Suara.com - Para guru sekolah swasta di Jawa Barat kini tengah dilanda kepanikan hebat. Mereka menyalahkan Penjabat (Pj) Gubernur Dedi Mulyadi atas kebijakan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang dinilai mengancam keberlangsungan hidup sekolah mereka.
Kebijakan yang memperbolehkan sekolah negeri menambah kuota siswa hingga 50 orang per kelas dianggap sebagai biang keladi utama. Akibatnya, banyak sekolah swasta yang sepi peminat, bahkan terancam tidak mendapatkan siswa baru sama sekali pada tahun ajaran ini.
Seorang guru dari Cirebon, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengungkapkan kekhawatirannya. Menurutnya, kebijakan Dedi Mulyadi ini bisa mematikan sekolah-sekolah swasta secara perlahan.
"Kebijakan ini sangat merugikan kami. Bagaimana sekolah swasta bisa bertahan jika semua siswa ditampung di sekolah negeri? Ini bisa membuat kami gulung tikar," keluhnya dikutip, Senin (7/7/2025).
Ia menambahkan bahwa banyak orang tua yang sebelumnya sudah mendaftar di sekolah swasta kini berbondong-bondong menarik berkas pendaftaran. Mereka memilih untuk kembali mendaftar ke sekolah negeri setelah adanya kebijakan penambahan kuota tersebut.
"Banyak orang tua yang tadinya sudah pasti masuk ke tempat kami, sekarang malah mencabut berkas. Mereka berharap bisa masuk negeri dengan aturan baru ini," ungkapnya dengan nada cemas.
Para guru swasta merasa Dedi Mulyadi tidak mempertimbangkan nasib mereka saat membuat keputusan. Mereka berharap ada solusi yang adil agar sekolah swasta tidak menjadi korban dari kebijakan yang hanya berfokus pada sekolah negeri.
Gubernur Dedi Mulyadi disebut menaikkan jumlah rombongan belajar (rombel) di sekolah negeri. Jumlah siswa yang tadinya maksimal 36 orang, ditingkatkan menjadi 50 orang.
Menurut Dedi Mulyadi, Negara meminta rakyatnya untuk sekolah, maka sudah menjadi tugas pemerintah menyediakan fasilitas dan kemudahan untuk warganya mendapat pendidikan.
Baca Juga: Sekolah Swasta di Jawa Barat Terancam Bubar, Gegara Kebijakan Gubernur Dedi Mulyadi?
“Negara tidak boleh menelantarkan warganya, sehingga tidak bersekolah, jangan sampai warga mendaftar capek-capek ingin sekolah, tapi negara tidak memfasilitasi, maka saya sebagai Gubernur Jabar bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak di Jabar, saya tidak menginginkan anak-anak Jabar putus sekolah,” ujar Dedi.
Menurut Dedi, dalam kebijakannya maksimal 50 siswa dalam satu rombel, berarti setiap kelas bisa menerima 30, 35 atau 40 siswa.
Pertimbangan penambahan rombel itu, kata dia, berdasarkan ketersediaan sekolah di suatu daerah dan kemampuan ekonomi warganya.
Berita Terkait
-
Sekolah Swasta di Jawa Barat Terancam Bubar, Gegara Kebijakan Gubernur Dedi Mulyadi?
-
Dedi Mulyadi Izinkan Kelas 50 Siswa di Jabar, P2G: Kualitas Pendidikan Bisa Hancur!
-
Membongkar Akar Konflik Wagub Erwan dan Sekda Herman: Berebut Kewenangan atau Ada yang Lain?
-
Dedi Mulyadi Dobrak 'Aturan' Kelas 50 Siswa di SMA/SMK Negeri, Demi Pemerataan Pendidikan?
-
Dedi Mulyadi Lantik Pejabat Pemprov Jabar di Kolong Tol Cileunyi, Tuai Pro dan Kontra
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Kebakaran Empat Lawang, 20 Rumah Terdampak dan Kerugian Tembus Rp5,2 Miliar
-
3 Pelaku Begal Polisi di Palembang Ternyata Ayah, Anak dan Seorang Perempuan
-
Jadi Ojek Pangkalan, Polisi di Palembang Ditusuk 4 Kali dan Motornya Dibawa Kabur Begal
-
Kemiskinan Sumsel Turun, Garis Kemiskinan Naik 3,15 Persen Jadi Rp628 Ribu Per Bulan
-
Kasus Iklan BJB, Ada Dugaan Aliran Dana ke Lisa Mariana Lewat Pihak Nominee
-
KPK Tahan Bos-Bos Iklan Bank BJB, Dirut Yuddy Renaldi Mendadak Sakit Saat Akan Dibui
-
BRI Beri Diskon Spesial Seminar Johnny Andrean Lewat Aplikasi BRImo
-
Menuju IFRC 2026, ERT NHM Perdalam Teknik dan Strategi Penyelamatan
-
Gelar Dicopot! Profil Menantu Sultan Brunei yang Bikin Penasaran Publik, Ternyata Ini Kasusnya
-
PSSI Murka! Justin Hubner dan Keluarga Jadi Sasaran Ancaman, Publik Diminta Hentikan Serangan