Suara.com - Di panggung politik Indonesia yang tak pernah sepi dari drama, sebuah pertanyaan tajam kini mengusik ketenangan salah satu kritikus paling vokal, Rocky Gerung.
Adalah Guru Gembul, pengamat sosial-politik yang juga dikenal dengan analisisnya yang mendalam, yang menyalakan sorotan ke arah Rocky.
Ia menuding sang filsuf telah kehilangan taji kritisnya, terutama saat berhadapan dengan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sebuah sikap yang kontras 180 derajat dibanding saat era Joko Widodo.
Kritik Guru Gembul berpusat pada sebuah inkonsistensi yang menurutnya sangat mencolok. Ia mengingatkan kembali bagaimana Rocky Gerung dulu dengan gagah berani membela rentetan kritiknya terhadap Jokowi.
"Jadi dulu Pak Rocky Gerung itu dikritik. Kenapa mengkritik Pak Jokowi terus? Dia bilang, 'Ya, saya tidak mengkritik Jokowi. Saya mengkritik Presiden sebagai penguasa'," ujar Guru Gembul, mengulang kembali argumen ikonik Rocky.
Namun, logika yang sama kini seolah tak berlaku. "Tapi kan sekarang terbukti terhadap penguasa yang sekarang tidak mengkritik," sambungnya dengan nada mempertanyakan. Menurut Guru Gembul, perubahan ini bukan sekadar soal gaya, melainkan substansi yang mengarah pada keberpihakan.
Puncak dari kegelisahan Guru Gembul adalah pernyataan Rocky yang ia kutip, di mana Rocky seolah tak menemukan alasan untuk mengkritik presiden saat ini.
"Bahkan kadang-kadang beliau kalau tidak salah pernah mengatakan, 'Saya tidak menemukan celah untuk mengkritik Pak Prabowo dan bahwa Pak Prabowo itu ada di jalan yang benar.'"
Kalimat inilah yang menjadi amunisi utama Guru Gembul untuk menelanjangi apa yang ia sebut sebagai tendensi personal.
Baca Juga: Roy Suryo Bongkar Sinyal 'Warna Biru' di Balik Isu Ijazah Jokowi, Sebut Ada Upaya Adu Domba
"Lontaran itu kan dihadapkan pada penguasa. Dulu juga terhadap penguasa, tapi dulu penguasanya galak banget. Sekarang pada penguasa yang baik banget," tegasnya.
Analisis ini secara gamblang menuduh bahwa kritik Rocky tidak lagi murni berbasis pada evaluasi kebijakan, melainkan pada sentimen personal terhadap sosok yang berkuasa.
"Artinya apa? ya, penegasan bahwa dalam hal ini Pak Rocky itu ada tendensi, ada keberpihakan dan beliau mengkritik orang yang tidak berpihak padanya dan menolak kritik pada orang yang berpihak dengannya atau sepihak dengannya. Itu kan kesimpulannya," ujar Guru Gembul.
Bagi Guru Gembul, kritik adalah sebuah keniscayaan dalam demokrasi yang sehat, sebuah prinsip yang seharusnya dipegang teguh oleh seorang intelektual tanpa pandang bulu. Ia bahkan menggunakan dirinya sebagai contoh untuk menggarisbawahi poin penting ini.
"Makanya sekali lagi kalau kalau misalkan prinsip saya misalkan gini ya, saya tuh misalkan pro terhadap Pak KDM, tapi saya tetap berani mengkritiknya karena apa? Ya karena kritik itu adalah sesuatu yang dibutuhkan dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan permusuhan," jelasnya.
Baginya, kritik bukanlah manifestasi dari kebencian. "Karena kritik itu bukan sesuatu yang buruk. Kritik itu dalam artian bukan wujud dari kebencian ya. Itu sama aja dengan pertemanan dan lain sebagainya gitu."
Pertanyaan yang menggantung di udara, yang dilontarkan Guru Gembul untuk publik, khususnya bagi audiens muda di kota-kota besar yang selama ini menjadikan Rocky Gerung sebagai ikon "akal sehat", kini menjadi sangat relevan.
"Bisakah Pak Rocky Gerung juga menunjukkan itu? Tapi kan sekarang nampaknya tidak," kata Guru Gembul.
Berita Terkait
-
Roy Suryo Bongkar Sinyal 'Warna Biru' di Balik Isu Ijazah Jokowi, Sebut Ada Upaya Adu Domba
-
4 Jurus Damai Kaesang Sikapi Serangan ke Jokowi
-
Sebut Dua Nama Tokoh Ini, Kaesang Tepis Isu 'Perang Dingin' di Balik Serangan Ijazah Palsu Jokowi
-
Teka-Teki 'J' dari Kaesang di Pucuk PSI
-
Gaya Jokowi di Reuni UGM Disorot Roy Suryo: Nggak Berani Pakai Kaos Biru, Masih Shock Jadi Pejabat
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
Terkini
-
Aksi Copet di Tengah Zikir Monas: iPhone 13 Wartawan dan Dompet Jemaah Lenyap
-
Danantara Akui Banyak Masalah Luar Biasa Besar di BUMN, Janji Bereskan Utang Kereta Cepat
-
Satu Tahun Sekolah Rakyat, Ratusan Siswa Torehkan Prestasi
-
Taruna Bhakti Sekolah Rakyat Resmi Dimulai, Gus Ipul: Jadi Fondasi Bentuk Karakter Siswa
-
Apa Arti Kota Global Jika Betawi Kehilangan Akar? FBR Tagih Pergub Lembaga Adat ke Pramono
-
Danantara: Seluruh BUMN Properti Dalam Kondisi Tidak Baik, Akan Dikonsolidasikan
-
Kesukseskan Pemberantasan Judol Tak Hanya dari Turunnya Nominal Transaksi
-
Dukung Program Prioritas Presiden, Mendagri Tito Groundbreaking Sekolah Rakyat Kabupaten Biak Numfor
-
Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan 1 hingga 31 Agustus 2026 di Riau
-
Aston Villa Bungkam Indonesia All Stars 3-1 di GBK, Arkhan Kaka Cetak Gol Penghibur