Suara.com - Massa aksi demo bertajuk 'Indonesia Gelap' meminta agar aparat kepolisian tidak banyak omong menggunakan pengeras suara dari balik berier beton. Awalnya, massa aksi mengkritik kebebasan seni yang belakangan ini sedang dibungkam oleh pemerintah.
Perlawanan massa dilakukan dengan cara memutar lagu dari band Sukatani berjudul 'Bayar Bayar Bayar'. Musik tersebut diputar usai sebelumnya Sukatani dibredel akibat lirik musik mereka mengkritik soal polisi.
Usai pemutaran lagu tersebut, aparat kepolisian mengunakan pengeras suara mengimbau agar massa tidak bertindak anarkis dengan cara merusak barier beton penghalang.
Mendengar imbauan tersebut, massa kemudian meneriaki pihak kepolisian. Beberapa orang juga mulai melakukan pelemparan botol belas air mineral ke arah petugas.
Tidak mau massa bertambah anarkis, orator kemudian memotong imbauan pihak kepolisian. Polisi justru diminta untuk diam agar tidak menambah emosi massa.
“Bapak sebaiknya diam, kalau bapak bicara, kami malah semakin geram,” ucap orator dari atas mobil komando, Jumat (21/2/2025).
Mendengar pernyataan tersebut, pihak kepolisian langsung diam tak bergeming. Massa kemudian kembali menyoraki aparat.
Adapun tuntutan massa aksi Indonesia Gelap pada hari ini diantaranya yakni:
- Segera sahkan UU Pro Rakyat yakni RUU Masyarakat Adat, RUU Perampasan Aset, dan RUU PRT;
- Tolak UU Anti Rakyat, diantaranya revisi UU TNI, Revisi UU Minerba, dan revisi UU Polri;
- Melakukan evaluasi kebijakan diantaranya efisiensi anggaran, kabinet gemuk;
- Batalkan kebijakan tentang multifungsu TNI-Polri, Inpres nomor 1 tahun 2025, dan pembangunan IKN Nusantara.
Baca Juga: Hujan Deras Guyur Kawasan Patung Kuda, Masa Aksi 'Indonesia Gelap' Tetap Bertahan
Berita Terkait
-
Kata Melanie Subono, Polisi Tak Perlu Tersinggung Kalau Isi Lirik Lagu Sukatani Keliru
-
Profil Twister Angel, Vokalis Band Sukatani Ternyata Guru Sekolah Islam
-
Hujan Deras Guyur Kawasan Patung Kuda, Masa Aksi 'Indonesia Gelap' Tetap Bertahan
-
Melanie Subono Minta Musisi di DPR Ambil Sikap soal Kasus Band Sukatani
-
Sampaikan Kebenaran di Depan Pemimpin Zalim, Ini Pandangan Islam Soal Demonstrasi
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
-
5 Fakta Mencekam Demo di Mapolda DIY: Gerbang Roboh hingga Ledakan Misterius
-
Suasana Mencekam di Depan Polda DIY, Massa Berhamburan Usai Terdengar Ledakan
Terkini
-
Perang Rusia-Ukraina Masuk Tahun Keempat, PBB Desak Gencatan Senjata Segera
-
Fakta Baru! Pegawai Rental yang Aniaya Petugas SPBU Ternyata Positif Sabu dan Ganja
-
Komisi III DPR RI Sayangkan Guru Honorer di Probolinggo Dipidanakan karena Rangkap Jabatan
-
Sebut Dakwaan Jaksa Tidak Terbukti, Kerry Riza Minta Pembebasan dan Pengembalian Aset
-
Tragedi NS dan Fenomena Filisida: Mengapa Rumah Jadi Ruang Berbahaya bagi Anak?
-
Kubu Kerry Riza Sebut Jaksa Paksakan Keputusan Bisnis Jadi Tindak Pidana Korupsi
-
Konflik Kartel Meksiko Geser Rantai Pasok Narkoba ke Indonesia, BNN Waspadai Jalur Alternatif
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
-
Jelang Vonis Korupsi Pertamina, Ketua Hakim Beri Peringatan Keras: Jangan Coba-coba Pengaruhi Kami!