Suara.com - Pihak berwenang India telah memerintahkan penyelidikan atas insiden berdesak-desakan yang terjadi di festival Hindu Maha Kumbh Mela pada hari Rabu (28/1), yang menyebabkan puluhan umat tewas saat jutaan orang berkumpul untuk melakukan berendam suci di pertemuan tiga sungai suci. Insiden ini terjadi di tengah acara keagamaan yang berlangsung selama enam minggu tersebut.
Menurut laporan kepolisian, sebanyak 30 orang tewas dan 90 orang mengalami luka-luka akibat insiden ini. Namun, sumber lain melaporkan kepada Reuters bahwa jumlah korban tewas hampir mencapai 40 orang.
Beberapa saksi mata menyebutkan bahwa insiden terjadi akibat dorongan kuat menuju sungai, yang mengakibatkan para penyembah saling bertumpukan. Sementara itu, saksi lain menyatakan bahwa penutupan akses menuju air menyebabkan kepadatan yang ekstrem, sehingga banyak orang pingsan karena kehabisan napas.
Menanggapi tragedi ini, Kepala Menteri negara bagian Uttar Pradesh, Yogi Adityanath, mengumumkan bahwa pemerintah telah membentuk komisi yudisial yang beranggotakan tiga orang untuk menyelidiki insiden tersebut.
"Komisi Yudisial akan menyelidiki seluruh masalah ini dan menyerahkan laporannya kepada pemerintah negara bagian dalam batas waktu tertentu," ujarnya dalam konferensi pers pada Rabu malam.
Para pejabat melaporkan bahwa lebih dari 76 juta orang telah berpartisipasi dalam ritual suci di pertemuan sungai Gangga, Yamuna, dan Saraswati di Prayagraj pada hari yang sama hingga pukul 8 malam waktu setempat. Sejak festival dimulai dua minggu lalu, hampir 280 juta orang telah menghadiri acara tersebut, termasuk pejabat pemerintah, pengusaha, dan selebritas.
Maha Kumbh Mela, yang diadakan setiap 12 tahun sekali, diperkirakan akan menarik sekitar 400 juta umat pada tahun 2025. Festival ini merupakan salah satu pertemuan keagamaan terbesar di dunia, jauh melampaui jumlah peserta ibadah haji di Arab Saudi yang mencapai 1,8 juta orang pada tahun lalu.
Bagi umat Hindu yang taat, ritual berenang di pertemuan tiga sungai suci diyakini dapat menghapus dosa dan memberikan keselamatan dari siklus kelahiran dan kematian. Pencelupan suci dilakukan setiap hari selama festival, tetapi terdapat beberapa hari tertentu yang dianggap sangat sakral dan disebut sebagai pencelupan kerajaan. Rabu merupakan salah satu hari tersebut, dengan tiga hari pencelupan kerajaan lainnya masih akan berlangsung sebelum festival berakhir.
Tragedi ini menimbulkan kritik dari berbagai pihak, termasuk pemimpin oposisi yang menuding adanya kesalahan manajemen dalam pengaturan kerumunan. Media lokal juga menyoroti perlunya perencanaan yang lebih baik untuk menghindari insiden serupa di masa depan. Surat kabar Hindustan Times dalam editorialnya menekankan bahwa lebih banyak personel harus dikerahkan dan perencanaan yang lebih baik diperlukan dengan memanfaatkan sumber daya darat serta teknologi modern. Mereka juga menegaskan bahwa tragedi semacam ini tidak boleh terulang dalam pencelupan kerajaan yang akan datang.
Baca Juga: Penampakan Rip Current Pantai Selatan Yogya dari Satelit, Bisa Seret Korban hingga Tewas
Dengan insiden ini, perhatian kini tertuju pada upaya pemerintah dalam memperbaiki sistem pengelolaan kerumunan guna memastikan keselamatan jutaan umat yang masih akan menghadiri festival Maha Kumbh Mela dalam beberapa minggu mendatang.
Berita Terkait
-
Penampakan Rip Current Pantai Selatan Yogya dari Satelit, Bisa Seret Korban hingga Tewas
-
Minta WNI Tak Tergiur Janji Manis Sindikat Perdagangan Orang, Prabowo: Jangan Mau Dibohongi!
-
WNI Tewas Ditembak di Malaysia, Prabowo Wanti-wanti Masyarakat Tak Nekat Ikut Penyeludupan Ilegal: Risikonya...
-
Klaim Langsung Dibahas ke PM Anwar Ibrahim, Prabowo Yakin Malaysia Investigasi Kasus WNI Tewas Ditembak
-
Siapa Salwan Momika? Pria Asal Irak Pembakar Al-Quran yang Tewas Ditembak!
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Vonis Korupsi Tata Kelola Minyak: Eks Dirut Pertamina International Shipping Dihukum 9 Tahun Penjara
-
Lingkaran Setan Kekerasan di Balik Seragam: Mengapa Polisi Junior Terus Jadi Korban Senior?
-
Bareskrim Ambil Alih Pengejaran Ko Erwin, Bandar Narkoba Terkait Kasus AKBP Didik
-
WNA Australia Terinfeksi Campak Usai Kunjungi RI, Kemenkes Percepat Imunisasi MR untuk Anak PAUDTK
-
Pramono Anung Instruksikan Perluasan Akses Jalan Guna Urai Kemacetan Flyover Latumenten
-
KPK Telusuri Pemilik Lima Koper Berisi Uang Rp5 Miliar dalam Kasus Bea Cukai
-
DPRD DKI Kritik Impor 3.100 Sapi oleh Pramono Anung, Dinilai Tak Sejalan UU Pangan
-
Habib Jafar: Ramadan Momentum Jadi Muslim Kaya Hati, Bukan Sekadar Kaya Materi
-
Hakim Tetapkan Kerugian Negara Kasus Korupsi Minyak Pertamina Sebesar Rp9,4 Triliun
-
Divonis 9 Tahun Penjara, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Sebut Fakta Sidang Diabaikan