Ia mengatakan bahwa pada hari Senin, warga menunggu di mobil mereka dari pukul 4:00 sore hingga pukul 2:00 dini hari sementara setiap kendaraan yang memasuki desa diperiksa dengan saksama.
Seorang warga daerah Ramallah lainnya, yang tidak ingin disebutkan namanya karena alasan keamanan, membandingkan lingkungan barunya dengan hewan yang dikurung.
"Seperti kelinci yang tinggal di dalam kandang. Di pagi hari mereka bisa keluar, melakukan berbagai hal, lalu di malam hari mereka harus pulang ke kandang," katanya.
Shadi Zahod, seorang pegawai pemerintah yang bepergian setiap hari antara Salfit dan Ramallah, merasakan hal yang sama.
"Seolah-olah mereka mengirimi kami pesan: tetaplah terjebak di kota Anda, jangan pergi ke mana pun", katanya kepada AFP.
"Sejak gencatan senjata, kami telah membayar harganya di setiap kota Palestina," katanya, saat penantiannya di sebuah pos pemeriksaan di Birzeit berlangsung hingga tiga jam.
Sebelum menyetujui gencatan senjata Gaza, kabinet keamanan Israel dilaporkan menambahkan "penguatan keamanan" di Tepi Barat ke dalam tujuan perangnya.
Kelompok hak asasi manusia Israel B'Tselem mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa bahwa Israel "hanya mengalihkan fokusnya dari Gaza ke wilayah lain yang dikuasainya di Tepi Barat".
Sebuah makalah akademis tahun 2019 oleh Institut Penelitian Terapan Yerusalem memperkirakan bahwa pada saat itu warga Palestina kehilangan 60 juta jam kerja per tahun karena pembatasan.
Baca Juga: Heboh! Komandan Hamas yang Diklaim Tewas Muncul Kembali di Gaza, Israel Salah Sasaran?
Namun bagi Basiel, dampak terburuknya adalah ketidakmampuan untuk membuat rencana bahkan untuk satu hari ke depan.
"Hal terburuk yang kita hadapi sekarang adalah kita tidak memiliki visi untuk masa depan dekat, bahkan besok."
Berita Terkait
-
Ratusan Truk Bantuan Tertahan, Israel Dituding Hambat Kesepakatan usai Gencatan Senjata
-
Cek Fakta: Potret Bandar Udara Sanaa di Yaman usai Terkena Serangan dari Israel
-
Cek Fakta: Taylor Swift Sebut Kebakaran LA Sebagai Hukuman bagi Kelompok Pro-Israel
-
Lebih dari 23.500 Perempuan dan Anak Tewas di Gaza, PBB: "Satu Generasi Trauma"
-
Heboh! Komandan Hamas yang Diklaim Tewas Muncul Kembali di Gaza, Israel Salah Sasaran?
Terpopuler
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- Keunggulan Pompa Air Shimizu PL-138 BIT, Solusi Air Jernih Anti Karat
Pilihan
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
Terkini
-
Mobil Boks di Bekasi Terobos Lampu Merah Hingga Tabrak 5 Motor, Satu Pemotor Tewas
-
Dalih Bobot 170 Kg Bikin Razman Dapat Sel 'Mewah', Hotman Paris Somasi Kalapas Cipinang!
-
Pedas! Guntur Romli Sebut Kepala Kerbau Diinjak Jokowi Simbol Loyalis Terbuai Perilaku Raja
-
1.000 Orang Meninggal karena Panas Ekstrem di Prancis. Kebanyakan Orang Tua di Rumah
-
Naik Pitam! Roy Suryo Semprot Pendukung Jokowi yang Mau Intervensi Sidang Praperadilan
-
Dibalik Mandatori Biodiesel Sawit B50, Potensi Deforestasi Setara 22 Kali Luas Jakarta Mengintai
-
Tragedi Latsarmil Kopdes, Komnas HAM Didesak Investigasi Program Pemerintah Berpotensi Langgar HAM
-
PKB Tak Toleransi: Ancam Sanksi Tegas Anggota DPRD TTU yang Mabuk dan Intimidasi dr Icha!
-
MagangHub Angkatan II Dibuka, Pemerintah Sediakan 150 Ribu Kuota dan Uang Saku hingga Rp 6 Juta
-
Ekonomi Indonesia Bak Timnas di Piala Dunia, Mensesneg: Semua Lini Harus Kompak