Suara.com - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengkritik pernyataan sejumlah pejabat pemerintah yang menyarankan pelaku usaha hotel untuk berinovasi dengan mencari pangsa pasar lain.
Sekjen PHRI Maulana Yusron mengkritik pernyataan tersebut dan menganggap pemerintah hanya asal bicara, tanpa mempertimbangkan kondisi ekonomi dalam negeri akibat dari berbagai kebijakan.
"Gimana cara inovasinya? Padahal itu pasar yang dibentuk orkestratornya adalah pemerintah yang membentuk sehingga pasarnya terlalu besar kemudian disuruh berinovasi lagi untuk mengubah pasar tersebut," kata Maulana kepada Suara.com, saat dihubungi Senin (7/4/2025).
"Saya yakin ini hanya sebuah statement yang terlalu asal bicara aja, dianggap semua sesederhana atau digampangin," katanya menambahkan.
Pernyataan sejumlah pejabat pemerintah itu yang menyarankan pelaku industri perhotelan mencari pangsa pasar lain di tengah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pemangkasan anggaran pemerintah.
Maulana menekankan bahwa tidak mudah bagi pelaku usaha untuk mengganti pasarnya begitu saja. Oleh sebab itu, kebijakan efisiensi anggaran yang dilakukan sebenarnya berdampak panjang dan luas, termasuk bagi sektor usaha hotel dan restoran.
Penurunan terisinya kamar hotel bahkan tidak hanya terlihat selama priode libur lebaran Idul Fitri 2025. Maulana mengungkapkan, pasca Idul Fitri yang biasanya hotel masih ramai dipesan untuk berbagai kegiatannya, tahun ini jumlahnya sangat turun.
"Setelah lebaran kita belum melihat adanya reservasi (hotel) akibat dari efisiensi yang diterapkan oleh pemerintah itu kan anggaran kegiatannya juga belum kelihatan. Di sisi hotel kegiatannya belum kelihatan. Sehingga dampaknya cukup besar," ucapnya.
Menurut Maulana, pemerintah saat ini harus membereskan penurunan daya beli masyarakat agar ekonomi dalam negeri tetap berputar.
Baca Juga: Terkuak! Hasil Autopsi Ungkap Penyebab Jurnalis Asal Palu Tewas di Hotel D'Paragon Jakbar
Bagi pelaku usaha hotel dan restoran, Maulana menyebutkan bahwa wisatawan domestik tetap menjadi konsumen utama mereka. Itu sebabnya, tidak akan mudah bagi pelaku usaha hotel dan restoran mengubah atau mencari pangsa pasar lain.
"Kalau misalnya kita bicara mencari pasar baru, tentu semua pelaku usaha akan mencari target itu, tapi tidak mudah. Karena pasar itu berkontribusi 40-60 persen dari sisi revenue. Gak gampang mengubah itu karena kekuatan kita adalah domestic traveler kita," tegasnya.
Sebelumnya PHRI mencatat adanya penurunan okupansi hotel hingga 20 persen selama libur lebaran Idul Fitri 2025, dibandingkan periode tahun lalu. Sekjen PHRI Maulana Yusran menyebutkan, penurunan okupansi itu sebenarnya sudah bisa terlihat dari menurunnya juga jumlah pemudik saat lebaran tahun ini.
Berdasarkan survei Kementerian Perhubungan (Kemenhub), jumlah pemudik selama lebaran 2025 turun 24 persen. Maulana berpandangan, turunnya pergerakan masyarakat untuk mudik lebaran itu tentu juga akan memengaruhi layanan akomodasi.
"Dari sisi pergerakannya yang dilaporkan oleh pemerintah melalui Kemenhub sendiri kan turun. Berarti kalau kita bicara akomodasi, kami juga harus melihat dari sisi transportasinya dulu. Kalau pergerakannya menurun, otomatis akomodasi akan menurun. Itu udah pasti pemicunya ada di sana," kata Maulana kepada Suara.com.
PHRI kata dia, tidak melihat adanya perubahan pola menginap masyarakat. Karena kebiasaan menginap di hotel atau staycation sendiri masih menjadi tren di masyarakat.
Berita Terkait
-
Apa yang Ditinggalkan Pemudik di Kampung Halaman?
-
Hotel Malah Sepi Selama Libur Lebaran, Dampak Perekonomian Lesu jadi Pemicunya!
-
Tiket Whoosh Laris Manis, Pemudik Balik ke Jakarta Membludak di Jam-jam Ini
-
1,3 Juta Kendaraan Pemudik Balik ke Jakarta, Polri Klaim Lalin Lancar dan Angka Kecelakaan Turun
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Pelajar Palembang Viral Usai Pamer Revolver saat Konvoi, Ternyata Senpira Dibeli dari Facebook
-
Nama Bupati PALI Muncul di Kasus Suap Audit BPK, KPK Periksa Asgianto Sebagai Saksi
-
Kondisi Terbaru Gunung Semeru, Enam Kali Erupsi dalam Sehari dan Masih Berstatus Siaga
-
Detik-detik Narapidana Narkoba Diborgol Usai Bebas karena Remisi 17 Agustus, Ada Apa?
-
Dedi Mulyadi Sindir Birokrasi Minta Dihormati: Rapat Habis Puluhan Juta, Tapi Rakyat Tetap Menderita
-
Koreksi Data Pidato Presiden: 6 Fakta Realitas Hidup Susanah, Kuli Kain Majun Asal Cileungsi Bogor
-
Bantah Isu Pisah dari NKRI, Ini 6 Pesan Penting Sultan Banten ke-18 untuk Masyarakat
-
Penerbangan Langsung Palembang-Bandung Kembali Hadir, Ini Jadwal dan Harga Tiket Citilink
-
Oknum Petugas Bandara Terlibat Penyelundupan 22 Kg Emas Batangan
-
Mati Lampu hingga 4 Jam, Cek Daftar Wilayah di Palembang yang Terdampak Pemadaman PLN