“duh ini pemerintah, negara, aduh, gak boleh di sini lah, masa ini jemuran, Allah Maha Besar,” tambahnya.
Mendengar omelan dari pak Gubernur, pria ini sontak menjelaskan alasannya menjemur di pinggir jalan, lantaran di rumahnya tidak ada tempat untuk menjemur.
“Ya gak kira-kira, jemur celana dalam di pinggir jalan, gak kira-kira banget,” kata KDM.
“Di sana (rumah) gak ada jemuran,” sahut pria itu.
“Ya jangan, gak gini juga. Gak kira-kira, ini pinggir jalan besar ini,” tandas KDM.
Tanpa meninggalkan Kesan buruk, KDM selalu berusaha mencari solusi, ia sontak memberikan sejumlah uang untuk pria tersebut sebagai pengganti jemurannya yang dirusak petugas Satpol PP.
“berapa harga jemuran? Beli jemuran, yang jauh gak boleh disini. Saya kasih ini,” ucap KDM sembari menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan.
“iya siap pak haji,” jawab pria itu.
“mulai besok kalau jemur di sini lagi saya semprot,” perintah KDM.
Baca Juga: Profil Helmy Yahya yang Ditunjuk Dedi Mulyadi jadi Komisaris Independen Bank BJB
“iya pak, terima kasih pak,” sahut pria itu.
Gusur Puluhan Bangunan Tanpa Drama
Kang Dedi Mulyadi (KDM) juga sempat melakukan pembongkaran bangunan di bantaran kali Kabupaten Bekasi tepatnya di Babelan guna menormalisasi kali.
Meskipun puluhan bangunan yang digusur, namun penggusuran ini tidak memunculkan drama.
Tidak ada teriakan histeris, tidak ada tangisan warga yang tergusur, bahkan cacian pun juga tidak ada.
Seperti diketahui, pembongkaran ataupun penggusuran biasanya identik dengan caci maki.
Hal ini rupanya karena KDM tidak merugikan para pihak terutama rakyat kecil atas kebijakannya.
Setiap bangunan yang dibongkar akan dihitung per meter, apa saja jenis material yang digunakan.
Selanjutnya akan dihitung modal pembelian material bangunan tersebut. Sehingga masyarakat yang membangun tidak akan dirugikan.
Masyarakat yang rumahnya dibongkar dan digusur tersebut secara tidak langsung mendapatkan konfensasi penggusuran.
Kontributor : Kanita
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Molor Setahun! Proyek SDN Cipete Utara 01 Paksa Orang Tua Korbankan Jam Kerja Demi Anak
-
Misteri 2 Jasad Anonim di Lampung Selatan, Ini Ciri-cirinya
-
Di Mana Tempat Beli Parfum YSL Ori? Ini 5 Toko Tepercaya dan Variannya yang Paling Wangi
-
Dari Penumpang Biasa Jadi Bagian Perubahan: Cerita Kecil Selamatkan Bumi Lewat KRL
-
Proyek 10 Kampus URI: Solusi Cetak Birokrat atau Pemborosan Dana APBN?
-
6 Saham Masuk Rekomendasi di Tengah Penurunan Tensi Perang, Ada Emiten BIPI
-
Penjaga Sekolah di Bintan Peras Uang Jajan Siswa SD Selama 3 Tahun Demi Main Judi Online
-
PSIS Kunci Raffinha, Mahesa Jenar Perkuat Misi Kembali ke Super League
-
Cashlez Kantongi Dana Rp237,2 Miliar dari Rights Issue, Siap Perluas Ekosistem Pembayaran Digital
-
Kobaran Api Kepung Hutan Gunung Jati