Suara.com - Bumi secara resmi memasuki fase iklim baru yang mengkhawatirkan. Menurut dua studi terbaru yang dipublikasikan di Nature Climate Change, suhu rata-rata global telah melampaui ambang batas 1,5°C dibandingkan era pra-industri.
Sejak Perjanjian Paris ditandatangani pada 2015, dunia sepakat untuk menahan laju pemanasan global di bawah 1,5°C demi mencegah kerusakan yang tak terelakkan pada sistem penopang kehidupan di planet ini.
Namun, seperti yang ditulis oleh Andrew King, Associate Professor di bidang Ilmu Iklim di The University of Melbourne, tahun 2024 tampaknya menjadi awal dari era baru: era di mana suhu tahunan secara konsisten melampaui ambang batas yang disepakati. Demikian seperti dikutip dari The Conversation.
Satu tahun yang panas memang tidak serta-merta berarti kita telah gagal. King menjelaskan bahwa Perjanjian Paris menekankan pentingnya tren jangka panjang, bukan fluktuasi tahunan.
Namun, dua studi tersebut mengambil pendekatan berbeda. Studi dari Eropa menunjukkan bahwa ketika Bumi mencapai pemanasan 1,5°C, besar kemungkinan suhu akan tetap berada di atas titik itu selama 20 tahun ke depan.
Sementara studi dari Kanada menemukan bahwa jika suhu bulanan melebihi ambang 1,5°C selama 12 bulan berturut-turut — seperti yang terjadi pada Juni 2024 — maka kita telah memasuki fase permanen pemanasan tersebut.
Dalam konteks ini, 2024 bukan hanya "tahun terpanas", tetapi juga "tahun pertama dari banyak tahun panas berikutnya".
Menuju Arah yang Salah
King mencatat bahwa meski ilmu pengetahuan telah dengan jelas menunjukkan konsekuensi membakar bahan bakar fosil, emisi karbon justru meningkat 50% sejak laporan pertama IPCC pada 1990.
Baca Juga: Diguncang Gempa, Puluhan Rumah di Bengkulu Rusak
“Kita bahkan belum berjalan ke arah yang benar, apalagi bergerak dengan kecepatan yang diperlukan,” tulisnya.
Bahkan jika dunia berhasil mencapai emisi nol-bersih (net-zero), sejumlah aspek iklim — seperti suhu laut — akan terus berubah selama berabad-abad karena pemanasan yang sudah "terkunci".
Untuk kembali ke bawah 1,5°C, kita perlu mencapai emisi negatif (net-negative emissions) — artinya menghilangkan lebih banyak karbon dari atmosfer daripada yang kita hasilkan. Ini tantangan yang belum pernah dihadapi umat manusia sebelumnya.
Tanda-Tanda Harapan Masih Ada
Meski situasi iklim global kian mengkhawatirkan, perubahan masih mungkin. Energi terbarukan kini berkembang pesat di berbagai belahan dunia.
Sejumlah negara berhasil menurunkan konsumsi bahan bakar fosil, sementara sektor-sektor pencemar seperti penerbangan dan konstruksi mulai menunjukkan perlambatan dalam laju pertumbuhan emisinya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Desil Tak Akurat Bisa Bikin Warga Kehilangan Hak Bansos!
- Dilaporkan ke Bareskrim Polri, Gus Lilur Tantang 4 Tokoh NU Ngaji Kitab Kuning Saat Muktamar
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 7 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Dua Sepeda Motor yang Dibakar Massa di Pos Polisi Pejompongan Diduga Milik Intel
-
Sepeda Motor Dibakar Dekat Pos Polisi Pejompongan, Bentrok Pecah
-
Tolak MBG dan Kopdes, FMN: Anggaran Hanya Lari ke Prabowo dan Kroni-kroninya!
-
AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
-
Kecewa Ditinggal Begitu Saja, Ojol Jakarta Murka Massa Pati Langsung Pulang Usai dari DPR
Terkini
-
Update KRL Malam Ini: Rute Rangkasbitung Direkayasa Akibat Massa Aksi DPR di Jalur Rel
-
Siapa Owner Vindes Corp Sekarang? Desta Resmi Umumkan Mundur
-
6 Sunscreen Indomaret untuk Flek Hitam dan Mencerahkan Wajah sesuai Review
-
Surat Al Kahfi Ayat 1-10 Lengkap Tulisan Arab, Latin, dan Artinya: Simak Waktu Terbaik Membacanya
-
Anime A Pen, Handcuffs, and a Common-Law Marriage Resmi Tayang Januari 2027
-
Dua Sepeda Motor yang Dibakar Massa di Pos Polisi Pejompongan Diduga Milik Intel
-
Desil Bansos Bikin Gaduh, 81 Tahun Merdeka tapi Data Kemiskinan Masih Kacau
-
Pidato Prabowo di Muktamar NU: Percaya Saya, Indonesia akan Bangkit Tak Ada yang Bisa Bendung
-
Demo 27 Agustus di DPR, Massa Desak RUU Perampasan Aset Segera Diketok
-
Imbas Demo di DPR, Jasa Marga Imbau Hindari Ruas Tol Dalam Kota, Ini Pengalihan Rute Tol