- Jabodetabek sedang berada pada fase puncak musim hujan yang diprediksi berlangsung hingga Februari 2026.
- Masa transisi musim terjadi mulai Maret hingga Mei, namun potensi cuaca ekstrem tetap mengancam.
- BMKG ingatkan potensi hujan lebat durasi singkat dan angin kencang akibat dinamika atmosfer aktif.
Suara.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan mengenai kondisi cuaca di wilayah Jakarta dan sekitarnya yang belakangan memicu banjir.
Wilayah Jabodetabek saat ini tengah berada dalam fase puncak musim hujan yang diprediksi masih akan berlangsung hingga Februari 2026 mendatang.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdani, menjelaskan bahwa periode basah ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun lalu.
"Musim hujan di wilayah Jabodetabek telah dimulai sejak akhir Oktober 2025, dengan puncak musim hujan diperkirakan berlangsung pada Januari hingga Februari 2026," ujar Andri dalam keterangan tertulisnya kepada Suara.com, Kamis (29/1/2026).
Meskipun puncak hujan diperkirakan berakhir bulan depan, ancaman cuaca tidak lantas mereda begitu saja saat memasuki periode berikutnya.
Berdasarkan analisis data meteorologi, wilayah Ibu Kota dan daerah penyangganya akan segera memasuki masa transisi musim mulai bulan Maret.
"Memasuki Maret hingga Mei 2026, wilayah Jabodetabek secara bertahap akan memasuki masa transisi musim. Namun demikian, perlu kami sampaikan bahwa potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi, baik pada puncak musim hujan maupun saat periode peralihan musim tersebut," kata Andri.
Potensi terjadinya cuaca ekstrem ini dipicu oleh dinamika atmosfer yang terpantau masih sangat aktif di sekitar wilayah Indonesia.
Hal tersebut berisiko memunculkan fenomena hujan dengan intensitas lebat, tetapi dalam durasi yang cenderung singkat.
Baca Juga: Banjir Jakarta Meluas Kamis Malam: 46 RT dan 13 Ruas Jalan Terendam
"Pada masa transisi, dinamika atmosfer masih cukup aktif dan dapat memicu hujan lebat berdurasi singkat, angin kencang, maupun cuaca ekstrem lainnya," terang Andri.
Oleh karenanya, BMKG mengimbau publik untuk selalu mempersiapkan diri dalam menghadapi perubahan cuaca yang fluktuatif demi menghindari dampak buruk bencana hidrometeorologi.
Masyarakat juga disarankan untuk rutin memeriksa pembaruan informasi cuaca melalui kanal resmi milik BMKG secara berkala.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Bedak Wardah High Coverage untuk Flek Hitam Membandel Usia 55 Tahun
- Reshuffle Kabinet: Sugiono Jadi Menko PMK Gantikan 'Orang Jokowi', Keponakan Prabowo Jadi Menlu?
- 10 Lipstik Paling Laris di Shopee Indonesia, Brand Lokal Mendominasi
- 3 Pilihan HP Infinix 5G dengan Performa Tinggi dan Layar AMOLED
Pilihan
-
Siapkan Uang Rp100 Miliar! Orang Terkaya RI Ini Serok 84 Juta Lembar Saham saat IHSG Anjlok
-
5 HP Memori 512 GB Paling Murah, Terbaik untuk Gamer dan Kreator Konten Budget Terbatas
-
7 HP RAM 8 GB Rp2 Jutaan Terbaik dengan Baterai Jumbo, Cocok buat Multitasking dan Gaming Harian
-
IHSG Anjlok, Purbaya: Jangan Takut, Saya Menteri Keuangan
-
10 Sneakers Putih Ikonik untuk Gaya Kasual yang Tak Pernah Ketinggalan Zaman, Wajib Punya
Terkini
-
KPK: Pemeriksaan Gus Alex oleh Auditor BPK Fokus Hitung Kerugian Negara
-
Vonis 6 Bulan untuk Demonstran: Lega Orang Tua, Tapi Ada yang Janggal Soal Kekerasan Polisi!
-
Banjir Jakarta Meluas Kamis Malam: 46 RT dan 13 Ruas Jalan Terendam
-
Gabung PSI, Rusdi Masse Dijuluki 'Jokowinya Sulsel' dan Siap Tempati Posisi Strategis DPP
-
Ray Rangkuti Kritik Standar Etika Pejabat: Jalur Pintas hingga DPR Jadi 'Dewan Perwakilan Partai'
-
Kemensos Dampingi Keluarga Randika yang Viral Disebut Meninggal Kelaparan
-
Tunggu Hal Ini Lengkap, Kaesang Bakal Umumkan Sosok 'Mr J' di Waktu yang Tepat
-
Transjakarta 'Nyerah' Diterjang Banjir, Momen Penumpang Diangkut Truk di Daan Mogot Viral
-
Jakarta Dikepung Banjir Lagi: Tanggul Jebol, Ratusan Rumah di Cengkareng Terendam Air 1 Meter
-
Ironi Lumbung Pangan Indramayu: Harga Gabah Naik, Petani Terpaksa Beli Pupuk di Pasar Gelap