Suara.com - Menteri Koperasi dan UKM, Budi Arie Setiadi, melayangkan ultimatum keras kepada puluhan ribu Koperasi Merah Putih yang baru diluncurkan. Ia menegaskan agar koperasi-koperasi tersebut tidak hanya menjadi 'papan nama' atau ada di atas kertas, melainkan harus benar-benar menjadi solusi ekonomi di tengah masyarakat.
Peringatan ini disampaikan Budi Arie sebagai tindak lanjut dari program ambisius Presiden Prabowo Subianto yang telah meluncurkan 80.000 koperasi di seluruh desa.
Dalam peringatan Hari Koperasi Nasional ke-78 di Tangerang Selatan, Kamis (24/7/2025), Budi Arie secara gamblang meminta agar koperasi-koperasi baru ini benar-benar hidup, beroperasi, dan dikelola secara profesional.
"Bukan hanya ada di atas kertas, tapi benar-benar hadir sebagai solusi di tengah masyarakat," tegas Budi Arie.
Ia mendorong agar koperasi benar-benar berdampak pada perekonomian warga, bukan sekadar entitas yang ada secara administratif.
Menyadari tantangan yang ada, Budi Arie memastikan bahwa Kementerian Koperasi tidak akan lepas tangan. Pihaknya akan memberikan pendampingan penuh kepada para pengelola koperasi untuk menggali potensi bisnis di daerah masing-masing.
"Kementerian Koperasi akan memberikan pendampingan untuk menggali potensi yang ada di desa sehingga menjadi wadah kemandirian ekonomi rakyat," janjinya.
Ia menyarankan agar setiap koperasi memetakan kebutuhan masyarakat sekitar yang bisa dijadikan sebagai lini bisnis.
"Ini yang akan menjadi peluang bisnis bagi koperasi itu sendiri. Koperasi untung, dan warga mendapatkan kebutuhan dengan lebih mudah dan murah," jelasnya.
Baca Juga: Momen Prabowo Sindir Tukang Kritik 'Omon-omon' di Panggung PKB: Enak Aja, Nggak Keringetan
Bagian dari Program Ambisius Prabowo, Targetnya Potong Rantai Distribusi
Budi Arie meyakini, kehadiran 80.000 koperasi yang diluncurkan Presiden Prabowo di Klaten beberapa waktu lalu adalah sebuah lompatan besar untuk membangkitkan kembali semangat ekonomi gotong royong.
Menurutnya, program ini dirancang untuk tujuan yang lebih besar, yaitu memotong rantai distribusi yang selama ini dinilai merugikan masyarakat kecil.
"Koperasi desa tidak hanya akan menjadi wadah usaha masyarakat, tetapi juga menjadi simpul utama distribusi kebutuhan pokok, pemberdayaan petani dan nelayan, serta pemotong rantai distribusi," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Merawat Koperasi agar Berdaya Melampaui Dinamika Politik
-
Ribuan Orang di Dunia Jadi Korban Phishing Kratos, Pengelola Dibekuk di Pontianak
-
Usia 35 Tahun Sudah Punya 5 SPBU, Herman Deru Ungkap Kebiasaan yang Mengubah Hidupnya
-
Terkuak! Pengemudi Alphard Arogan ke Satpam di Bundaran HI Ternyata Anggota Polda Jabar
-
Napi Kasus Narkoba Pekanbaru Kabur saat Berobat, Petugas Pengawal ke Mana?
-
Hinca Panjaitan Sebut Perkara Kredit Tak Layak Diproses sebagai Korupsi
-
Mahfud MD Bantah Kejagung soal Febrie: Tak Pernah Ada Pelimpahan Kasus Asabri dari Polisi
-
Mengenal Profesi Mixologist, Peracik Minuman yang Kini Makin Diburu Industri F&B
-
Minta Rp4 Juta lalu Sita HP Korban! Modus Polisi Gadungan Terbongkar di Banyumas
-
Indonesia Masih Bergantung pada Obat Impor, Kemandirian Farmasi Jadi Tantangan