Suara.com - Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati mengaku diserang buzzer di media sosial peribadinya usai mengomentari kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi soal mengirim siswa sekolah ke barak militer.
Pengakuan itu disampaikan Esti ketika membuka Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panja Pendidikan di daerah 3T. Mulanya, Esti meminta kepada perwakilan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) dan Unicef Indonesia untuk berpendapat secara terbuka tanpa khawatir salah.
Menurutnya, risiko paling tinggi dari perbedaan pendapat bisa jadi diserang oleh buzzer.
"Tidak perlu takut menyampaikan di forum ini, tidak ada sanksi hukum. Kalau toh sedikit berbeda, paling-paling nanti kalau ada yang tidak berkenan, nanti buzzer yang menyerang," kata Esti saat RDPU di kantor Komisi X DPR, Jakarta, Senin (5/5/2025).
Politisi PDIP itu mengaku dapat serangan buzzer pagi tadi usai sebelumnya mengomentari kebijakan pengiriman siswa ke barak militer. Esti menyebutkan kalau menurutnya perlu ada kajian menyeluruh terkait kebijakan tersebut.
"Hari ini saya diserang karena mengatakan perlu ada kajian mendasar dulu sebelum mengirimkan anak didik ke barak militer. Wah, langsung penuh medsos saya," ungkapnya.
Hanya saja Esti tak menjelaskan lebih rinci terkait serangan buzzer yang dia terima itu. Baginya, serangan buzzer tersebut menjadi suatu tambahan tantangan. Kendati begitu, sebaiknya tidak ada pemaksaan ketika ada perbedaan pendapat.
Sebelumnya, Esti Wijayati berkomentar kalau program pembinaan siswa nakal di barak militer seharusnya perlu dikaji ulang. Dia mengungkapkan kalau program tersebut juga belum pernah dibahas di parlemen antara Pemprov Jabar dengan Komisi X DPR.
Esti mengkritisi kalau program itu seperti membuat anak-anak mendapatkan diskriminasi serta pencabutan hak mereka atas pendidikan formal.
Baca Juga: Digembleng Tentara, Dedi Mulyadi Sebut Para Siswa Sehat dan Bahagia: Mereka Bukan Anak Nakal Lagi
Perlu Libatkan Pakar
Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menilai penanganan anak bermasalah dengan dimasukkan atau dididik dalam barak TNI perlu melibatkan pakar dan ahli di bidangnya.
"Jadi saran saja, disiapkan, dikonsepkan dengan hati-hati. Melibatkan juga tentunya para pakar, pemerhati keluarga, ahli ilmu keluarga, psikolog, dan tentu harus diajak bicara juga keluarganya," kata Bima di Balai Kota Malang, Jawa Timur, Jumat (2/5/2025).
Dia mengatakan, kebijakan memasukkan anak bermasalah ke dalam barak TNI meski tujuannya untuk pendidikan, tetapi sebisa mungkin dilakukan pengkajian mendalam terhadap konsep pelaksanaannya.
"Catatannya adalah harus hati-hati, yang namanya mendidik itu bukan hanya sekadar melatih kedisiplinan, tetapi ada unsur psikologis dan kepribadian yang juga harus diperhatikan," ujarnya sebagaimana dilansir Antara.
Pola pendidikan harus lebih menekankan pada pendekatan kekeluargaan, membangun interaksi antara peserta, pemerintah daerah pemilik kebijakan, dan pihak yang bertugas menangani anak-anak tersebut.
Berita Terkait
-
Tawuran Warga Kembali Pecah di Terowongan Manggarai, Polisi Sebut Tak Ada Korban
-
Digembleng Tentara, Dedi Mulyadi Sebut Para Siswa Sehat dan Bahagia: Mereka Bukan Anak Nakal Lagi
-
Antarkan Anak Bermasalah ke Barak Militer, Wajah Semringah Ibu-ibu Jadi Sorotan
-
Ogah Ikuti Dedi Mulyadi Kirim Siswa Nakal ke Barak Militer, Pramono: Jakarta Punya Kebijakan Sendiri
-
TNI AD Buka Suara Soal Siswa Nakal Masuk Barak Militer: Bukan Militerisme
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
PAM Jaya Siapkan Ribuan Toren Gratis, Warga Jakarta Diminta Tak Tunggu Kemarau Datang
-
Kerry Dibebani Rp13,4 Triliun, Pengacara Sebut Hakim Pakai Analisis LSM yang Tak Berwenang
-
Putusan Banding Dianggap Janggal, Kerry Riza Ajukan Kasasi ke MA
-
Kepercayaan Polri Tembus 82,4 Persen, Habiburokhman: Jangan Puas Diri, Terus Berbenah
-
Prabowo Tanya Akademisi: Kenapa 81 Tahun RI Tidak Bisa Bikin Mobil Buatan Sendiri?
-
Sikat Parkir Liar di Cawang, 250 Personel Gabungan Derek Mobil yang Nekat Bandel!
-
Perempuan Didorong Jadi Aktor Utama Ekonomi Restoratif, Tak Lagi Sekadar Penerima Manfaat
-
Terkuak! Ini Pemicu Longsor Petamburan: Dari Abrasi Kali BKB hingga Bangunan di Sempadan
-
Sekjen Partai Buruh Ferri Nuzarli Mundur! 1,3 Juta Anggota ORI Kompak Tinggalkan Partai
-
Prabowo Singgung Kegaduhan Usai Pemilu, Istana Langsung Klarifikasi