelajaran terkait pasar modal akan dimasukkan ke dalam kurikulum yang akan datang, sebab hal tersebut belum menjadi bahasan di internal antar kementerian.
Berita Terkait
-
Kebakaran Los Angeles Panggang Saham Asuransi, Korban Khawatir Klaim Ditolak
-
Emiten Afiliasi Mantan Menteri BUMN (OBAT) Resmi IPO, Kantongi Rp59,5 Miliar
-
Kebakaran Los Angeles Panggang Saham Asuransi di AS, Potensi Bangkrut Massal Meningkat
-
Sempat Dikira Diambil Orang, Megawati Tanya Menkeu Sri Mulyani soal Gaji dan Uang Pensiun Bung Karno
-
Profil Insight Investments Management Yang Nikmati Cuan Haram dari Investasi Fiktif Taspen
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
Banjir Rendam Jakarta, Lebih dari Seribu Warga Terpaksa Mengungsi
-
Hujan Deras Rendam 59 RT di Jakarta, Banjir di Pejaten Timur Capai Satu Meter
-
Arahan Megawati ke Kader PDIP: Kritik Pemerintah Harus Berbasis Data, Bukan Emosi
-
Sikap Politik PDIP: Megawati Deklarasikan Jadi 'Kekuatan Penyeimbang', Bukan Oposisi
-
PDIP Tolak Pilkada Lewat DPRD, Megawati: Bertentangan dengan Putusan MK dan Semangat Reformasi
-
KPK Segera Periksa Eks Menag Yaqut dan Stafsusnya Terkait Korupsi Kuota Haji
-
Diperiksa 10 Jam, Petinggi PWNU Jakarta Bungkam Usai Dicecar KPK soal Korupsi Kuota Haji
-
KPK Periksa Petinggi PWNU Jakarta, Dalami Peran Biro Travel di Kasus Korupsi Haji
-
Kuasa Hukum Roy Suryo Sebut Kunjungan Eggi Sudjana ke Solo 'Bentuk Penyerahan Diri'
-
PDIP Kritik Pemotongan Anggaran Transfer, Desak Alokasi yang Adil untuk Daerah