Suara.com - Di tengah peta konflik global yang kian rumit, ada satu titik sempit di perairan Teluk Persia yang memegang takdir ekonomi dunia di ujung tanduknya yakni Selat Hormuz. Jalur air strategis yang diapit oleh Iran dan Oman ini bukanlah sekadar selat biasa.
Selat Hormuz adalah urat nadi utama, jalur paling vital bagi distribusi energi global. Setiap kali ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, memanas, satu ancaman pamungkas selalu muncul ke permukaan—ancaman penutupan Selat Hormuz.
Bagi banyak orang, ini mungkin terdengar seperti isu geopolitik yang jauh. Namun, jika Teheran benar-benar nekat menekan "tombol nuklir ekonomi" ini, dampaknya akan terasa seperti tsunami yang menghantam setiap sudut dunia, termasuk langsung ke dompet masyarakat di kota-kota besar Indonesia.
Untuk memahami skala bencananya, kita harus melihat angka. Sekitar 21 juta barel minyak per hari, atau setara dengan 21% dari konsumsi minyak global, melewati Selat Hormuz. Ini adalah jalur utama bagi ekspor minyak dari raksasa energi seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.
Menutup jalur ini sama saja dengan memotong suplai seperlima minyak dunia dalam sekejap.
Seorang analis keamanan energi memberikan gambaran betapa cepatnya krisis ini akan melumpuhkan dunia. Menurutnya, ini bukan lagi soal kenaikan harga, melainkan soal kelumpuhan total.
"Penutupan Selat Hormuz oleh Iran bukanlah sekadar isu regional, itu adalah tombol detonator bagi krisis ekonomi global. Kita tidak hanya bicara soal harga minyak yang melonjak 200-300% dalam 24 jam, tapi soal runtuhnya rantai pasok, kepanikan pasar finansial, dan eskalasi militer yang hampir pasti tak terhindarkan. Bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia, dampaknya akan terasa langsung di setiap SPBU dan pasar dalam hitungan hari," ungkap Dr. David Suroyo, Analis Keamanan Energi dari Global Strategic Institute, dalam sebuah webinar tentang keamanan energi global, (5/6/2025).
Pernyataan tersebut melukiskan tiga tahap kiamat ekonomi yang akan terjadi. Tahap pertama adalah kepanikan pasar energi. Harga minyak mentah dunia, seperti Brent dan WTI, akan langsung melesat ke level yang belum pernah terbayangkan, mungkin menembus $250 hingga $300 per barel.
Bagi Indonesia, negara yang statusnya adalah net importir minyak, ini adalah bencana. Anggaran subsidi BBM dalam APBN akan jebol seketika.
Baca Juga: Buntut AS Ikut Lakukan Serangan, Pemerintah Prioritaskan Keamanan WNI dari Konflik Iran-Israel
Pemerintah akan dihadapkan pada pilihan neraka: membiarkan harga pertalite dan solar meroket tiga hingga empat kali lipat, atau menanggung beban subsidi yang bisa menguras habis kas negara.
Tahap kedua adalah keruntuhan ekonomi makro. Lonjakan harga energi akan memicu inflasi liar. Biaya logistik untuk mengangkut bahan pangan dan barang kebutuhan pokok akan membengkak, yang artinya harga mie instan, beras, hingga ongkos transportasi umum akan ikut meroket.
Perusahaan yang bergantung pada bahan bakar dan listrik murah akan terancam bangkrut, memicu gelombang PHK massal. Pasar saham di seluruh dunia akan anjlok karena investor melarikan diri dari ketidakpastian.
Tahap ketiga, dan yang paling berbahaya, adalah eskalasi militer. Amerika Serikat, yang telah mendeklarasikan bahwa keterbukaan Selat Hormuz adalah kepentingan vital nasionalnya, tidak akan tinggal diam.
Armada Kelima Angkatan Laut AS yang berbasis di Bahrain akan dikerahkan untuk membuka paksa selat tersebut. Ini berarti perang terbuka antara AS dan sekutunya melawan Iran.
Sebuah konflik yang tidak hanya akan menghancurkan fasilitas minyak di Timur Tengah, tetapi juga berpotensi meluas menjadi perang regional atau bahkan global yang jauh lebih mengerikan.
Tag
Berita Terkait
-
Konflik AS dan Iran Guncang Pasar Kripto, Bitcoin Sentuh Level Terendah Sejak Mei
-
Selat Hormuz Mau Ditutup Iran, Pasokan Minyak Mentah Pertamina Aman?
-
Buntut AS Ikut Lakukan Serangan, Pemerintah Prioritaskan Keamanan WNI dari Konflik Iran-Israel
-
Harga Minyak Naik, Rupiah Melemah: Awas Harga BBM Bisa Melambung Tinggi!
-
Amerika Serang Iran, Maskapai Tutup Rute Penerbangan Timur Tengah
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
Terkini
-
Profil Andy Burnham Calon PM Inggris: Penganut Manchesterism yang Diteriaki Bukan Messiah
-
Tangis Tertahan Keir Starmer: Mundur sebagai PM Inggris, Tekanan Partai Jadi Pemicu
-
Babak Baru Kasus Ijazah Jokowi: Roy Suryo dan dr Tifa Segera Disidang di PN Jakarta Timur!
-
Akses KRL ke JIS Sudah Aktif: Ini Rute dan Jam Operasionalnya!
-
Niat ke Lombok Malah Dibuang ke Terminal Bayangan, WNA Uzbekistan Terlunta-lunta Ditipu Taksi Gelap
-
Ungkap Alasan Vonis 8 Tahun Bos Grup BJU Hendarto, Hakim: Hasil Korupsi Dipakai Judi!
-
KPK Incar 'Pemain' Lain di Skandal Korupsi MBG
-
Terancam 5 Tahun Bui Tapi Tak Ditahan, Eggi Sudjana: Ada 'Tangan' Politik di Kasus Roy Suryo!
-
Ancol Kaji Hapus Tiket Per Orang, Siapkan Skema 'Special Zone' Berbasis Parkir
-
Tok! Bos BJU Divonis 8 Tahun Penjara di Kasus Korupsi LPEI