Suara.com - Proyek penulisan ulang sejarah nasional yang tengah digarap pemerintah dinilai berpotensi terlalu menglorifikasi masa pemerintahan orde baru di bawah kepemimpinan Presiden ke-2 Soeharto.
Sejarawan senior, Asvi Warman Adam menyatakan meski proyek itu telah diklaim mencapai 80 persen, namun publik hingga kini belum mengetahui secara jelas perubahan apa saja yang telah dilakukan. Ia khawatir adanya penghilangan aspek-aspek penting dalam sejarah Indonesia yang berdampak besar secara internasional.
"Mereka mengatakan itu sudah 80 persen, tapi kita kan tidak tahu yang berubah itu apa. Tapi kalau dari konsep bulan Januari itu terlihat betul itu membesar-besarkan jasa orde baru ya, Soeharto, yang penuh dengan pembangunan di berbagai bidang," kata Asvi kepada Suara.com, dihubungi Selasa (1/7/2025).
Lebih lanjut, Asvi memperingatkan bahwa narasi sejarah yang disusun tanpa keseimbangan akan menyesatkan generasi muda. Ia mencontohkan bagaimana pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat yang terjadi pada 1965 dan 1968 justru berpotensi disamarkan jika hanya menonjolkan keberhasilan ekonomi Orde Baru.
Dampak dari tindakan itu, kata Asvi, akan membuat generasi muda mendapatkan informasi yang keliru terhadap sejarah.
"Hal-hal yang terjadi pada masa lalu mestinya diketahui oleh generasi muda. Misalnya pelanggaran HAM berat yang terjadi pada tahun 1965, yang terjadi pada tahun 1968 itu kan harus diketahui oleh generasi muda gitu. Supaya itu tidak terulang lagi," tegasnya.
Kekhawatiran serupa disampaikan sejarawan Asep Kambali. Ia menilai proses penulisan ulang sejarah yang dilakukan secara tertutup dan tanpa pelibatan luas komunitas sejarawan berpotensi besar menjadi alat politik kekuasaan.
"Kekhawatiran itu sangat beralasan. Bila penulisan ulang sejarah dilakukan secara tergesa-gesa dan tertutup, apalagi diklaim mendekati rampung tanpa pelibatan luas komunitas sejarawan, maka patut dicurigai ada kepentingan politik di baliknya," ujar Asep.
Ia menekankan pentingnya menjadikan sejarah sebagai alat pendidikan, bukan propaganda. Menurutnya, sejarah versi negara cenderung menyederhanakan kompleksitas masa lalu dan menghapus sisi-sisi gelap demi membangun citra ideal penguasa saat ini.
Baca Juga: Tudingan Beathor ke Jokowi Dinilai Keji, Hensa: Masa UGM Nyetak Ijazah di Pasar Pramuka? Itu Bahaya!
"Sejarah versi negara seringkali melupakan kompleksitas dan menghapus sisi-sisi gelap masa lalu demi membangun narasi ideal masa kini. Ini berbahaya, karena bangsa yang besar justru adalah bangsa yang berani mengakui luka-lukanya dan belajar darinya," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Tudingan Beathor ke Jokowi Dinilai Keji, Hensa: Masa UGM Nyetak Ijazah di Pasar Pramuka? Itu Bahaya!
-
Viral Detik-detik Polisi Gerebek Pesta Gay di Puncak Bogor, Puluhan Pria Tertangkap Telanjang Bulat!
-
Imbas Isu Pemakzulan, Rocky Gerung: Gibran dan Jokowi Diolok-olok Anak SD
-
Tak Layak jadi Ban Serep Prabowo, Ikrar Nusa Bhakti Bongkar Ketidakbecusan Gibran Jabat Wapres
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Jelang Demo Mahasiswa Hari ini, 21 Orang Bawa Bom Molotov Ditangkap Polisi
-
Rumah Susanah yang Diklaim Prabowo Pengupas Bawang Mendadak Dipasang Garis Polisi
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
Terkini
-
IHSG Betah di Level 6.400 pada Sesi I, Saham INET Melesat
-
78 Tahun Berkarya, OT Group Gelar Upacara Kemerdekaan Demi Wujudkan Semangat Kebangsaan
-
7 Cara Mengatasi Shio Ciong Tahun Ini agar Tetap Aman dan Beruntung
-
11 Calon Hakim Agung dan 3 Cakim Ad Hoc Disahkan DPR, Ini Daftar Namanya
-
Respons Bencana NTT, DPR RI Kirim Perwakilan dan Siapkan Langkah Darurat
-
Eliano Reijnders Tak Mau Santai Usai Bela Timnas Indonesia, Bali United Jadi Sasaran Berikutnya
-
BRI Eco Culture Market 2026 Bali: Perkuat Daya Saing UMKM Lokal, Makin Dikenal Wisatawan Global
-
Jangan Terkecoh Visual! Pengamat Ungkap Makna di Balik Momen Mesra Jokowi-Prabowo
-
Menggugat Pendekatan Reaktif Pemerintah Atasi Karhutla
-
Pramono Anung Tekankan Sinergi Ulama-Umara demi Jakarta yang Kondusif dan Modern